Oleh: Fitrianti Maryam*

Sosok Mariyah Al-Qibtiyah

Mariyah Al-Qibtiyah adalah seorang wanita mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, seorang Raja penguasa Mesir –bawaan kerajaan Bizantium- kepada Rasulullah SAW. Pada tahun 7H, Rasulullah menerima hadiah itu. Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, dulunya Mariyah Al-Qibtiyah adalah seorang budak yang dibebaskan oleh Rasulullah dan kemudian beliau nikahi. Beliau memperlakukan Mariyah seperti halnya memperlakukan istri-istri yang lainnya.

Para sahabat seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pun memperlakukan Mariyah Al-Qibtiyah layaknya seorang Ummul Mu’minin (Ibu kaum orang-orang yang beriman). Ia adalah satu-satunya Istri Rasulullah yang melahirkan seorang putra bernama Ibrahim, yang meninggal ketika masih kecil, setelah Sayyidah Khadijah.

Nasab Mariyah Al-Qibtiyah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tentang nasab Mariyah Al-Qibtiyah, tak banyak yang bisa diketahui kecuali nama ayahnya. Adapun nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syam’un. Mariyah dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dari suku Qibti dan Ibunya adalah penganut agama Masehi yang berpusat di Romawi. Setelah beranjak dewasa, Mariyah bersama dengan saudara perempuannya, Sirrin, diperkerjakan pada Raja Muqauqis.

Sirrin juga turut dikirimkan oleh Raja Muqauqis kepada Rasulullah dan kemudian Rasulullah memberikannya kepada penyair muslim yang bernama Hasan bin Tsabit.

Perjalanan Mariyah Al-Qibtiyah, dari Mesir menuju Madinah

Suatu ketika Rasulullah mengirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Balta’ah, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, yang merupakan utusan resmi pemerintahan Islam kepada Muqauqis untuk menyerukan dan mengajak rakyat Mesir untuk mengikuti ajaran Islam. Surat tersebut menyeru agar Raja memeluk Islam. Raja Muqauqis menyambut Hatib dengan hangat. Hanya saja, Sang Raja belum bisa untuk menerima agama yang dianggap baru itu.

Raja Muqauqis menolaknya dengan ramah, tanpa menunjukkan rasa benci lebih-lebih menghina agama baru itu. Justru Sang Raja mengirimkan Mariyah, Sirrin dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah.

Dalam perjalanan menuju kota Madinah, Hatib bin Balta’ah adalah orang yang diberi kepercayaan untuk menyampaikan hadiah-hadiah tersebut kepada Rasulullah. Di tengah perjalanan Mariyah Al-Qibtiyah tampak murung dan sedih, karena harus meninggalkan kota kelahirannya. Hatib pun menghibur mereka. Ia menceritakan tentang Rasulullah dan Islam kepada mereka. Saat itulah Mariyah mendengar banyak tentang Rasulullah dan Islam. Setelah mengetahui antusias mereka tentang kisah Rasulullah dan Islam, kemudian Hatib mengejak mereka untuk memeluk agama Islam. Tanpa banyak bertanya, mereka pun akhirnya menerima seruan Hatib tersebut yaitu  memeluk agama Islam.

Sesampainya di Kota Madinah, Hatib berbegas menghadap Rasulullah dan menyampaikan berita dari Mesir dan menyerahkan hadiah-hadiah pemberian Muqauqis kepada beliau. Betapa terkejutnya Rasulullah melihat Hatib membawa 3 orang budak pemberian Sang Raja. Beliau memilih Mariyah untuk beliau nikahi dan menyerahkan Sirrin kepada penyair kesayangannya, yaitu Hasan bin Tsabit.

Dalam berbagai riwayat, konon, istri-istri Nabi Muhammad sempat cemburu terhadap perempuan mesir yang berparas cantik itu. Hal ini memaksa Rasulullah untuk menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Mu’man yang terletak di samping Masjid Nabawi.

Ibrahim bin Muhammad SAW

Allah Swt. menghendaki Mariyah Al-Qobtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah Saw setelah sayyidah Khadijah. Betapa bahagianya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya; Abdullah, Qasim, dan Ruqayyah meninggal dunia.

Setelah 1 tahun bersama Rasulullah, Mariyah mengandung di Madinah. Kehamilannya itu membuat istri-istri Rasulullah yang lain merasa cemburu karena sudah bertahun-tahun hidup bersama Rasulullah tidak juga dikaruniai satu pun anak dilahirkan dari rahim mereka.

