Santri Putri Pondok Pesantren Tebuireng menyimak pengajian kitab di bulan Ramadan. (foto: Anis/tebuirengonline)

Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz*

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ibadah yang kita lakukan secara rutin ini, seyogianya dapat meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kegiatan sehari-hari kita, terutama yang berkaitan dengan ibadah. Harus dilandasi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. Mengerjakan amalan ibadah tidak hanya sekedar melaksanakan kewajiban saja. Tetapi harus didasari rasa takut kepada Allah SWT. Hal inilah merupakan bentuk takwa seorang hamba kepada Allah. Allah berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرࣲ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبࣰا وَقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوۤا۟ۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِیمٌ خَبِیرࣱ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha teliti. (Surat Al-Hujurat: 13)

Ayat ini sering disampaikan di dalam khotbah. Dan hal ini sangat penting untuk menjadi perhatian. Kemudian memahami bahwasanya tingkat kemuliaan seorang hamba hanya dilihat dari amalnya.

Di antaranya definisi takwa yang disebutkan dalam kitab Al-Ta’rifat adalah menjaga diri dari siksa Allah dengan cara taat kepada Allah. Hal ini menuntut kita agar memiliki rasa khauf (takut), hingga memunculkan dorongan dan patuh kepada Allah.

Kenapa harus mampu memunculkan rasa khauf, padahal Allah maha mengasihi dan menyayangi. Karena Allah juga memiliki sifat yang syadīdul iqāb, sekaligus juga ghafūrun rahīm. Untuk mengantarkan kepada khauf, maka kita harus membekali diri dengan ilmu. dengan terus berusaha mengenal Allah, melalui sifat dan asmanya. Semisal dengan belajar kitab Aqidatul Awam.

Dan belajar ilmu ini adalah tangga pertama sebelum mempelajari ilmu-ilmu lain. Sebagaimana ditunjukkan Hadratusyaikh dalam Adabul Alim wal Mutaallim. Selain itu, para santri harus paham tentang ilmu-ilmu hati dan penyakit-penyakitnya.

Dari situ dapat kita ketahui pentingnya sebuah ilmu. Karena hanya dengan ilmu, kita dapat menaiki tanggap ketakwaan tanpa kesulitan. Dalam Al-Quran disebutkan:

إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hannyalah para ulama. (Surat Fathir: 28)

Para ulama dengan ilmunya mampu mengantar diri mereka kepada derajat luhur di hadapan Allah SWT.

Dan wafatnya ulama merupakan musibah besar. Sebab kematian mereka, sekaligus merupakan kehilangan ilmu-ilmu. Maka, beruntunglah kita yang masih ditinggali oleh Hadratusyaikh banyak karangan tulis. Sehingga meski dengan kewafatan beliau, ilmunya masih dapat kita pelajari saat ini. Semoga ilmu yang kita dapat, mampu memberi pertolongan di dunia maupun di akhirat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Pengasuh Pesantren Tebuireng.

Pentrnskip: Yuniar Indra

SebelumnyaTradisi Khas Pesantren Saat Bulan Ramadan
BerikutnyaKecamuk Perang Badar di Bulan Ramadan