
“Lebaran kali ini… kok rasanya asing, ya?”
Aku tidak benar-benar bertanya pada siapa pun. Kalimat itu jatuh begitu saja dari bibirku, pelan, hampir seperti napas yang tak sengaja terdengar.
Di luar jendela, dunia tampak berjalan sebagaimana mestinya. Orang-orang mengenakan pakaian terbaik, anak-anak berlarian sambil tertawa, suara takbir yang semalam menggema kini berganti dengan riuh salam dan pelukan. Semua terlihat utuh. Lengkap.
Hanya aku yang merasa… ada yang ganjil.
Seolah-olah aku sedang berdiri di tengah sebuah panggung besar, tapi bukan sebagai pemain. Hanya penonton. Duduk diam, menyaksikan satu per satu adegan kehidupan orang lain diputar ulang tanpa bisa kusentuh.
“Eh, kamu sekarang sama dia?”
Aku menoleh. Dua perempuan berdiri tidak jauh dari rumahku. Wajah mereka samar-samar familiar, tapi yang membuatku terdiam adalah sosok yang berdiri di samping mereka.
Dia, dulu semua orang tahu dia dengan si A. Nama mereka hampir tak pernah terpisah dalam percakapan. Bahkan tanpa perlu diumumkan, semua orang seakan sudah sepakat mereka akan berakhir bersama.
Tapi hari ini, di hari yang seharusnya penuh kepastian, dia justru berdiri di samping seseorang yang dulu tidak pernah disebut dalam ceritanya.
Si B. Tawa mereka terdengar ringan. Tidak canggung. Tidak ragu. Seolah-olah… memang seharusnya begitu.
Aku mengerjap pelan.
“Jadi… takdir bisa berubah tanpa pemberitahuan, ya?”
Langkah kakiku membawa diriku keluar rumah. Entah untuk apa. Mungkin hanya ingin memastikan bahwa yang kulihat bukan sekadar bayangan dari pikiranku sendiri.
Setiap sudut jalan seperti menyimpan kenangan yang diam-diam telah berganti wajah.
Di tikungan dekat mushola, aku berhenti lagi. ia berdiri di sana.
Orang yang dulu diam-diam mencintai si A. Yang selalu terlihat canggung ketika si A lewat. Yang menyembunyikan perasaannya di balik candaan dan perhatian kecil.
Aku masih ingat bagaimana matanya dulu, penuh harap. Hari ini, matanya tetap penuh… tapi bukan untuk orang yang sama.
Dia menggandeng tangan si B. Mereka berjalan berdampingan, tertawa tanpa beban, tanpa cerita lama yang tersisa.
Aku tidak tahu mana yang lebih mengejutkan. Perasaannya yang berubah, atau takdir yang memindahkannya ke tempat yang sama sekali berbeda.
“Lucu ya… yang dulu berharap, belum tentu memiliki. Yang tidak terlihat, justru menjadi tujuan.”
Aku tersenyum kecil. Ada sesuatu yang hangat sekaligus dingin dalam dadaku.
Aku terus berjalan.
Melihat rumah besar di ujung jalan itu membuat langkahku melambat. Dulu, rumah itu selalu menjadi pusat perhatian. Catnya bersih, halamannya luas, tamunya tak pernah sepi.
Pemiliknya dikenal sebagai orang yang serba ada. Apa pun yang diinginkan, seolah bisa ia miliki.
Tapi hari ini…
Pagar itu berkarat. Catnya mengelupas. Halamannya kosong, seperti sudah lama tidak disapu.
Aku berdiri cukup lama di sana.
Seakan mencoba mencocokkan bayangan masa lalu dengan kenyataan yang ada di depan mata. Namun tak pernah benar-benar pas.
Aku menoleh ke seberang jalan.
Rumah kecil yang dulu nyaris tak terlihat kini berdiri dengan tembok baru, pagar kokoh, dan halaman yang tertata rapi. Orang yang dulu hidup sederhana itu kini menyambut tamu dengan senyum percaya diri.
Orang-orang keluar masuk rumahnya.
Ramai. Hidup.
Aku menghela napas.
“Jadi benar… hidup tidak pernah diam di satu titik.”
Suara tawa anak kecil memecah lamunanku lagi.
Seorang perempuan berdiri di halaman rumahnya, menggendong bayi. Di sekelilingnya, beberapa anak kecil berlarian memanggilnya “ibu”.
Aku mengenalnya.
