sumber ilustrasi: twitter.com

Oleh: Mayang Dienalendra*

Salah satu cara hidup yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah hidup ikhlas dan sederhana. Dua hal tersebut dapat saling melengkap agar memperoleh berkah Allah SWT.

Orang yang hidup ikhlas dan sederhana akan merasa cukup atas karunia Allah, bersyukur, tidak mengeluh, serta tidak berlebihan dalam menampilkan diri atau berlebihan konsumtif dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Money Under 30, hidup sederhana atau hidup minimalis merupakan pola hidup yang dijalani dengan tidak berlebihan. Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Furqon ayat 67 yang artinya,

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakan (harta) mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kıkır, diantara keduanya secara wajar.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada saat ini, timbul berbagai macam hidup di tengah masyarakat, diantaranya gaya hidup hedonis dan konsumtif. Orang yang memilik gaya hidup hedon akan rela menghabiskan harta atau kekayaannya demi kesenangan dan gengsi, tak peduli baik atau buruknya, dengan berbagai cara seperti berfoya-foya, berjudi, dan bahkan rela mengonsumsi barang-barang terlarang.

Gaya hidup hedon tidak dapat dipisahkan dari gaya hidup konsumtif. Gaya hidup konsumtif berarti perilaku seseorang yang cenderung mengonsumsi  dan membeli sesuatu secara berlebih-lebihan atau pemborosan untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan sendiri.

Beberapa penerapan gaya hidup sederhana diantaranya adalah sebagia berikut:

Pertama, bergaya sesuai kemampuan. Jadilah dirimu sendiri untuk menjalani setiap harimu. So be your self.

Kedua, mensyukuri setiap pencapaian. Hargai apa yang kamu capai, dan terima apa yang ada karena hidup hidup tak sepenuhnya sempurna

Ketiga, mulai mengendalikan dirinya sempurna. Minimalis soal pernah mengungkapkan bahwa ketika seseorang bisa melepaskan ego sendiri, maka dia bisa mengendalikan dan menikmati hidupnya seadanya.

Keempat, mempertimbangkan seberapa penting barang tersebut. Pilihlah barang sesuai kebutuhan bukan karena keinginan. Jika memiliki sesuatu karena keinginan pasti tidak akan ada ujungnya.

Terdapat sebuah hadits Rasulullah, diriwayatkan dari Ibnu Umar radiallahu ‘anhu sebagai berikut:  اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”

Ingatlah semua yang ada dalam kehidupan dunia ini hanya sementara. Kita boleh mengejar dunia, namun ada kehidupan akhirat yang sudah pasti adanya. Seimbangkan kehidupan dunia dan akhirat dengan menggunakan sebagian harta di jalan yang Maha Kuasa.

*Santri Pondok Putri Pesantren Tebuireng.

SebelumnyaPengkhianatan Itu Terjadi Saat Peristiwa Besar
Berikutnya400 Santri Putra Ikuti Wisuda Takhassus ke-IX dan Bin Nadhor ke-XXII