Kekayaan yang Salah Eja: Saat Harta Dikejar, Tapi Ilmu Dilupakan

11

Ada sebuah salah kaprah yang belakangan ini dirayakan secara berjamaah di ruang publik kita yakni penyederhanaan arti kata “selesai dengan diri sendiri”. Jika kita membuka media sosial atau mendengarkan obrolan di kedai kopi urban, frasa tersebut telah mengalami penyusutan makna yang luar biasa tragis. Seseorang dianggap telah “selesai dengan dirinya” apabila ia telah mencapai titik puncak dalam urusan materi. Indikatornya serba seragam, misalnya saldo rekening yang melimpah, kepemilikan aset yang berjejer, status sosial yang mapan, hingga kemampuan untuk membeli apa saja tanpa perlu melihat label harga. Sukses hari ini telah berubah menjadi urusan angka-angka lahiriah.

Sebagai orang yang tumbuh dan hidup di lingkungan pesantren, saya merasakan kegelisahan yang mendalam melihat fenomena ini. Kita sedang menyaksikan sebuah generasi yang silau oleh kilau harta, namun rabun terhadap pentingnya ilmu sebagai kompas pengemudi harta tersebut. Kita sedang merayakan kemakmuran finansial, sembari abai pada kemiskinan akal dan jiwa.

Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Akar masalahnya adalah pergeseran akut dalam cara kita memandang fungsi dunia. Harta hari ini tidak lagi dipandang sebagai alat (wasilah), melainkan sebagai tujuan akhir (ghayah). Banyak orang mengira bahwa begitu materi telah tergenggam, maka kebahagiaan, ketenangan, dan kehormatan otomatis akan mengikuti. Ini adalah sebuah cacat logika yang fatal.

Mari kita bayangkan sebuah kapal pesiar yang sangat mewah. Kapal itu terbuat dari bahan terbaik, mesinnya paling mutakhir, dan fasilitas di dalamnya serba mewah. Pemilik kapal itu merasa bangga karena kapal miliknya adalah yang terbaik di dermaga. Namun, ada satu hal yang ia lupakan, ia tidak membekali dirinya dengan ilmu navigasi, tidak membawa peta, dan enggan memasang kompas.

Ketika kapal mewah itu didorong ke tengah samudra luas, apa yang terjadi? Sebanyak apa pun bahan bakar yang dimiliki, semewah apa pun kabinnya, kapal itu hanya sedang menunggu waktu untuk menghantam karang atau tenggelam digulung ombak. Keindahan fisik kapal tidak akan pernah bisa menyelamatkannya dari kebutaan arah sang nakhoda.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Itulah analogi terdekat bagi harta yang berdiri sendiri tanpa topangan ilmu. Harta adalah energi mentah yang cair dan tidak punya arah. Ia bisa menjadi berkah, tetapi ia juga bisa berubah menjadi bahan bakar ego yang destruktif jika tidak dikendalikan oleh kebijaksanaan ilmu. Ketika seseorang kaya materi namun miskin ilmu, kekayaannya justru sering kali berubah menjadi beban psikologis baru berupa kecemasan yang tiada habisnya untuk melindungi aset, keinginan tak berujung untuk terus memamerkannya demi pengakuan, hingga kegagalan moral dalam memanfaatkan kekayaan tersebut untuk kemaslahatan sesama.

Di dalam tradisi pemikiran klasik yang diwariskan oleh para ulama dan leluhur di pesantren, parameter “selesai dengan diri sendiri” sama sekali tidak ada hubungannya dengan volume materi. Seseorang yang benar-benar selesai dengan dirinya adalah mereka yang jiwanya telah mencapai titik ketenangan (tuma’ninah), di mana dorongan nafsu egoisnya telah ditundukkan oleh kejernihan ilmunya.

Ada sebuah pesan bijak mendalam yang sering digaungkan di selasar-selasar pesantren: Bukanlah kekayaan itu diukur dari banyaknya perhiasan dan harta benda yang kasat mata, melainkan kekayaan yang sejati adalah ketika jiwa seseorang merasa cukup dan tidak lagi diperbudak oleh keinginan duniawi.

