Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #30

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan kiai yang cukup sibuk. Hari-harinya dipadatkan dengan berbagai aktivitas. Selain jadwal mengajar yang padat hingga malam hari, beliau juga berdagang di pasar, kadang ke luar kota, bercocok tanam, memantau para pekerjanya, hingga menerima tamu dan berorganisasi. Sebagai manusia biasa, tentunya Kiai Hasyim pernah merasa letih atau lelah usai melaksanakan rutinitas harian yang padat. Beliau bahkan pernah menangis saat baca Al Quran.

Namun, semua kesibukan itu, tidak menghalangi ibadah beliau sebagai bentuk kedekatan kepada Allah sang pencipta dunia akhirat dan seisinya. Kedekatan itu, tercermin dalam beberapa kisah yang disaksikan oleh keluarga dan santri-santri beliau. Sebuah teladan bahwa semua urusan dunia, tidak boleh mengalahkan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah.

Dikisahkan, ketika Hadratussyaikh merasa amat letih karena siang harinya menghadiri kongres Nahdlatul Ulama (NU) di Malang, beliau tidak bisa memberikan pelajaran di malam hari kepada para santri. Sehabis shalat Isya beliau beristirahat tidur sangat pulas. Kiai Hasyim baru bangun pada pukul setengah tiga malam. Beliau langsung mengambil air wudu, berpakaian rapi dan menjalankan salat tahajud.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Meskipun pada siang harinya belum makan, beliau tidak juga makan di malam hari, padahal persediaan makanan masih ada. Selesai shalat tahajud diiringi dengan wirid dan doa yang panjang, beliau mengambil Al Quran lalu dibacanya dengan perlahan-lahan sambil menghayati maknanya. Ketika sampai pada surat ad Dzariyat ayat 17-18 yang berbunyi:

كَانُوْا قَـلِيْلاً مِن اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ – وَ بِاْلاَسْحاَرِهُمْ يَسْـتَغْفِرُوْنَ

“Mereka (para shahabat Nabi) sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu sahur (akhir malam) mereka memohon ampun [Ad-Dariyat:17-18].

Seketika itu beliau menghentikan bacaannya. Lalu keluar dari lisan sang kiai, suara tangis terisak-isak. Sejurus kemudian air mata telah membasahi jenggotnya yang sudah memutih. Kiai Hasyim merasa bahwa pada malam itu beliau terlalu banyak tidur.

Sambil menengadahkan tangan, beliau berdoa, ”Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, dan berilah hamba kekuatan serta ketabahan untuk melaksanakan segala perintah-perintahMu.” Kemudian beliau bangkit dari tempat duduknya menuju tempat shalat, lalu bersujud kepada Allah memohon ampun. Lisannya terus membaca tasbih.

Peristiwa seperti ini terjadi berulangkali. Setiap kali membaca ayat-ayat tentang siksa, ancaman, dan murka Allah, atau ayat-ayat yang menerangkan perintah-perintah Allah yang terlupakan oleh kaum muslimin, beliau selalu meneteskan air mata.

Kalau saja itu kita, tentu akan muncul dalam benak kita “Ya Allah capek sekali. Lansung tidur saja ya, lansung makan saja ya lapar, atau ungkapan mengeluh lainnya”. Kiai Hasyim juga manusia, merasakan sakit, lapar, mengantuk, capai, dll, tapi beliau tidak mau meninggalkan kewajiban sebagai hamba kepada penciptanya. 

Dalam kisah lain, suatu malam, Kiai Hasyim berniat tidur sejenak guna mengistirahatkan badan. Ketika sampai di tempat tidur, terdengar suara seorang santri dari masjid sedang membaca Al Quran:

 يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١) قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا (٥) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلا (٦) إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلا (٧) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلا (٨) رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا (٩

”Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari kecuali sedikit (dari padanya). Atau lebih dari seperdua (malam), dan bacalah al-Quran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu di siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” [al Muzammil: 1-9].

Mendengar ayat itu, Kiai Hasyim yakin bahwa ini adalah teguran dari Allah SWT melalui santrinya. Allah menegurnya agar tetap beribadah, jangan bermalas-malasan menuruti hawa nafsu. Akhirnya keinginan untuk tidur dibatalkan. Kalau kita? Kasur lebih mempesona dari pada sajadah dan lantai masjid. Lebih nyaman di dalam kamar dari pada udara malam yang melewati sela-sela jendela tempat sholat. Lebih baik menyelimuti diri sendiri dengan kain, dari pada dengan doa-doa munajat kepada-Nya.

