Manifesto Kemanusiaan Hadratussyaikh

48
Kiai Hasyim Asy’ari
Mendekonstruksi Feodalisme dalam Nalar Pesantren Kontemporer

Pemikiran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bukan sekadar artefak sejarah yang tersimpan dalam kitab-kitab kuning, melainkan sebuah kompas moral yang tetap relevan dalam menavigasi badai tantangan pesantren kontemporer. Di era di mana pesantren dituntut untuk beradaptasi dengan modernitas tanpa kehilangan jati diri, prinsip kemanusiaan dan semangat anti-feodalisme yang diletakkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama ini menemukan urgensi barunya.

Memahami respons Kiai Hasyim terhadap tantangan zaman memerlukan pembacaan yang mendalam atas karya-karyanya, seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim, yang seringkali disalahpahami hanya sebagai pedoman etika guru dan murid, padahal di dalamnya terkandung embrio keterikatan manusia dari belenggu ketidaktahuan dan mengurung struktur sosial yang kaku.

Baca Juga: Membaca Strategi Perubahan Sosial Hadratussyaikh di Tengah Krisis Kampanye Global

Pesantren hari ini menghadapi tantangan besar berupa dehumanisasi akibat komodifikasi pendidikan dan risiko terjebak dalam romantisme masa lalu yang bersifat feodalistik, di mana kepatuhannya sering kali mengalahkan nalar kritis dan diberikan penghargaan terhadap harkat martabat manusia secara universal.

Kiai Hasyim Asy’ari memandang pesantren bukan hanya sebagai pusat transfer ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi sebagai laboratorium kemanusiaan. Dalam perspektif beliau, ilmu tidak ada gunanya jika tidak menghasilkan akhlak, dan puncak dari akhlak adalah penghormatan terhadap sesama manusia. Prinsip ini menjadi antitesis terhadap tantangan pesantren kontemporer yang terkadang terjebak pada formalisme pendidikan yang kering.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat ini, banyak institusi pendidikan Islam yang lebih mengejar nilai akademik dan pembentukan karakter yang empatik. Kiai Hasyim, melalui konsep tasawuf amaliyahnya, menekankan bahwa seorang santri harus menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat, yang berarti ia harus peka terhadap penderitaan manusia di sekitarnya. Kemanusiaan dalam pandangan beliau bersifat inklusif; meskipun beliau sangat teguh dalam menjaga kemurnian akidah, beliau mengajarkan bahwa dalam urusan sosial dan kesejahteraan, kolaborasi dan kasih sayang harus melampaui batas-batas primordial.

Baca Juga: Ketika Adab Menjauh dari Ruang Kelas

Hal ini menjawab tantangan intoleransi yang kadang merembes ke dalam dunia pendidikan agama, dengan mengingatkan kembali bahwa inti dari agama adalah rahmah atau kasih sayang bagi semesta alam. Berbicara mengenai anti-feodalisme, sosok Kiai Hasyim Asy’ari adalah seorang revolusioner yang bersahaja. Meski beliau berada di puncak hierarki sosial sebagai kiai besar dan tokoh pergerakan, beliau justru meruntuhkan tembok-tembok feodal yang memisahkan antara pemimpin dan yang dipimpin.

Dalam tradisi pesantren, seringkali muncul risiko di mana hubungan kiai dan santri berubah menjadi hubungan patron-klien yang eksploitatif atau feodalistik. Kiai Hasyim secara tegas menghubungkan ini dengan tekanan bahwa kemuliaan seorang guru terletak pada pengabdiannya, bukan pada penghormatan berlebihan yang diterimanya. Beliau menunjukkan bahwa otoritas keagamaan tidak boleh digunakan untuk menindas atau membungkam akal sehat.

