Berbagai Kemaslahatan dalam Tradisi Lebaran Ketupat

Sumber foto: https://www.viva.co.id/indepth/sorot/928110-jejak-tradisi-lebaran-ketupat-tanah-jawa

Oleh: Silmi Adawiya*

Setelah menjalani bulan Ramadan dan dilanjutkan dengan hari raya Idul Fitri, kini umat Islam di Indonesia akan menjalani Hari Raya Ketupat atau dalam bahasa Jawa biasa disebut Riyoyo Kupatan atau Lebaran Ketupat yang dilaksanakan satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Perayaan tersebut bertendensi pada hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Dari hadis tersebut muslim di Indonesia memandang perlu adanya perayaan Hari Raya Ketupat, sebagai rasa syukur setelah berpuasa Ramadan dan enam hari di bulan Syawal. Karenanya Hari Raya Ketupat ini akan terasa istimewanya bagi muslim yang sempurna menunaikan puasa Ramadan dan Syawal.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hari raya ketupat merupakan hasil produk masyarakat muslim Indonesia. Dalam literasi dunia Islam hanya ada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Berdasarkan sejarahnya, hari raya ketupat ada sejak masa pemerintahan kerajaan Demak. Sedangkan yang memperkenalkan ketupat pertama kali adalah Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai-nilai keislaman. Dalam filosofi Jawa, ketupat merupakan kependekan dari Ngaku Lepat (mengakui kesalahan), dan terbuat dari janur yang kependekan dari Jatining Nur (simbol hati nurani)

Fenomena tersebut cukup menjadi bukti bahwa mereka ingin menjadi muslim yang baik dan pecinta Rasulullah SAW. Terbukti mereka yang lolos menjalankan ibadah wajib puasa di bulan Ramadan, zakat fitrah dan bertakbir sepanjang awal bulan Syawal,  mereka tetap melanjutkan puasa sunah di bulan Syawal. Tidak cukup sampai di situ, dengan merayakan Hari Raya Ketupat mereka mengakui kesalahan yang telah usai.

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan hakekat takbir yang sebenarnya, di mana hanya Allah lah Yang Maha Besar. Manusia adalah makhluk kecil yang banyak salah dan sepatutnya memohon ampun pada Allah dan saling memaafkan satu sama lain. Hari Raya Ketupat juga mencerminkan kegembiraan seseorang yang telah melewati puasa enam hari di bulan Syawal.

Hari raya ketupat merupakan salah satu budaya Islam di Indonesia yang berdampak positif yang perlu dilestarikan. Jika Hari Raya Idul Fitri identik dengan takbiran dan shalat Ied, maka Hari Raya Ketupat dikenal dengan sedekah estafet, yaitu setiap keluarga membuat ketupat dalam wadah besar lengkap dengan menu-menu makanan pelengkap yang beragam, untuk dimakan dan disedekahkan kepada kerabat dan penduduk kampung sekitranya. Di beberapa daerah ketupat disajikan dalam bentuk gunungan, yang diarak keliling kampung, semacam acara gerebekan. Gunungan ketupat itu nantinya akan jadi rebutan warga.

🤔  Lima Makna dan Filosofi Ketupat

Perayaan Hari Raya Ketupat juga mengandung nilai-nilai Maqashid Syari’ah. Pertama, hifdzu al-din yang diimplementasikan dengan menegakkan sendi-sendi keislaman dengan sedekah dan silaturahim, serta menjalankan sunah Rasulullah SAW dengan puasa Syawal.

Kedua, hifdzu al-mal yang mana Hari Raya Ketupat bisa menghidupkan perekonomian masyarakat sekitar. Dengan adanya kebutuhan ketupat, omset pengrajib bungkus ketupat juga naik, bahkan bisa jadi merupakan profesi musiman bagi mereka dan pekerja-pekerja mereka. Para penjual janur juga pasti ketiban rejekinya.

Ketiga, hifdzu al-nafs yang menjadikan setiap insan mempunyai kesempatan untuk berbagi. Minimal pada hari itu, selain tidak ada yang kelaparan dalam satu kampung itu, juga bisa jadi momen perbaikan gizi, di mana menu-menu yang disediakan biasanya beragam dan menambah gizi. Selain itu, terdapat asas persamaan, yaitu tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, semua tumpah ruah dan ikut makan ketupat bersama.

Selajutnya, keempat adalah hifdzu al-aql di mana pada hari itu otak manusia ternutrisi dengan baik, sehingga mampu memproteksi akal. Dan yang terakhir adalah hifdzu al-nasl yang secara tidak langsung dengan mengkonsumsi ketupat maka dapat menghasilkan hormon testosteron dan ovarium sehingga bagi yang sudah menikah dapat melangsungkan hubungan suami istri, dari hubungan tersebut merupakan esensi dari menjaga keturunan.

Dengan demikian hari raya ketupat bukanlah agenda yang keluar dari ajaran Islam seperti yang dituduhkan oleh sebagian saudara-saudara seagama seislam. Sebagaimana tertuang dalam salah satu kaidah “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). Hari Raya Ketupat perlu dilestarikan karena ini momen untuk meningkatkan amal sedekah, mempererat tali persaudaraan dan memiliki nilai-nilai Maqashid Syari’ah.


*Alumnus Pesantren Putri Walisongo Cukir dan Unhasy Tebuireng, kini meneruskan studi di pascasarjana UIN Jakarta