MINDSET AQIDAHNYA DULU

Perhatin Yai Ka’ terhadap berbagai khazanah keilmuan keagamaan sangat tinggi. Bahkan, koleksi kitabnya di atas rata rata kiai. Entah berapa meter jika dijajar atau berapa banyak jumlahnya bila dihitung. Yai Ka’ nyantri di pesantren Tebuireng tahun 1953-an, pasca menyelesaikan sekolah SD atau sederajat dan beliau “tamat” studinya tahun 2015. Long life education, thul al-zaman ber-thalab al-‘ilm, langka dan sulit ditandingi. Bayangkan, 62 tahun Yai Ka’ nyantri dan sekaligus didaulat menjadi kiai.

Kalau saja beliau membeli sebuah kitab tiap bulannya, sudah berapa mengisi perpustakaan pribadi Yai Ka’. Namun yang menjadi tekanan dalam tulisan ini, mengapa Yai Ka’ begitu adreng dan memilih aqidah dan etika sebagai hidangan keilmuan santri santri-nya. Selalu saja, lewat pengajian rutin dan khataman di bulan ramadhan, tema aqidah dan etika mendoninasi. “Tauhid iku pokok, genah fauhide yo genah liyane. Beres tauhide, beres fiqh-ie. Tauhid iku koyok fundamen bangunan. Apik fundamene, kuat sing nyonggo bangunane”, tutur Yai Ka’ simpel.

Ini menjawab kencangnya pertanyaan, mengapa Yai Ka’ nyaris kitab yang dibacanya adalah tauhid. Logis, reasoningnya demikian kuat dan mencerminkan nalar yang kokoh. Sisi keimanan atau aqidah merupakan penentu “benar tidaknya tauhid seseorang”. Maka menurut Yai Ka’ mindset aqidah santri harus ditata dulu, baru yang lain mudah diluruskan. Kalau saja aqidahnya bengkok, berpengaruh pada bengkoknya praktek fiqh-nya. Beruntunglah para santri, materi aqidah yang beraroma filsafat, ditangan Yai Ka’ menjadi tak terlalu rumit. Padahal ilmu aqidah–dari perspektif namanya sudah terjadi silang pendapat di kalangan internal tokoh tokohnya–ada menyebut ilmu kalam, ada yang memilih istilah fiqh akbar dan ada pula yang menamai teologi.

Tak heran bila teologi dan mistisisme dalam studi di Pasca Sarjana diberi ruas waktu empat semester. Catatan menariknya, kegandrungan Yai Ka’ akan ilmu aqidah menghembuskan praktik keagamaan beliau yang terasa efisien, karena yang lain adalah metoda, kaifiyah dan teknis. Seolah hendak dikatakan, “ngapain kita ribut pada hal gal teknis”. Mesti tentu, tak mengurangi kesyahduan beribadah, justru menambah kedalaman tadharru’, takhasyu’ dan ta’abbud.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

 

 

SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (52)
BerikutnyaPK IPNU Tebuireng Kuatkan Kaderisasi dengan Makesta