Selain menjadi teladan sebab perjuangannya mendidik santri dan umat, serta kepiawaiannya dalam bersosialisasi, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan sosok yang ahli beribadah. Shalat jamaah tepat waktu, shalat sunnah dijalankan, terutama shalat malam. Suatu ketika ada cerita di mana Kiai Hasyim terkena demam berat yang cukup membuat keluarga dan para santri khawatir.

Kejadian itu terjadi pada 1943. Kiai Hasyim diserang demam yang sangat hebat. Namun, namanya juga Hadratussyaikh yang tak mau ketinggalan jamaah, ketika telah masuk waktu Dhuhur, beliau memaksakan diri bangkit dari tempat tidur menuju kolam (tempat wudu) untuk mengambil air wudu padahal untuk berjalan saja kesulitan, karena lemas.

Untuk itu, dua putranya, kemungkinan salah satunya merupakan Kiai Abdul Karim, memapah sang ayah menuju masjid untuk shalat berjamaah. Setelah mengambil air wudu, beliau memakai baju rapi disertai sorban untuk menuju masjid. Melihat hal ini, putra-putranya khawatir dan mencoba membujuk Kiai Hasyim agar shalat di rumah saja. Salah seorang putranya, Kiai Abdul Karim, berkata, ”Ayah, demam ayah sangat parah. Sebaiknya ayah shalat di rumah saja!”

Kiai Hasyim menolak dengan menjawab, ”Ketahuilah anakku, api neraka itu lebih panas dari pada demamku ini!”. Kemudian beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju masjid dengan dipapah.

Terkena udara luar malah memperparah sakit Kiai Hasyim. Sepulang dari masjid, badan Kiai Hasyim makin lemah dan parah. Sanak famili dan putra-putrinya berdatangan. Badannya terbujur lemah di atas tempat tidur. Kedua matanya terpejam tak sadarkan diri. Tapi tak lama kemudian, matanya terbuka seraya meneteskan air mata.

Adik perempuannya (tidak sebutkan namanya) bertanya, ”Di manakah yang terasa sakit, kakak?” Jawaban Kiai Hasyim atas pertanyaan adik Kiai Hasyim cukup mencengangkan. Dengan nada sedih, Kiai Hasyim menjawab, ”Aku menangis bukan karena penyakitku, bukan pula karena takut mati atau berat berpisah dengan famili. Aku merasa belum mempunyai amal saleh sedikitpun. Masih banyak perintah-perintah Allah yang belum aku kerjakan. Alangkah malunya aku menghadap Allah dengan tangan hampa, tiada mempunyai amal kebaikan sedikitpun. Itulah sebabnya aku menangis.”

Sekaliber ulama kharismatik KH. Hasyim Asy’ari saja merasa bahwa amal perbuatannya sebagai bekal mengadap Allah kurang. Padahal semua orang juga tahu, bahwa beliau adalah panutan, rajin beribadah, dan suka bersedekah. Namun, Kiai Hasyim sendiri menyadari bahwa hal itu belum cukup sebagai garansi saat bertemu Allah. Kiai Hasyim malu untuk bertemu Allah, sedangkan beliau merasa amal kebaikannya masih sedikit.

Kisah demam hebat yang menyerang Kiai Hasyim ini memberikan kita pelajaran, betapapun kita sudah berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita tidak boleh merasa puas dengan ibadah itu dan terus berusaha menambah amal kebaikan. Kiai Hasyim yang ibadahnya tidak bisa diragukan itu saja merasa malu bertemu Allah karena merasa amalnya masih dikit, apalagi kita yang amal baiknya masih sangat sedikit ini. Semoga bermanfaat. 

Begitulah kedekatan Kiai Hasyim dengan Sang Khalik. Sinyal kalam Ilahi cepat menerobos relung hati beliau lalu menggugahnya secara spontan. Kedekatan itu tentu tidak sembarang orang bisa merasakan. Kiai Hasyim merupakan ulama berjiwa sosial, tetapi juga ahli ibadah yang tidak mau melewatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak membiarkan quality time-nya dengan Allah hilang begitu saja. Patut menjadi teladan bagi kita semua. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Sumber:

  • Profil Pesantren Tebuireng karya A. Mubarok Yasin dkk diterbitkan Pustaka Tebuireng tahun 2011.
  • Bapak Umat Islam Indonesia, karya Akarhanaf (KH. Karim Hasyim), Pustaka Tebuireng, 2018

*Penulis adalah Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

 

SebelumnyaPangkoarmada II Ziarah ke Makam Tokoh NU di Teburieng
BerikutnyaDesain Masker Jadi Outfit Muslimah di Era New Normal