Rasulullah SAW sangat berhati-hati dalam menjaga kandungan istrinya. Akhirnya, pada bulan Dzulhijjah tahun 8H, Mariyah melahirkan bayinya. Betapa bahagianya Rasulullah mendengar kelahiran putranya. Beliau memberikan nama Ibrahim, hal ini tak lain adalah sebuah harapan berkah dari nama kakeknya para Nabi, yaitu Nabi Ibrahim a.s. Rasulullah kemudian memerdekaan Mariyah sepenuhnya.

Kaum muslimin ikut gembira menyambut kelahiran putra Rasulullah, Ibrahim. Akan tetapi suasananya sedikit berbeda di rumah istri-istri Rasulullah. Mereka cemburu kepada Mariyah, begitu juga Sayyidatina Aisyah. Sebuah perasaan yang Allah Swt dominankan kepad kaum hawa, dan rasa cemburu itu semakin besar ketika mereka tahu rahasia pertemuan Rasulullah bersama Mariyah di rumah Hafshah. Sedangkan saat itu, Hafshah tidak berada di rumah. Hafshah juga marah. Atas kemarahan Hafsah ini Rasulullah mengharamkan Mariyah atas diri Beliau. Kemudian turunlah sebuah ayat dari Allah Swt yang menegur Rasulullah Saw,

“Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan atas apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. At-Tahrim ; 1)

Beberapa orang munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak dari hubungan gelapnya bersama Maburi, budak yang juga dihadiahkan oleh Muqauqis bersama dengan Mariyah dan Sirrin dahulu. Maburi menjadi pelayan Mariyah dan sering mengunjungi Mariyah. Akan tetapi Allah mengungkap kebohongan itu dan menunjukkan kebenaran bahwa saat Ali menghunuskan pedang lepas dari sarungnya kepada Maburi, -ketika Maburi diperintah Rasulullah untuk menemuinya kala benar berada di kamar Mariyah,- Maburi menuturkan bahwa ia adalah laki-laki yang sudah dikebiri oleh Raja Muqauqis.

“Segala puji bagi Allah Swt yang telah menyelamatkan keluarga ini.” Kata Rasulullah SAW.

Setelah lahir, Ibrahim tumbuh sebagaimana bayi pada umumnya. Dan Rasulullah pun bahagia dan menyayanginya.

Dikisahkan oleh Bazar dari Anas bin Malik, “Ketika Ibrahim bin Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari rahim Mariyah, terjadi sesuatu dalam diri beliau.” Setelah usianya mencapai umur dua tahun, Ibrahim justru jatuh sakit sampai meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirrin selalu menunggui Ibrahim.

Suatu hari bertambah parah sakitnya, Nabi Muhammad bersama Abdurrahman bin Auf ke tempat Mariha. Ketika sakit semakin parah, ia telah mengalami sekarat, dan Rasulullah Saw berkata, “Wahai Ibrahim kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah SWT.” Rasulullah kemudian menitikkan air mata, dan Ibrahim pun meninggalkan Rasulullah SAW dan Ibunya, dan menghadap kepada Sang Pencipta.

Mariyah mencoba merelakan kepergian putra satu-satunya, dan lirih mengucapkan; “innalillahi wa inna ilaihi raji’uun”. Kemudian jenazah Ibrahim diurus oleh Rasulullah sendiri untuk kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi’.

Kisah Mariyah Al-Qibtiyyah belum usai. Setelah Rasulullah tiada. Mariyah hidup menyendiri. Kali ini, ia hanya beribadah kepada Allah. Ia wafat setelah lima tahun wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun 46H. Saat itu kursi khilafah dipegang oleh Umar bin Khattab. Khalifah Umar sendiri turut meshalati jenazah Sayyidah Mariyah untuk kemudian dikebumikan di pemakaman Baqi di Madinah bersama dengan para Istri Rasulullah yang lainnya.

Sumber: Qisshah min Hayat as-Shalihat karya Syaikh Muhammad bin Hamid bin Abdul Wahad- Dar at-taqwa, Kairo-Mesir (Penerjemah Fahim Kasani, Lc.)

*Alumni Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaZiarah Kubur, Mengingatkan Kematian & Kehidupan Akhirat
BerikutnyaDakwah Transformatif Syekh Ali Jaber