Dulu, setiap lebaran, dia selalu duduk sedikit lebih jauh. Senyumnya ada, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.
Pertanyaan. Harapan. Dan mungkin… sedikit lelah. Hari ini, dia tertawa paling keras.
Matanya tidak lagi bertanya, tangannya tidak lagi kosong. Aku menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.
“Yang lama menunggu… ternyata bisa sampai juga.”
Namun tak semua cerita berakhir dengan tawa.
Di teras rumah sebelah, seorang perempuan duduk sendiri. Tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah tidak beruap. Matanya kosong, menatap halaman tanpa benar-benar melihat.
Dulu, setiap lebaran, dia selalu diapit kedua orang tuanya. Selalu ada suara yang memanggilnya dari dalam rumah. Selalu ada tangan yang menggandengnya saat keluar.
Sekarang…
Sunyi, kursi di sebelahnya kosong.
Pintu rumahnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar dari dalam.
Aku menunduk.
Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokanku.
“Yang dulu lengkap… bisa jadi tinggal kenangan.”
Aku terus berjalan, meski langkahku semakin berat.
Semakin banyak yang kulihat, semakin terasa bahwa waktu tidak pernah benar-benar berhenti untuk siapa pun.
Teman yang dulu biasa saja, kini memiliki pencapaian yang membuat banyak orang kagum.
Yang dulu terlihat begitu yakin, kini justru tampak kehilangan arah.
Yang dulu selalu bersama, kini berjalan masing-masing.
Dan yang dulu tidak terlihat… kini justru menjadi cerita utama.
Semua berubah, semua bergerak, kecuali aku.
Aku kembali ke rumah, kembali ke jendela yang sama, tempat di mana aku mulai menyadari semuanya. Tanganku menyentuh kaca. Dingin. Seperti perasaan yang sejak tadi tidak benar-benar bisa kujelaskan.
Mataku masih menatap ke luar. Tapi kali ini, bukan hanya melihat orang lain.
Aku mulai melihat diriku sendiri, yang masih bertanya-tanya, yang masih membandingkan, yang masih berdiri di tempat yang sama, sementara dunia terus berjalan.
Dalam diam, aku kembali bergumam
“Kira-kira… aku bisa ada di posisi itu sekarang?”
Bisa jadi seseorang yang akhirnya menemukan jalannya.
Bisa jadi seseorang yang bahagia dengan pilihannya.
Bisa jadi seseorang yang tidak lagi hanya melihat… tapi menjalani.
Atau…
Apakah aku memang ditakdirkan untuk selalu datang terlambat?
Selalu menjadi penonton di cerita orang lain?
Angin masuk pelan dari celah jendela.
Membawa sisa-sisa takbir yang masih terdengar dari kejauhan, aku memejamkan mata. Untuk pertama kalinya hari ini, aku tidak mencoba memahami orang lain.
Aku mencoba memahami diriku sendiri.
Mungkin…
Ini bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai, bukan tentang siapa yang lebih beruntung, bukan juga tentang siapa yang tertinggal.
Mungkin…
Ini hanya tentang waktu, karena setiap orang punya jalannya masing-masing, dan setiap jalan punya waktunya sendiri.
Aku membuka mata, menatap pantulan diriku di kaca.
Masih sama, belum banyak berubah.
Tapi entah kenapa… tidak lagi terasa asing.
Aku tersenyum tipis.
“Kalau mereka bisa sampai ke sana… berarti aku juga punya tempat untuk sampai.”
Tidak hari ini, mungkin. Tidak juga besok. Tapi suatu saat nanti. Dan mungkin, di sebuah lebaran di masa depan…
Aku tidak lagi berdiri di balik jendela, aku akan berada di luar, menjalani ceritaku sendiri.
Dan di saat itu…
Akan ada seseorang yang diam-diam memandangku,.mengingatku, lalu bergumam pelan dalam hatinya
“Dulu dia hanya penonton… sekarang dia jadi bagian dari cerita.”
Aku menarik napas panjang.
Takdir memang tidak pernah memberi tahu alurnya, ia hanya berjalan, dan kita… mengikuti.
Hari ini, aku masih penonton. Tapi untuk pertama kalinya…Aku tidak lagi takut dengan itu.
Karena mungkin menjadi penonton hanyalah awal dari sebuah cerita panjang, cerita yang cepat atau lambat. Akan membawaku pulang ke takdirku sendiri.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















