Ziarah Kubur Mengingatkan Kematian & Kehidupan Akhirat

305
sumber gambar: https://www.santrionline.net

Oleh: Zaka*

Laksana pengembara, manusia hidup di dunia ini bukan tiada akhir. Mereka suatu saat akan kembali ke hadirat Allah Yang Maha Agung, kapan dan di mana pun tanpa ada yang tahu. Namun, gemerlap dunia tak jarang membuat manusia menjadi lupa dan buta bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan sementara guna mencari bekal yang cukup untuk kehidupan yang kekal di akhirat. Mereka tidak menyadari bahwa kematian setiap saat akan menjemputnya. Oleh karenanya, Islam berusaha mengembalikan ingatan kepada setiap orang tentang hakikat hidup di dunia ini dengan menganjurkan ziarah kubur sebagai sarana mengingatkan akan kehidupan akhirat.

Ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Dengan berziarah, melantunkan zikir dan doa-doa menjadi sarana (wasilah) seorang hamba untuk menghormati para pendahulu, mendoakan mereka, atau merenungi hidup yang kelak pasti akan berakhir. Anjuran ziarah kubur tersebut dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Turmudzi di mana Rasulullah Saw bersabda:

عن علقمة بن مرثد عن سليمان بن بريدة عن أبيه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قد كنت نهيتكم عن زيارة القبور فقد أذن لمحمد في زيارة قبر أمه فزوروها فإنها تذكر الآخرة

“Rasulullah SAW bersabda, sungguh (dulu) aku telah melarang kalian untuk berziarah kubur, kemudian telah diizinkan bagi Muhammad untuk berziarah ke makam ibunya, maka berziarah kubur kalian, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan akan akhirat.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hadis di atas menegaskan bahwa di awal kemunculan Islam, Rasulullah SAW pernah melarang setiap muslim untuk berziarah kubur, karena beliau berpandangan bahwa mereka masih dalam masa peralihan dari tradisi jahiliyyah, sehingga dikhawatirkan bukan ziarah ala Islam, namun justru tindakan-tindakan khas jahiliyyah yang mereka lakukan. Setelah dirasa memiliki keimanan kuat dan kebiasaan-kebiasaan masa lalu ditinggalkan, kemudian beliau memperkenankan meraka untuk berziarah kubur.

Dalam pelaksanaan ziarah kubur Islam telah mengatur dan mengajarkan kepada umatnya tentang tata cara dalam ziarah kubur yang baik: pertama, bagi peziarah dianjurkan dalam keadaan suci, berpakaian yang sopan dan menutup aurat.

Kedua, ketika memasuki area pemakamaan disunahkan membaca salam kepada ahli kubur. Bentuk salam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW adalah (dalam kitab shahih Muslim):

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاَحِقُونَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian (wahai penghuni kubur), dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Dan aku-seandainya Allah menghendaki, pasti aku akan menyusul kalian.”

🤔  Seri Tradisi Pesantren (2) Identitas Keilmuan Pesantren

Atau juga doa sebagai berikut;

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ. اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ

“Semoga keselamatan atas diri kalian, kaum mukmin penghuni kubur, aku-seandainya Allah menghendaki, pasti akan menyusul kalian. Ya Allah, janganlah engkau halangi kami akan pahalanya, dan jangan engkau memberi fitnah sepeninggalnya.”

Ketiga, setelah membaca salam di atas, kemudian peziarah mendekat pada makam yang diziarahi (posisi duduk) sambil membaca tahlil, atau Al Quran secukupnya yang dihadiahkan kepada mayit tersebut semisal surat Yasin. Sebagaimana hadis riwayat Abi Daud; “bacalah surat Yasin pada orang-orang yang mati di antara kamu.” Setelah dirasa cukup, maka diakhiri dengan membaca doa.

Perlu diperhatikan juga, ketika dalam ziarah kubur seorang tidak diperkenankan melakukan tindakan-tindakan yang dilarang agama, semisal permohonan meminta rezeki langsung kepada ahli kubur, memberikan sesajen yang ia yakini akan membahagiakan ahli kubur, dan sebagainya. Berbeda dengan tawasul, bahwa tawasul itu sejatinya berdoa kepada Allah melalui suatu perantara baik perantara tersebut berupa amal yang baik kita atau melalui waliyullah yang dianggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah. Maka tawasul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul menyakini hanya Allah-lah yang mengabulkan semua doa.

Selain itu, disunahkan bagi kita memperbanyak ziarah kubur, terutama terhadap orang-orang saleh atau waliyullah, tidak lain adalah untuk bertawasul dan bertabarukan (mengambil berkah) di makam tersebut, dan juga dengan tujuan agar doa yang selama kita panjatkan dapat segera dikabulkan oleh Allah. Terdapat riwayat yang disampaikan oleh al Hafidz al Khotib al Baghdadi dalam tarikhnya, bahwa al Imam As Syafi’i bertabarukan di makam al Imam Abu Hanifah. Adapun riwayatnya sebagai berikut:

“telah mengabarkan kepada kami al Qadli Abu Abdillah al Husain bin Ali  bin Muhammad as Shoimari, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Mukarram bin Ahmad, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Ali bin Maimun, ia berkata: aku mendengar Imam As Syafi’i berkata: “sesungguhnya aku benar-benar bertabrruk dengan Imam Abu Hanifah. Aku datang ke kuburnya setiap hari, yakni untuk berziarah. Apabila aku mempunyai hajat (keperluan), aku pun shalat dua rakaat lalu datang ke makamnya berdoa kepada Allah untuk hajat tersebut di sisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku terpenuhi.” (Tarikh Baghdad lil Khotib al Baghdadi, Juz 1 halaman 445)

Semoga dengan memperbanyak ziarah kubur kita dapat mengambil pelajaran dan menambah keimanan dalam mempersiapkan kehidupan kelak di akhirat. Amiin yaa rabbal ‘alamiin. Wallahu ‘alam bisshowab.

*Penulis adalah alumnus Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.