Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Seorang wanita pasti akan mengalami hal yang disebut dengan menstruasi. Menstruasi adalah darah yang keluar dari vagina wanita yang telah berumur 9 tahun kurang 16 hari 16 malam, darah tersebut keluar dalam kondisi sehat dan tidak setelah melahirkan, dan darah yang keluar tidak kurang dari 24 jam dan tidak lebih dari 15 hari. Apabila seseorang mengeluarkan darah sebelum mencapai umur di atas maka disebut dengan darah istihadhoh.

Menurut bahasa istihadhoh berarti “mengalir”, sedangkan menurut istilah, istihadhoh ialah darah yang keluar dari rahim seorang wanita secara tidak alami atau tidak normal.[1] Darah ini merupakan darah yang keluar bukan pada waktu haid atau nifas. Darah ini adalah darah fasad (darah rusak/darah penyakit).

Contoh darah yang keluar sebelum umur 9 tahun kurang 16 hari 16 malam: Nana saat berumur 9 tahun kurang 18 hari 18 malam, kemudian ia mengeluarkan darah selama 8 hari, maka 2 hari yang pertama dihukumi istihadhoh dan 6 hari berikutnya dihukumi haid.

Contoh darah yang keluar lebih dari 15 hari: Nika sudah berumur 10 tahun, kemudian ia mengeluarkan darah selama 20 hari, maka 15 hari pertama di sebut darah haid, dan 5 hari berikutnya disebut darah istihadhoh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Orang yang istihadhoh (mustahadhoh) dihukumi suci. Ia tetap wajib menjalankan kewajibannya, seperti: Sholat, puasa.

 

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ فَقَالَ لَا إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah dia berkata, “Fathimah binti Abi Hubaisy mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku adalah seorang perempuan berdarah istihadhah, maka aku tidak suci, apakah aku harus meninggalkan shalat? ‘ Maka beliau bersabda, “Darah tersebut ialah darah penyakit bukan haid, apabila kamu didatangi haid hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haid berhenti dari keluar, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat.”[2]

Ia juga boleh melaksanakan hal yang dilarang untuk orang yang sedang haid seperti membaca al-Quran, menyentuh mushaf, iktikaf, dan lain-lain. Akan tetapi terdapat perbedaan tata cara shalat dan bersuci antara mustahadhah dengan orang yang normal.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan mustahadhah sebelum berwudhu:

  1. Harus membersihkan kemaluannya.
  2. Meletakkan kapas di mulut vagina, dan hal ini tidak wajib apabila dia tidak membutuhkannya atau ditakutkan ada hal yang tidak diinginkan terjadi dan apabila dalam keadaan berpuasa.
  3. Memakai pembalut apabila darah tetap merembes setelah mengenakan pembalut maka dima’fu, kecuali jika hal itu karena kecerobohannya.
  4. Berwudhu setelah masuknya waktu shalat, karena termasuk thaharah
  5. Berniat seperti orang yang daimu al hadats (terus menerus berhadats) yaitu berniat mengangkat hadats karena pada dasarnya hadatsnya masih ada, Namun berniat untuk diperbolehkan shalat, seperti lafazd niat di bawah ini :

نويت الوضوء / الغسل لستباحة فرض الصلاة

“Saya niat melakukan wudhu atau mandi supaya diperbolehkan melakukan shalat fardhu.”

  1. Setelah berwudhu bersegera melaksanakan shalat. Tidak boleh bagi mustahadhah tidak bersegera melaksanakan shalat wajib setelah berwudhu kecuali karena untuk kemaslahatan shalat seperti menutup aurat, menunggu jamaah, menjawab azan, iqamah dan shalat sunah qabliyah, apabila mengakhirkannya karena hal yang lain maka wajib baginya mengulangi beberapa hal seperti semula.
  2. Berwudhu setiap mau melakukan shalat fardhu dan melakukan lima hal diatas menurut pendapat yang ashah.

Mustahadhah boleh melakukan shalat sunah yang dia kehendaki, tanpa harus memperbaharui wudhunya  jika tidak batal. Apabila setelah wudhu atau pertengahan wudhu atau di dalam shalat darahnya berhenti dan masa berhentinya cukup untuk melaksanakan wudhu dan shalat maka wajib atasnya mengulangi wudhu dan shalatnya. [3]


[1] Al-Imam Al Qodhi Abi al Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Ahmad Al Rusysi, Bidayatul Mujtahid, (Beirut: Dar al Kitab Al Ilmiyyah ,2013), hal 62

[2] HR. Muslim No. 333

[3] Abu Zakariya Yahya An Nawawi, Minhaju at Tholibin wa „Umdatu al Muftiin, (Dar al Fikr: Bairut, 2010)


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMemaknai Hari Anak Nasional, Peningkatkan Pola Asuh Anak yang Baik
BerikutnyaSyekh Abdullah Ahmad, Perintis Pendidikan Islam Modern di Nusantara