TERSEMBUNYI LIBERALISME PENDIDIKAN

Selepas menerima ijazah Aliyah, saya dan teman teman karib berembug hendak ke mana melanjutkan studi. Tak sekali jadi, keputusan bisa diambil. Maklum, “jelek jelek murid Yai Ka’ menyimpan semangat Gatut Koco dan bak idealis pula. Akhirnya, sepakat melanjutkan thalab al-‘ilm ke Yogyakarta. Yang tak berhasil kami merayu Gus Riza Ibn KH Yusuf Hasyim. Gus Riza keukeuh di pesantren Tebuireng, walau kami tak pernah tahu apa dan mengapa-nya.

Seperti biasa, Gus Riza acapkali tak menjelaskan alasan “soal ini dan itu”, kecuali mendemontrasikan senyumnya ala hadlratusy syekh Hasyim Asy’ari. Coba sandingkan foto “Sang Penakluk” dengan “budayawan Tebuireng itu”, begitu kuat goresan kemiripannya itu. Yah, sekurang-kurangnya versi “Gus Riza and His Gengg”. Kami memang satu geng dengan Gus Riza, tak cuma sekelas di sekolah, namun di luar pula.

Saya, Abdul Munir Ilham dan Ahmad Zayadi Shofie sowan “wada” kepada Yai Ka’, “Yai, nyuwun didunga’akan, bade pamit nerasaken studi ten Yogyakarta”. Apa reaksi beliau ? Seperti yang sudah sudah, sangat efisien kata. “Yo, tak dungakno lancar. Serius olehe sekolah”, ujar beliau sembari tersenyum. Habis itu “nylimur”, topik pembicaraan ke sana ke mari, termasuk merasa kekurangan lawan tangguh dalam bermain sepakbola.

Perlu diketahui, saya selalu berposisi di pihak lawan bila bermain sepakbola dengan Yai Ka’. Sementara, almarhum adik kandung saya, Syafi’ Abdurrahman, bersama ustadz Marsyam yang selalu di pihak Yai Ka’ sebagai defender. Perhatikan, saya rasa tak sedikit yang menyimpulkan dan memberi stigma Yai Ka’ tradisional, konservatif dan sejenisnya, namun betapa liberalnya pesan beliau kepada kami. Tidak ada arahan panjang lebar begini dan begitu, yang seolah menganggap kami sudah bisa bersikap dan menjatuhkan pilihan yang terbaik. Padahal, sejatinya kami sangat butuh beliau bertaushiyah panjang lebar sebagai bekal kami. Apalagi, di Yogyakarta yang kota pelajar, budaya dan miniaturnya Indonesia menyembulkan kehidupan yang begitu bebas. Tak cuma bebas dalam budaya pemikiran, tetapi relasi antar manusia dan lawan jenis.

Eh, Yai Ka’ sekedar memberi bekal di kantong kami, yang jika dikemas dalam password : SERIUS ! Walau satu kata, namun sebenarnya begitu dalam pengertian dan menjadi penentu kesuksesan studi, bahkan dalam melakukan apapun. Serius, “jadda”, merupakan spirit profesionalisme. Meraih derajat apa saja, status apapun dan meraih keberhasilan di mana : mana ada yang minus serius. Kendati, yang tak kalah membekas kala Yai Ka’ mengantarkan kepergian kami, sikap liberasi beliau dalam mendidik. Tugas pendidik sekedar membangkitkan kesadaran dan selebihnya murid sendiri yang mengembangkan kualitas. Mirip mirip Pikiran Paulo Friere dan Ivan Illich ya ?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

SebelumnyaGus sholah: Hubungan Alumni dan Pesantren Tebuireng Harus Lebih Dipererat
BerikutnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (57)