Oleh : Syofi dan Afifah*

Di antara perempuan yang banyak meriwayatkan hadis adalah Sayyidah Aisyah binti Abu Bakar, salah satu istri Rasulullah. Salah satu murid yang meriwayatkan darinya adalah Amrah. Siapakah ia?

Amrah binti Abdurrahman, nama lengkapnya Amrah binti Abdurrahman bin Sa’ad bin Zurarah bin Adas Al-Anshariyah an-Najjariyah al-Madaniyah, kakeknya termasuk generasi sahabat besar dari kaum Anshar. Ibunya bernama Salimah binti Hakim bin Hasyim bin Qawalah. Dalam beberapa teks hadis hanya dikutip Amrah saja. Ia lahir pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, sekitar tahun 29 H/ 629 M. Terkenal sebagai perempuan ulama yang memiliki segudang ilmu pengetahuan terutama di bidang keagamaan, lantaran kedekatan serta didikan dengan Sayyidah Aisyah binti Abu bakar, salah satu istri Rasulullah.

Imam Ibnu Ishaq alfazari dalam bukunya As-Siyar dan Ibnu Saad dalam at-Thabaqat menulis “Ia adalah perempuan yang sangat cerdas dan kuat hafalan. Ia memperoleh banyak sekali hadis dari Sayyidah Aisyah”. Keilmuannya diakui oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz, Al-Qasim bin Muhammad, serta Imam Az-Zuhri.

Imam Az-Zuhri yang mendapatkan keterangan dari Al-Qasim, langsung menemui Amrah, lantas ia berkata ,”Aku menemukan Amrah, seorang perempuan yang ilmunya bagai lautan.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain banyak hadis yang dihafal, Imam Adz-Zahabi mengatakan bahwa Amrah adalah perempuan ulama, ahli fiqih, cerdas, argumentator, dan kaya pengetahuan. Riwayat hadis darinya terdokumentasi di dalam buku-buku Islam.

Amrah wafat pada 106 H di usianya yang ke 77 tahun, sebagian kalangan mengatakan ia wafat pada tahun 98H/698 M[1]

Beberapa Hadis yang diriwayatkan Amrah.

  1. Hukum pencurian

حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الوَارِثِ، حَدَّثَنَا الحُسَيْنُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَتْهُ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، حَدَّثَتْهُمْ: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «تُقْطَعُ اليَدُ فِي رُبُعِ دِينَارٍ»[2]

Artinya : Telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Maisarah, telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Muhammad bin Abdurrahman al-Ansori, dari Amrah binti abdurrahman, telah menceritakan kepada mereka Aisyah r.ah dari Nabi SAW, bersabda : Tangan pencuri dipotong karena ( mengambil ) empat dinar ( Muttafaqun ‘alaih dan lafadznya menurut riwayat Imam Bukhari)

  1. Saudara seibususu adalah mahram

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ عَمْرَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ، أَخْبَرَتْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ عِنْدَهَا، وَإِنَّهَا سَمِعَتْ صَوْتَ رَجُلٍ يَسْتَأْذِنُ فِي بَيْتِ حَفْصَةَ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَذَا رَجُلٌ يَسْتَأْذِنُ فِي بَيْتِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أُرَاهُ فُلَانًا» – لِعَمِّ حَفْصَةَ مِنَ الرَّضَاعَةِ – فَقَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوْ كَانَ فُلَانٌ حَيًّا – لِعَمِّهَا مِنَ الرَّضَاعَةِ – دَخَلَ عَلَيَّ؟ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، إِنَّ الرَّضَاعَةَ تُحَرِّمُ مَا تُحَرِّمُ الْوِلَادَةُ»[3]

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya Ia berkata, saya membaca di depan malik dari Abdullah bin Abu Bakar, dari Amrah sesungguhnya Aisyah mengabarkan padanya bahwa ketika Rasul bersamanya, dan Ia mendengar seorang laki-laki meminta izin untuk bertemu Rasulullah di rumah Hafshah, Aisyah berkata ‘Saya berkata ‘ya Rasulullah ada seseorang yang meminta izin bertemu denganmu di rumah Hafshah’, Rasulullah bersabda ‘saya kira ia adalah si fulan – pamannya Hafshah dari sesusuan- , Aisyah bertanya : ‘ya Rasulullah, sekiranya si fulan – pamannya Aisyah dari sesusuan – masih hidup bolehkah masuk ke rumahku ? Rasulullah bersabda ‘Ya, sesungguhnya hubungan sesusuan menyebabkan haram hal-hal yang diharamkan hubungan karena kelahiran.

Dan masih banyak lagi hadis yang diriwayatkan amrah yang terdapat di dalam kitab-kitab hadist. Dari sosok Amrah ini kita ketahui bahwa seorang perempuan pun bisa punya peran penting dalam suatu bidang keilmuan, dengan pribadi yang cerdas dan beperngetahuan luas.


[1] .  Perempuan Ulama di atas panggung sejarah karya KH. Husein Muhammad

[2] . Sahih Bukhori no. 6791

[3] . Shohih Muslim no. 1444


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaSolusi Konflik Israil-Palestina Perspektif Al-Quran
BerikutnyaBahas Perbaikan Kamus Sejarah Indonesia, Hilmar Farid Sowan ke Tebuireng