Al-Qur’an dan Sains dalam Membangun Masyarakat yang Inklusif dan Berkeadilan

8
Sebuah ilustrasi

Penulis: Muhammad Lutvi*

Di tengah era globalisasi dan kemajuan teknologi, masyarakat Indonesia kerap menghadapi tantangan sosial seperti diskriminasi, intoleransi, ujaran kebencian, dan kesenjangan sosial meskipun interaksi antarbudaya semakin mudah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keberagaman tidak secara otomatis menciptakan inklusivitas. Padahal, berbagai penelitian membuktikan bahwa inklusivitas sosial, sikap toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan sangat krusial dalam memperkuat hubungan sosial, meningkatkan kepercayaan antarwarga, mengurangi prasangka, serta meminimalkan potensi konflik baik di lingkungan masyarakat maupun pendidikan.

Baca Juga: Fenomena Poppy Tall Syndrome di Tengah Masyarakat

Untuk membangun masyarakat yang inklusif dan berkeadilan tersebut, diperlukan perpaduan antara landasan moral, spiritual dan pendekatan ilmiah. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup menawarkan prinsip-prinsip dasar mengenai persamaan derajat manusia, penghormatan terhadap perbedaan, dan penegakan keadilan, sementara sains modern (sosiologi dan psikologi sosial) menjelaskan metodologi untuk menciptakan kesejahteraan dan ketangguhan sosial. Integrasi antara perspektif Al-Qur’an dan sains inilah yang menjadi langkah penting dalam mewujudkan masyarakat yang tidak hanya menghargai keberagaman, tetapi juga mampu menegakkan keadilan bagi seluruh anggotanya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Perspektif Al-Qur’an

Di antara nilai yang sangat ditekankan adalah kesetaraan manusia dan keadilan sosial. Kedua prinsip ini menjadi fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Konsep kesetaraan manusia dijelaskan secara tegas dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Pesan Al-Qur’an menegaskan bahwa seluruh manusia berasal dari sumber penciptaan yang sama dan setara di hadapan Allah, sehingga keberagaman suku, ras, budaya, maupun status sosial seharusnya menjadi sarana untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang harmonis, bukan pemecah belah. Dalam konteks masyarakat modern, pemahaman terhadap nilai inklusivitas ini sangat relevan untuk menghapus sikap merasa lebih unggul dan menghindari perilaku diskriminatif yang memicu konflik sosial.

Selain mengajarkan kesetaraan, Al-Qur’an juga menempatkan keadilan sebagai prinsip utama dalam kehidupan sosial. Hal ini ditegaskan dalam QS. An-Nahl ayat 90:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.”

Baca Juga: Mengurai Makna Wajhullah Perspektif Tafsir al-Qurthubi

Prinsip keadilan merupakan perintah langsung dari Allah yang cakupannya universal, tidak terbatas pada hukum melainkan juga perlakuan seimbang tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun identitas. Dalam masyarakat yang beragam, penegakan keadilan dengan memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada setiap individu menjadi kunci utama untuk membangun rasa aman, meminimalkan konflik akibat ketimpangan, serta mewujudkan lingkungan yang inklusif, harmonis, dan sejahtera.

Perspektif Sains

Secara sosiologis, inklusivitas serta penerimaan terhadap keberagaman merupakan fondasi krusial bagi integrasi sosial yang berfungsi meningkatkan kepercayaan antarwarga, mempererat hubungan antarkelompok, dan menjaga stabilitas sosial guna meminimalkan konflik dalam masyarakat modern.

Selain itu, keadilan sosial melalui penyediaan hak dan kesempatan yang setara (seperti pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan publik) sangat penting untuk menjaga stabilitas masyarakat, karena ketimpangan yang tinggi memicu konflik, sedangkan distribusi kesempatan yang adil terbukti meningkatkan kesejahteraan, kepercayaan sosial, dan rasa memiliki antarwarga.

Sinergi Al-Qur’an dan Sains

Al-Qur’an dan sains memiliki titik temu yang kuat dalam upaya mewujudkan masyarakat yang inklusif dan berkeadilan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa seluruh manusia memiliki kedudukan yang setara di hadapan Allah. Sejalan dengan itu, berbagai penelitian sosiologi dan ilmu sosial menunjukkan bahwa penerimaan terhadap keberagaman dapat memperkuat kohesi sosial, sementara penerapan keadilan sosial mampu meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi konflik dalam masyarakat.

Hemat penulis, masyarakat yang inklusif dan berkeadilan tidak dapat dibangun hanya dengan aturan hukum, tetapi juga membutuhkan kesadaran moral dari setiap individu. Al-Qur’an telah

memberikan landasan nilai berupa persamaan manusia dan kewajiban berlaku adil, sementara sains menunjukkan bahwa nilai-nilai tersebut membawa dampak positif bagi kehidupan sosial. Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa integrasi antara ajaran agama dan temuan ilmiah perlu diterapkan dalam pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat agar tercipta lingkungan yang harmonis, saling menghormati, dan bebas dari diskriminasi.

Baca Juga: Refleksi Neurosains dan Tradisi Intelektual Islam


Daftar Pustaka

Arant R, Larsen M and Boehnke K (2021) Acceptance of Diversity as a Building Block of Social Cohesion: Individual and Structural Determinants. Front. Psychol. 12:612224. doi: 10.3389/fpsyg.2021.612224

Lestari, U. F., Risnawati, Fikri Hamdani, M., & Dwi Rahman Sahbana, M. (2024). Pengaruh Toleransi Terhadap Persepsi Keberagaman, Hubungan Sosial, dan Prestasi Akademik Siswa   di   Smpn   16   Pekanbaru. Jurnal   Teknologi   Pendidikan, 13(2), 117–128. https:// ejourna l.uika – bogor.ac.id /index.ph p/TEK/ar ticl e/vi ew/1 8714