Oleh: Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari

Ada beberapa tanda yang menunjukkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Jika seseorang telah memiliki tanda-tanda ini, berarti benarlah cintanya kepada Nabi SAW Jika tidak, maka cintanya itu tidak benar dan dia hanya mengaku-ngaku saja.

Di antara tanda-tanda cinta kepada Nabi SAW adalah mensuritauladani Nabi SAW, melaksanakan sunnahnya, mengikuti sabda-sabdanya dan mencontoh perbuatan-perbuatannya, melaksanakan perintah-perintahnya, menjauhi larangan-larangannya, dan berakhlak dengan akhlaknya, baik dalam keadaan sulit atau mudah, baik dalam keadaan senang atau tidak senang, karena Allah Ta’ala telah berfirman :

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ  

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah saya, nisacaya Allah akan mencintaimu”. [1]

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lalu, lebih mengutamakan tuntunannya dari pada hawa nafsunya, dan menganjurkan untuk mengamalkannya dari pada menuruti keinginan nafsunya, karena ada hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra., “Rasulullah SAW pernah bersabda pada saya:

يَا بُنَىَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِىَ لَيْسَ فِى قَلْبِكَ غِشٌّ لأَحَدٍ فَافْعَل

Wahai anakku, jika kamu mampu untuk masuk waktu pagi dan sore dengan tanpa kepalsuan (pengkhianatan) di dalam hatimu, maka lakukankanlah”.[2]

Kemudian beliau bersabda lagi pada saya:

وَ ذَلِكَ مِنْ سُنَّتِيْ وَ مَنْ أَحَيّى سُنَّتِيْ فَقَدْ أَحَبَّنِيْ وَ مَنْ أَحَبَّنِيْ كَانَ مَعِيْ فِيْ الْجَنَّةِ

Demikian itu adalah sunnahku, dan barangsiapa menghidupkan sunnahku, maka dia benar-benar telah mencintaiku, dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersama saya di surga”.[3]

Maka barangsiapa memiliki sifat-sifat tersebut di atas, maka dia adalah orang yang sempurna cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa mengingkari sebagian dari hal-hal tersebut diatas, maka berkuranglah cintanya, dan tidak keluar dari nama cinta (tetap dianggap pencinta Nabi SAW). Dalilnya adalah sabda Nabi SAW kepada sebagian orang yang memberikan hukuman pada orang yang minum khamer (minuman keras) dengan melaknatnya, lalu Nabi SAW bersabda :

لاَ تَلْعَنْهُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Janganlah kamu melaknat dia, karena dia itu mencintai Allah dan Rasul-Nya”.[4]

Diantara tanta-tanda cinta Nabi SAW adalah banyak menyebut (nama) Nabi SAW, karena orang yang mencintai sesuatu pasti dia banyak menyebutnya.

Diantara tanda-tanda cinta Nabi SAW adalah sangat rindu untuk bertemu dengannya, karena setiap orang yang cinta, pasti senang untuk bertemu orang yang dia cintai.

Diantara tanda-tanda cinta Nabi SAW yang disertai dengan menyebut-nyebut beliau adalah sangat mengagungkan beliau dan menghormati beliau di saat menyebutnya, dan memperlihatkan kekhusyuan dan tawadhu’ saat mendengar nama beliau. Syaikh Abu Ibrahim Ishaq at Tajibi berkata, ”Para sahabat Nabi SAW, sepeninggal beliau, mereka tidaklah menyebut Nabi SAW melainkan mereka sangat khusyu’ dan mengkerut kulit mereka dan mereka menangis. Demikian juga kebanyakan para tabi’in, di antara mereka ada yang melakukan hal itu karena cinta dan rindu kepada Nabi SAW dan ada yang melakukan hal itu, karena sangat menghormati dan mengagungkan Nabi SAW.

Diantara tanda-tanda cinta Nabi SAW adalah mencintai orang yang cinta Nabi SAW, mencintai keturunannya, ahli baitnya, dan para sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar, dan memusuhi orang yang memusuhi mereka, membenci orang yang membenci dan mencela mereka, karena orang yang mencintai sesuatu, dia akan mencintai orang yang mencintai sesuatu itu dan membenci orang yang membenci sesuatu itu.

Nabi SAW pernah bersabda tentang Sayyidina Hasan dan Husein ra.:

اللَّهُمَّ إِنِّى أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا

Ya Allah, sesungguhnya saya mencintai keduanya, maka cintailah keduanya”. [5]

Dan beliau SAW bersabda :

مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، مَنْ أَحَبَّنِى فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ تَعَالَى, وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي, وَمَنْ أَبْغَضَنِى فَقَدْ أَبْغَضَ اللهَ تَعَالَى

Barangsiapa mencintai Hasan dan Husein, maka dia telah mencintai saya, dan barangsiapa mencintai saya, maka dia telah mencintai Allah Ta’ala, dan barangsiapa menbenci Hasan dan Husein, maka dia telah membenci saya, dan barangsiapa membenci saya, maka dia telah membenci Allah Ta’ala”.[6]

Rasulullah SAW bersabda:

اللَّهَ اللَّهَ فِى أَصْحَابِى, لاَ تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِى فَإِنَّهُمْ أَحْبَابِيْ, فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّى أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِى أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِى وَمَنْ آذَانِى فَقَدْ آذَى اللَّهَ تَعَالَى وَمَنْ آذَى اللَّهَ فَيُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَه

Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah, tentang para sahabatku, janganlah kamu sekalian menjadikan mereka sasaran (maksudnya, janganlah kamu menyebutkan mereka dengan jelek), karena mereka adalah orang-orang yang saya cintai, barangsiapa mencintai mereka, maka lantaran cintaku, ia mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka lantaran benciku, ia membenci mereka, dan barangsiapa menyakiti hati mereka, maka dia telah menyakiti saya, dan barangsiapa menyakiti saya, maka dia telah menyakiti Allah Ta’ala, dan barangsiapa menyakiti Allah, maka Allah akan menyiksanya”.[7]

Nabi SAW pernah bersabda tentang putrinya, Sayyidah Fatimah ra. :

إِنَّهَا بِضْعَةٌ مِنِّي ، يُغْضِبُنِي مَا أَغْضَبَهَا

Sesungguhnya dia adalah bagian dariku, apa saja yang membuatnya marah, maka juga membuat saya marah”.[8]

Nabi SAW pernah bersabda kepada Sayyidah A’isyah ra. tentang sahabat Usamah bin Zaid ra. :

أَحِبِّيْهِ فَإِنِّي أُحِبُّهُ

Cintailah dia, karena sesungguhnya saya mencintai dia”.[9]

Nabi SAW bersabda :

آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَار

Tanda iman itu mencintai sahabat Anshar dan tanda munafiq itu membenci sahabat Anshar”. [10]

Nabi SAW bersabda :

مَنْ أَحَبَّ اْلعَرَبَ فَبِحُبِّيْ أَحِبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَ اْلعَرَبَ فَبِبُغْضِيْ أَبْغَضَهُمْ

Barangsiapa mencintai orang-orang arab, maka lantaran cintaku, ia mencintai mereka, dan barangsiapa membenci orang-orang arab, maka lantaran benciku, ia membenci mereka”.[11]

Diriwayatkan dengan marfu’ dari sahabat Jabir ra. :

حُبُّ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَبُغْضُهُمَا كُفْرٌ وَحُبُّ اْلأَنْصَارِ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَحُبُّ اْلعَـرَبِ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَمَنْ سَبَّ أَصْحَابِى فَعَـلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَمَنْ حَفِظَنِى فِيْهِمْ فَأَنَا أَحْفَظُهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

Mencintai Abubakar dan Umar adalah termasuk iman, dan membenci keduanya adalah kufur. Dan mencintai sahabat Anshor adalah termasuk iman. Membenci mereka adalah kufur. Dan cinta kepada orang-orang Arab adalah iman, dan membenci mereka adalah kufur. Barang siapa mencela sahabat-sahabatku, maka laknat Allah untuknya, dan barangsiapa menjagaku tentang sahabat-sahabatku, maka saya akan menjaga dia di hari kiamat”.[12]

Hadis-hadis tentang bab ini banyak sekali. Ringkasnya, wajib bagi setiap mukallaf untuk mencintai ahlu bait dan semua sahabat Nabi, baik  yang arab atau yang bukan arab. Dan tidaklah termasuk golongan khawarij orang yang membenci ahlu bait, dan tidak ada gunanya mereke mencintai sahabat. Dan tidak termasuk kaum rawafidh (syiah) orang yang membenci sahabat, dan tidak ada gunanya mereka mencintai ahlu bait, dan juga tidak termasuk kaum bodoh orang-orang hina yang tidak suka bangsa arab karena watak yang tercela.

Termasuk tanda-tanda cinta kepada Nabi SAW adalah membenci orang yang benci kepada Allah dan Rasul-Nya, memusuhi orang yang memusuhi Nabi SAW, menjauhi orang yang mengingkari sunnah Nabi SAW, dan tidak suka kepada setiap orang yang mengingkari sunnah Nabi SAW. Allah berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمـِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيـَوْمِ الْآَخِــرِ يُـوَادُّونَ مَنْ حَـادَّ اللَّهَ وَرَسُــولَهُ وَلَوْ كَانُـوا آَبَــاءَهُمْ أَوْ أَبْنَــاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَـهُمْ أَوْ عَشِـيرَتَهُمْ أُولَئِـكَ كَتَـبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah (hizbullah) itu adalah golongan yang beruntung”. [13]

Para sahabat ra., mereka ini telah rela membunuh orang-orang yang mereka cintai dan para sahabat mereka, bahkan membunuh ayah-ayah mereka dan putra-putra mereka untuk mencari ridla Allah.