Orang yang jiwanya kaya tidak akan pernah merasa kekurangan meski hidup dalam kesederhanaan. Sebaliknya, orang yang jiwanya miskin akan tetap merasa kelaparan meskipun seluruh isi bumi ini telah runtuh ke dalam pangkuannya. Ilmu berfungsi sebagai penata keinginan. Ia mendidik kita untuk tahu kapan harus menekan pedal gas ego, dan kapan harus menginjak rem moral.

Mari kita telaah secara kontras sifat dasar keduanya. Harta adalah sesuatu yang menuntut untuk dijaga. Ketika Anda memiliki banyak uang atau aset, Anda harus menyewa satpam, membangun brankas, atau membayar konsultan hukum untuk melindunginya. Harta melelahkan pemiliknya secara fisik dan mental. Sementara itu, ilmu memiliki sifat yang sebaliknya: ia adalah sesuatu yang justru menjaga pemiliknya. Ilmu menjaga kita dari salah melangkah, melindungi kita dari keputusan yang merugikan, dan menuntun kita di kegelapan masalah hidup. Harta akan berkurang saat dibagi, sedangkan ilmu justru melipatganda saat disebarkan.

Lalu, bagaimana kita harus bersikap di tengah arus zaman yang terlanjur mengagungkan kebendaan ini? Jawabannya bukan dengan membenci harta atau memilih hidup dalam kemiskinan yang disengaja. Pesantren tidak pernah mengajarkan manusia untuk antipati terhadap dunia. Menjadi kaya itu baik, bahkan bisa menjadi mulia jika digunakan di jalan yang tepat. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika harta tersebut masuk dan menguasai hati, sementara pikiran dibiarkan kosong tanpa pencerahan ilmu.

Kita perlu mengembalikan ilmu sebagai panglima. Pesan ini harus disampaikan secara lantang dan gamblang kepada generasi hari ini: Jangan mengejar bayangan sampai lupa pada benda aslinya. Harta tanpa ilmu adalah bayangan semu yang akan hilang begitu matahari tenggelam. Sedangkan ilmu adalah cahaya internal yang akan tetap bersinar bahkan ketika kita sudah berada di dalam kegelapan liang lahat.

Sebagai penutup, mari renungkan sebuah analogi: harta adalah sepasang kaki yang melangkah, memberikan kita daya jangkau dan kecepatan di dunia. Namun, tanpa mata yang melihat, kaki yang cepat hanya akan membawa kita melompat ke dalam jurang kehancuran. Ilmu adalah mata itu, ia yang mendeteksi bahaya dan memastikan setiap langkah kaki tertuju ke arah yang aman.

Namun, ilmu yang suci tidak akan pernah sudi bersemayam di dalam jiwa yang kotor. Di sinilah adab memegang peran krusial sebagai pembersih bagi qolbu (hati) yang ingin meraih ilmu Allah. Sebelum wadah hati diisi oleh cahaya Allah SWT, ia harus disucikan terlebih dahulu dari penyakit pamer, sombong, dan kerak materialisme melalui jalur adab. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi alat pemuas ego dan kesombongan baru yang tidak membawa keberkahan. Sebaliknya, adab yang digunakan untuk kepentingan tertentu, apalagi kepentingan menguasai atas manusia maupun yang lain, akan menjadi menakutkan karena berpotensi untuk meraih kekuasaan buta yang menghalalkan agama ini untuk dijual dengan harga murah.

Sudah saatnya kita berhenti merasa silau dengan mereka yang hanya berlimpah materi namun miskin etika. Mari kita bangun kembali standar sosial baru yang lebih waras: bahwa orang yang benar-benar selesai dengan dirinya adalah ia yang menata qolbu-nya dengan adab, mengisi dadanya dengan ilmu, lalu menggunakan hartanya sebagai pelayan iman. Inilah warisan nilai keilmuan sejati yang dirawat oleh para leluhur pesantren. Sebuah kompas hidup yang mendidik kita untuk menggenggam dunia di tangan, bukan menyimpannya di dalam hati, demi menyelamatkan akal sehat bangsa dari kepungan materialisme yang dangkal.

Baca Juga: Jangan Biarkan Hati Lelah karena Terus Berlari Mengejar Penilaian Manusia


Penulis: Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak