sumber gambar: rintiksedu, inspirasiwalimah, nyctagina

Oleh: Umdatul Fadhilah*

Di era new normal, menaati protokol kesehatan dalam segala lini kehidupan sehari-hari selalu dihimbau pada seluruh masyarakat Indonesia demi memutus mata rantai covid-19. Hal ini tentu demiki keselamatan semua masyarakat dari virus yang sudah meresahkan hampir setengah tahun di 2020 ini.

Salah satu yang harus ditaati dari new normal ini adalah physical distancing dan social distancing yang akhirnya menjadi kebiasaan baru dalam menjalani aktivitas masyarakat, meski tidak semuanya mematuhi. Selain hal itu, bentuk menjaga kesehatan yaitu seperti menggunakan hand sanitizer beserta menggunakan masker dikala berpergian.

Sebelum adanya corona, masker memang tidak asing dikalangan masyarakat. Masker dapat dijumpai dibeberapa momen, utamanya instansi kesehatan. Dimana masker biasanya dikenakan oleh seorang tenaga medis saat melakukan pemeriksaan maupun operasi terhadap pasien, begitu pula seseorang yang sedang sakit atau memiliki alergi terhadap debu dianjurkan menggunakan masker.

Bagi para pengguna kendaraan roda dua, beberapa telah memilih menggunakan masker untuk menghindari polusi udara dan melindungi diri dari paparan debu maupun menghalau panas. Penumpang bus beserta kereta beberapa juga menggunakan masker untuk melindungi diri dari debu maupun pendingin di dalam kendaraan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, semenjak melonjaknya angka positif covid-19 beberapa bulan lalu, permintaan masker kian membludak hingga beberapa apotek membuat aturan pembelian masker tidak boleh satu pak. Bahkan hampir sebagian masker dibeberapa apotek persediaan masker telah habis. Harga masker melonjak tinggi, bisa sekitar tiga kali lipat harga sebelumnya.

Oleh karenanya sebagian masyarakat memproduksi masker kain sebagai pengganti masker kesehatan yang hanya sekali pakai. Masker kain telah ada sebelum adanya pandemi, namun permintaannya tidak sebanyak saat puncak covid-19 yang membuat resah dan membuat masyarakat merasa harus menggunakan masker baik di dalam rumah atau bahkan saat ke luar rumah.

Beberapa daerah di Indonesia penggunaan masker saat berpergian menjadi hal utama. Ada sanksi tersendiri apabila melanggar peraturan ini. Hal ini membuat setiap masyarakat memiliki lebih dari satu masker, karena sudah seperti pakaian yang selalu dipakai setiap harinya. Bahkan acara pernikahan ditengah pandemi menjadi sesuatu yang unik. Kedua mempelai diharuskan mengenakan masker.

Hal tersebut tentu mengganggu penampilan dan estetika pengantin yang umumnya mengenakan kebaya bagi perempuan dan jas bagi lelaki. Adapun demikian beberapa perias mampu menjadikan pengantin perempuan tetap pada estetika selayaknya tanpa melanggar aturan pemerintah.

Gaun pengantin sudah disesuaikan dengan kondisi pernikahan saat ini. Beberapa sudah memiliki gaun pernikahan yang telah didesain khusus beserta masker yang akan digunakan mempelai perempuan. Adapun masker yang dipakai sangat serasi dengan gaun yang dipilih sehingga tidak mengurangi nilai keindahannya.

Banyak pengusaha baju muslimah yang mulai memproduksi masker sesuai minat konsumen di era milinial. Masker dibuat semodis mungkin, menyesuaikan outfit perempuan di masa kini. Utamanya para muslimah. Tidak jarang beberapa outlet menjual produknya sepasang, seperti pakaian muslimah, jilbab, dan masker yang senada.

Salah satunya outlet milik Nycta Gina seorang dokter yang juga entertaint, ia memproduksi masker dengan berbagai motif yang kekinian. Kemudian Rintik Sedu seorang penulis muda juga memproduksi masker dengan ciri khasnya. Serta masih banyak lagi pengusaha lainnya yang juga tidak kalah kreatif.

Hal ini menjadi outfit terbaru para muslimah di tahun 2020. Menambah peluang bagi para produsen, memberikan kebutuhan bagi para konsumen, serta menaati aturan pemerintah tanpa menghilangkan estetika outfit sehari-hari.

*Mahasiswa Unhasy, saat ini nyantri di Pondok Pesantren Walisongo Jombang.

SebelumnyaSekaliber KH. Hasyim Asy’ari Saja Merasa Kurang Amal, Kita?
BerikutnyaSelayang Pandang Perjalanan KH. Lutfi Sahal