Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #26

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Ketika masih di Mekkah periode kedua, kabar kemasyhuran keilmuan Kiai Hasyim Asy’ari sudah sampai ke telinga kaum pesantren di Jawa dan Madura, bahkan Nusantara. Sudah banyak santri bahkan kiai mengantri ingin belajar kepada beliau, minimal mengambil sanad hadis yang beliau dapatkan dari guru-gurunya di Mekkah khususnya dari Syaikh Mahfudz at Tarmasi.

Bahkan belum pulang pun, sudah banyak calon santri, di antara mereka putra-putra kiai, datang ke Pesantren Keras, menemui Kiai Asy’ari, untuk menanyakan kapan Kiai Hasyim datang. Kemasyhuran Gus Hasyim muda menusantara. Termasuk di antara yang mengantri adalah Gus Wahab, putra Kiai Hasbullah Said Tambakberas. Tak heran, sampai banyak sekali putra penggede memondokkan putranya di Tebuireng.

Hal itulah yang membuat Kiai Muhammad Kholil Bangkalan, kiai legendaris yang merupakan guru dari banyak ulama, seperti Kiai Ma’shum Lasem (ayah dari Kiai Ali Maksum Krapyak), Kiai Wahab Chasbullah Jombang, Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo, Kiai Bisri Syansuri Jombang, Kiai Munawwir Krapyak, dan termasuk juga Kiai Hasyim Asy’ari, mendatangi mantan muridnya ke Tebuireng, Jombang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tentu saja kunjungan ini mengejutkan Kiai Hasyim Asy’ari. Dalam tradisi pesantren, tidak ada istilah “mantan santri”. Sampai akhir hayat, Kiai Kholil adalah guru bagi Kiai Hasyim. Apalagi Kiai Hasyim cukup lama nyantri di Kademangan, sekitar 5 tahun, antara 1886-1890.

Untuk itulah segala hal dipersiapkan di Pondok Pesantren Tebuireng untuk menyambut tamu istimewa ini. Dikiranya kunjungan ini hanya silaturahmi biasa. Namun, pada kenyataannya Kiai Kholil tidak sekadar berkunjung, melainkan ingin belajar kepada Kiai Hasyim yang memang sudah dikenal reputasinya sebagai ahli hadis, tidak hanya di Nusantara, melainkan sudah diketahui se-dunia.

Begitu Kiai Kholil datang ke Tebuireng, beberapa santri segera diperintah Kiai Hasyim untuk mempersiapkan kamar khusus untuk Kiai Kholil. Setelah semua persiapan beres, Kiai Hasyim dengan takdzim segera mendekat ke Kiai Kholil. Terjadilah dialektika manis nan indah antara guru dan murid. Cerminan ketawadhuan ulama-ulama kita, tidak ada yang berebut menjadi kiai, tidak juga merasa harus di-wong-kan.

“Kiai, mohon istirahatnya di kamar yang sudah dipersiapkan. Tidak usah tidur seperti santri-santri yang lain. Cuciannya juga nanti biar dicucikan, jangan mencuci sendiri,” kata Kiai Hasyim.

Dengan tersenyum Kiai Kholil membalas, “Hasyim, di sini saya datang sebagai santri sebagaimana santri yang lain. Jadi janganlah kamu istimewakan dan pisahkan dengan santri-santri yang lain. Di Pesantren Bangkalan, benar memang aku ini kiai kamu, kamu santriku, tapi di sini sebaliknya, kamu sekarang kiaiku dan aku ini santrimu.”

“Tapi, Kiai…” kata Kiai Hasyim kebingungan.

Membayangkan Kiai Kholil yang merupakan gurunya sendiri akan tidur bersama para santrinya, tentu saja Kiai Hasyim tidak tega plus merasa suul adab. Meskipun Kiai Kholil sudah mengeluarkan perintah untuk tidak menganggapnya sebagai guru di Pesantren Tebuireng, tapi bagi Kiai Hasyim, mau di manapun, Kiai Kholil adalah kiainya tidak peduli tempat atau tidak peduli status pada saat keduanya bertemu kali ini.

Setelah berpikir keras, akhirnya Kiai Hasyim punya ide. Ia datangi kembali Kiai Kholil di kamarnya.

“Kiai Kholil,” kali ini Kiai Hasyim mengeluarkan suara sedikit tegas dan keras.

“Apakah benar saya dianggap Kiai sebagai guru?” tanya Kiai Hasyim.
Kiai Kholil awalnya bingung, “Iya memang benar. Kamu adalah guru saya,” balas Kiai Kholil.

“Kalau begitu saya perintahkan Kiai Kholil untuk meninggalkan kamar ini dan segera pindah ke kamar yang sudah dipersiapkan. Berikut juga dengan makanan Kiai Kholil akan diantarkan ke kamar. Jadi Kiai Kholil tidak perlu ikut antri bersama santri yang lain, cucian juga akan dicucikan, tidak perlu antri kamar mandi. Ini bukan permintaan seorang santri kepada kiainya, tapi perintah seorang kiai kepada santrinya,” kata Kiai Hasyim.