Tantangan pesantren kontemporer seringkali muncul dalam bentuk kepemimpinan yang sentralistik dan tertutup dari kritik. Dengan merujuk pada pemikiran beliau, pesantren seharusnya menjadi ruang yang demokratis dalam arti setiap individu dihargai berdasarkan kapasitas keilmuan dan integritasnya, bukan berdasarkan garis keturunan atau status sosial semata. Semangat anti-feodalisme ini sangat krusial untuk memastikan pesantren tetap menjadi lembaga yang emansipatoris, yang memerdekakan santri dari mentalitas “budak” menuju mentalitas manusia yang merdeka dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Mimpi Gizi Gratis dalam Kepungan Debat Fiskal

Lebih jauh lagi, Kiai Hasyim Asy’ari menanggapi tantangan zaman dengan memadukan tradisi dan inovasi secara proporsional. Beliau tidak anti terhadap kemajuan, namun beliau menolak jika kemajuan itu memberikan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks kontemporer, pesantren sering kali mengadopsi sistem korporasi yang efisien namun dingin, yang berisiko memperlakukan santri sebagai angka atau komoditas.

Pemikiran Kiai Hasyim mengingatkan bahwa setiap santri adalah subjek yang memiliki keunikan dan potensi ilahiah yang harus dijaga. Anti-feodalisme dalam pendidikan berarti menghapuskan sekat-sekat yang menghalangi santri untuk berkembang secara otentik. Beliau mendorong adanya dialog yang sehat antara guru dan murid, sebuah bentuk komunikasi yang egaliter namun tetap terbungkus dalam bingkai etika.

Hal ini sangat relevan untuk mengatasi masalah kekerasan dalam pendidikan yang belakangan ini sering terjadi di institusi pesantren. Jika prinsip kemanusiaan dan anti-feodalisme Kiai Hasyim benar-benar diinternalisasi, maka ruang bagi kekerasan—baik fisik maupun psikis—akan tertutup, karena setiap individu dipandang sebagai makhluk mulia yang harus dijaga kehormatannya.

Tantangan globalisasi dan digitalisasi juga menjadi medan uji bagi pemikiran Kiai Hasyim. Di dunia maya, seringkali terjadi dehumanisasi di mana orang dengan mudah menghujat dan menurunkan martabat sesama. Pesantren, dalam merespons hal ini, harus mampu melahirkan santri yang menjadi “penjaga kemanusiaan” di ruang digital. Semangat anti-feodalisme Kiai Hasyim juga bisa diterjemahkan sebagai semangat anti-hegemoni.

Baca Juga: Liburan Santri jadi Waktu Istirahat atau Momen untuk Berkembang?

Beliau mengajarkan bangsa ini untuk tidak tunduk pada penjajahan, yang merupakan bentuk feodalisme global. Pesantren kontemporer harus mampu mendidik santri agar tidak menjadi pengekor budaya asing secara buta, namun juga tidak menutup diri dari perkembangan ilmu pengetahuan. Kemandirian yang diajarkan Kiai Hasyim, terutama melalui gerakan ekonomi dan penguatan masyarakat sipil, adalah bentuk nyata perlawanan terhadap struktur feodal baru yang berbentuk ketergantungan ekonomi dan intelektual.

Dengan memiliki kemandirian, pesantren dapat berdiri tegak menyuarakan kebenaran dan keadilan tanpa rasa takut terhadap otoritas mana pun kecuali Tuhan. Kesimpulan dari seluruh pemikiran beliau adalah bahwa pesantren harus menjadi oase yang menyejukkan di tengah kekeringan dan kekeringan moralitas modern. Ketika dunia semakin teknokratis dan individualistis, pesantren harus tetap menjadi pelindung bagi nilai-nilai kemanusiaan yang hangat dan kolektif.

Anti-feodalisme yang diusung Kiai Hasyim adalah tentang keberanian untuk mencerminkan keadilan sejak dalam pikiran, menghargai setiap tetes keringat buruh dan petani, serta menempatkan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memuliakan manusia, bukan untuk menguasainya. Respons pesantren terhadap tantangan kontemporer tidak boleh hanya berhenti pada modernisasi gedung atau kurikulum, melainkan harus menyentuh kesadaran transformasional.

Baca Juga: Menjembatani Tradisi dan Modernitas Pesantren

Meneladani Hadratussyaikh berarti berani meruntuhkan ego, melawan segala bentuk penipuan, dan menjadikan diri sebagai jembatan bagi kemaslahatan umat manusia. Inilah warisan intelektual dan spiritual yang akan menjadikan pesantren tetap abadi sebagai pilar peradaban yang memanusiakan manusia di tengah perubahan zaman yang tak menentu.



Penulis: T.H. Hari Sucahyo, Peminat masalah Religi, Sosial, Budaya dan Penggagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi Pusaka AgroPol.