Abdullah bin Abdullah bin Ubay pernah berkata kepada Nabi SAW: “Jika engkau menginginkan, pasti saya akan membawa kepalanya kepadamu”, maksudnya kepala ayahnya yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik di Madinah.

Di antara tanda cinta kepada Nabi SAW adalah mencintai Al Qur’an yang dibawa oleh Nabi SAW, yang dipakai oleh Nabi SAW untuk memberi petunjuk, dan mengambil petunjuk dari Al Qur’an, serta berakhlak dengan Al Qur’an. Sayyidah A’isyah ra. Berkata, ” Akhlak Nabi itu adalah Al Qur’an”. Dan kecintaan seorang muslim kepada Al Qur’an adalah dengan membacanya, mengamalkannya, dan berusaha untuk memahaminya. Dan mencintai sunnah Nabi SAW dan berhenti pada batas-batas sunnah beliau SAW

Sahal bin Abdullah at-Tustari, rahimahullah, berkata :

“Tanda cinta kepada Allah adalah cinta kepada Al Qur’an, tanda cinta kepada Al Qur’an adalah cinta kepada Nabi SAW, tanda cinta kepada Nabi SAW adalah cinta kepada sunnah Nabi SAW, tanda cinta kepada sunnah Nabi SAW adalah cinta kepada akhirat, tanda cinta kepada akhirat adalah membenci dunia, dan tanda benci dunia adalah jika seseorang tidaklah menyimpan dunia kecuali hanya bekal untuk menghantarkannya kepada rumah akhirat”.[14]

Di antara tanda-tanda cinta Nabi SAW adalah menyayangi umat Nabi SAW, memberi nasehat mereka, berusaha untuk memperbaiki keadaan mereka, berusaha menghilangkan bahaya yang mengancam mereka, sebagaimana Rasulullah SAW sangat mengasihi  dan menyayangi mereka.

Di antara tanda kesempurnaan cinta seorang muslim kepada Nabi SAW adalah kezuhudan orang yang mengaku cinta kepada Nabi SAW di dunia dan lebih memilih hidup miskin dan bergaya hidup miskin, sebagaimana sabda Nabi SAW kepada sahabat Abu Said Al Khudri ra. :

إِنَّ الْفَقْرَ إِلَى مَنْ يُحِبُّنِي مِنْكُمْ أَسْرَعُ مِنَ السَّيْلِ مِنْ أَعْلَى الْوَادِي، وَمِنْ أَعْلَى الْجَبَلِ إِلَى أَسْفَلِهِ

Sesungguhnya kemiskinan itu akan datang kepada orang yang mencintai aku, lebih cepat dari pada mengalirnya air dari atas lembah atau gunung ke bawahnya. [15]

Ringkasnya, makna cinta kepada Nabi SAW itu adalah mengikuti Nabi SAW dengan baik, selalu berusaha untuk mencocokkan diri kepada Nabi SAW, meyakini tentang wajibnya menolong agama Nabi SAW yang lurus, memelihara syari’at Nabi SAW yang suci, taat kepada syariat dan selalu merindukan Nabi SAW.


*Diterjemahkan oleh Ustadz Zainur Ridlo, M.Pd.I. dari kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari 


[1] Ali Imran 31.

[2] Hadis riwayat Imam Tirmidzi.

[3] Idem

[4] Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Abdurrazzaq.

[5] Hadis riwayat Imam Bukhari.

[6] Hadis riwayat Imam Ahmad, Imam Hakim, dan Imam Baihaqi.

[7] Hadis riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Baihaqi, dan Imam Ibnu Hibban.

[8] Hadis riwayat Imam Bukhari dalam “kitab An Nikah”.

[9] Hadis riwayat Imam Bukhari dalam “kitab Al Manaqib”.

[10] Hadis riwayat Imam Bukhari.

[11] Hadis riwayat Imam Hakim dan Imam Ibnu Asakir.

[12] Hadis riwayat Imam Ibnu Asakir dan Imam Dailami.

[13] Al Mujadilah ayat 22.

[14]  Qut Al Qulub, jilid 1, halaman 79.

[15] Hadis riwayat Imam Ahmad dan Imam Baihaqi.

SebelumnyaMembaca Ulang Konflik Palestina-Israel
BerikutnyaWasiat Nabi Muhammad kepada Ali bin Abi Thalib (Bagian 6)