Mendengar itu Kiai Kholil terkejut, lalu berdiri dan menuruti perintah “guru”-nya. Sungguh indah bukan. Ditambah lagi, saat turun dari masjid setelah mengaji, Kiai Kholil dan Kiai Hasyim berebut menatakan sandal. Kiai Kholil ingin menatakan sandal Kiai Hasyim yang sudah diakui saat itu menjadi gurunya, begitu sebaliknya, Kiai Hasyim ingin menatakan sandal Kiai Hasyim yang sampai kapanpun merupakan guru yang tak tergantikan.

Akhirnya rebutan itu dimenangkan Kiai Hasyim. Sejak itu, selama ngaji pasaran hadis di Tebuireng, yang menatakan sandal Kiai Kholil adalah Kiai Hasyim. Dan setiap hari itu pula para santri dipertontonkan keindahan dialektika indah guru-murid. Beruntung sekali santri-santri itu, melihat teladan dengan mata kepala langsung, sebuah peristiwa yang bisa menjadi contoh pedoman hidup, bahwa guru-murid harus punya etika masing-masing, dan tidak ada yang harus dimantankan, baik murid atau guru, dalam keadaan apapun.

Kiai Hasyim belajar gramatika Arab secara mendalam di Kademangan, pesantren asuhan Kiai Kholil. Sebaliknya, Kiai Kholil belajar hadis kepada Kiai Hasyim di Tebuireng. Peristiwa ini tanpa tahun dijelaskan, tetapi sepertinya antara tahun 1920-1925, usianya hampir 90 tahun saat itu, karena beliau meninggal tahun 1925 dalam usia cukup sepuh, 104/105 tahun.

Jadi, saat dialetika antara guru-murid tersebut terjadi lagi jelang pendirian Nahdlatul Ulama, antara 1924-1925, Kiai Kholil sudah sebentar lagi mendekati wafat. NU adalah warisan dan amanah terakhir sang guru kepada si murid untuk diperjuangkan dan dijaga. Karena NU belum berdiri, Kiai Kholil sudah keduluan kapundut oleh Allah SWT.

Dialek itu tidak hanya tatapan fisik, tapi juga spiritual, di mana tongkat, tasbih, dan wirid bisa menjadi interaksi yang dipahami satu sama lain. Kalau kedua hati tidak tersambung secara batin, tidak mungkin dapat dilakukan. Interaksi jarak jauh, dengan seorang Lora As’ad Samsul Arifin sebagai penghubung, bisa menciptakan isyarat dibentuknya organisasi ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang kelak menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia dan turut mengisi perjuangan keislaman dan kebangsaan.

Dialog yang terjadi fisik dan non-fisik ini sebenarnya sudah sangat biasa terjadi di kalangan kiai-santri pesantren. Selain belajar mengajar tatap muka di majlis, Kiai selalu hadir dalam kehidupan santrinya dengan doa-doa dan Al-Fatihahnya. Setiap selesai shalat kiai selalu mendoakan santrinya. Santri juga kalau bisa mendoakan kiainya, walau telah wafat.

Begitulah teladan kiai-kiai pendahulu kita, patut untuk kita teladani. Status, kedudukan, tetap dapat memanusiakan manusia. Tingkat tawaduk tingkat tinggi. Tidak mudah dapat menerima kenyataan bahwa kita sekarang berada pada tingkatan di bawah. Misalkan seperti Kiai Kholil, seorang kiai besar, muridnya banyak dari mana-mana malah andap asor di depan muridnya sendiri. Kalau egosentrisnya tinggi tidak mungkin dapat dilakukan.

Fenomena sekarang, banyak orang-orang meng-kiai-kan sendiri, mengunggulkan nasab-nasabnya, seperti tidak ada langit di atas langit, seperti bumi tidak berlapis. Sebaliknya banyak juga murid yang tidak hormat kepada gurunya, tidak andap asor, tidak tawaduk. Lalu bagaimana yang indah itu? Tawaduk dan rendah hati, merasa sebagai manusia yang penuh kekurangan, dalam keadaan apapun, kedudukan apapun, posisi apapun, sebagai guru ataupun murid.

Susah? Jelas susah. Penulis juga belum tentu bisa. Tapi alangkah baiknya kita terus mencobanya. Karena kecongkaan atas nama apapun, demi apapun, tetap bukan sifat yang baik, dan pasti berakhir tidak baik. Naudzubillah. Salam selalu belajar…

*Penulis adalah Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari.

SebelumnyaJalan Panjang Mewujudkan Kesetaraan Gender
BerikutnyaPermata Impian