Sawah, Nila, dan Pesantren: Menemukan Kembali Ekologi dalam Tradisi Kiai

53
Ilustrasi santri peduli lingkungan

Dua hari dalam sepekan, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tidak mengajar. Bukan karena sakit, atau karena ada undangan penting. Beliau pergi ke sawah.

Sawah itu ada di Desa Jombok, sekitar sepuluh kilometer dari Tebuireng. Setiap Selasa dan Jumat, setelah rutinitas pengajian yang padat –kadang enam jam sehari sejak sebelum subuh hingga lewat tengah malam, beliau masih menyempatkan diri memeriksa padi, melihat tanah, memastikan semuanya berjalan seperti seharusnya.

Tidak ada yang mendramatisasi momen ini dalam catatan sejarah, atau anekdot agung. Hanya seorang ulama besar yang hadir di ladang dengan tenang sebanyak dua kali seminggu.

Dan justru karena ketenangan itulah momen ini layak kita renungkan hari ini, ketika krisis iklim makin mendesak, waktu kita mencari-cari cara untuk membangun kesadaran ekologis, dan saat sebagian dari kita mulai bertanya: ada tidak nilai dalam tradisi Islam, khususnya tradisi pesantren, yang bisa membantu kita merespons krisis ini?

Baca Juga: Manifesto Kemanusiaan Hadratussyaikh

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pesantren Lahir dari Tanah

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita perlu kembali ke asal. Pondok pesantren di Jawa Timur tidak lahir di kota. Ia lahir di desa, pegunungan, di tepi sungai. Dan sebelum pesantren ada, ada padepokan, lembaga belajar pra-Islam yang dipimpin para guru pertapa yang menurut catatan sejarah, sengaja memilih tempat “jauh dari keraton, di hutan-hutan bahkan di gunung-gunung” karena mereka ingin mendekati rakyat, bukan mendekati kekuasaan.

Ketika Islam masuk dan para wali mendirikan pesantren, mereka mewarisi logika padepokan ini. Pesantren punya masjid, pondok, dan rumah kiai, tapi padepokan punya sesuatu yang juga ikut diwarisi pesantren: tanah pertanian, yang pengelolaannya diserahkan kepada para murid sebagai bagian dari pendidikan. Bukan sekadar latihan bertani. Tapi latihan hidup: bahwa segala sesuatu butuh waktu, kesabaran, dan kepatuhan pada siklus yang tidak bisa dipaksa.

Hal tersebut bukan sekadar kurikulum, tetapi juga menjadi cara pandang tentang bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan alam.

Baca Juga: Kiai Hasyim Asy’ari: Memuliakan Guru, Kunci Keberhasilan Murid

Kiai yang Bertani dan Berdagang

KH. Hasyim Asy’ari menghidupkan kembali tradisi ini secara sangat konkret.

Ketika mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899, beliau tidak menggantungkan biaya pesantren pada sumbangan siapapun. Ia memegang prinsip yang ia sebut Al-I’timah ‘ala an-nafsi (kemandirian), atau dalam bahasa Belanda yang ia sendiri pakai, self help. Artinya: ia harus mencari sendiri. Dan beliau melakukannya dengan bertani.

Sawahnya tersebar di beberapa desa: Keras, Tanjunganom, Bedoh Gobang, Jombok. Selain bertani, beliau juga berdagang ke Surabaya, berdagang kuda, besi tua, dan nila. Dari sinilah ia menghidupi keluarganya dan kebutuhan pesantrennya. Beliau mengajar tanpa gaji. “Upah yang diharapkan hanyalah dari Allah,” tulisnya, merujuk pada ayat Al-Qur’an: “Tak adalah upah saya selain daripada Tuhan yang menjaga sekalian alam.”

Rabbil ‘alamin, yang berarti Tuhan pemelihara seluruh alam. Bukan hanya manusia atau hanya umat Islam tetapi seluruh alam.

Dalam pilihan ayat itu tersimpan teologi ekologi yang belum sepenuhnya kita gali.

Baca Juga: Pandangan KH. Hasyim Asy’ari terhadap Bid’ah dan Kebenaran Sawadul A’zham

Ekosistem yang Bukan Sekadar Lembaga

Kalau kita meminjam kacamata ekologi untuk melihat pesantren tradisional, yang kita lihat bukan hanya lembaga pendidikan. Kita akan melihat sebuah ekosistem, sistem yang hidup karena ada pertukaran dan ketergantungan yang sehat di dalamnya.

Masyarakat sekitar memasok kebutuhan santri. Santri membantu mengerjakan sawah kiai. Kiai memberi bimbingan spiritual kepada warga. Ada siklus memberi dan menerima, ada hubungan yang tidak murni transaksional. Bukan sekadar nostalgia, tapi juga model ketahanan komunitas yang berbasis pada relasi.

Ketika Kiai Hasyim datang ke Tebuireng, yang saat itu terkenal sebagai tempat judi, rampok, dan segala macam kekacauan, beliau tidak membenahi manusianya terpisah dari ruangnya. Be;iau membeli tanah terlebih dahulu, lalu mendirikan bangunan. Beliau “menanam” kehidupan baru secara harfiah, karena transformasi sosial dimulai dari transformasi ruang fisik.

Baca Juga: Mengenal Pemikiran Yenny Wahid, Membumikan Moderasi dan Toleransi

Apa yang Perlu Kita Hidupkan Kembali?

Tidak ada yang menyangkal bahwa pesantren hari ini sudah berubah, dan banyak perubahan itu diperlukan. Tapi ada satu hal yang layak dipertanyakan: apakah dalam proses modernisasi itu, pesantren tidak kehilangan sesuatu yang berharga, yaitu relasi langsung antara komunitas pesantren dan tanah yang menghidupinya?

Kiai Hasyim adalah seorang ahli hadits kelas dunia yang dua kali seminggu pergi ke sawah. Ia memahami bahwa kemuliaan tidak diukur dari seberapa jauh seseorang dari tanah, melainkan dari seberapa setia ia menjaga amanah atas apa yang Tuhan percayakan kepadanya.

Dan tanah, ardh, dalam Al-Qur’an adalah salah satu amanah terbesar itu.

Pesantren punya modal yang kebanyakan lembaga lain tidak punya: tradisi panjang tentang bagaimana hidup bersama alam, bukan hanya di atas alam. Sudah saatnya modal itu tidak hanya disimpan dalam ingatan, tapi juga dihidupkan kembali sebagai jawaban nyata terhadap krisis ekologi yang sudah menggedor-gedor di depan pintu kita.



Penulis: Athi Suqya Rohmah
Editor: Rara Zarary


Sumber bacaan: “Kiai Haji Hasyim Asy’ari, Riwayat Hidup dan Pengabdiannya” oleh Heru Sukadi (1985)