Social Distancing dan Kisah Amr Bin Ash

sumber ilustrasi: republika online

Oleh: Aji Bintang Nusantara*

Beberapa minggu terakhir ini telah diumumkan Pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional. Hal itu disusul dengan SMS atau pesan singkat dari alamat yang tertulis BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang diakui diterima oleh banyak orang dan diberitakan secara resmi oleh Detik dan CNN Indonesia.

“Agar terhindar dari penyebaran Covid-19: hindari kerumunan serta jarak orang dengan orang di manapun berada harus lebih dari 1 meter.” begitulah bunyi dari pesan singkat tersebut.

Dalam pernyataannya, pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan social distancing atau pembatasan sosial. Secara lebih mudah, pembatasan sosial ini adalah langkah yang harus dilakukan oleh tiap individu untuk mencegah penularan Covid-19 ini.

Setelah pernyataan pemerintah yang menyebutkan bahwa Covid-19 ini adalah bencana nasional, langkah-langkah semacam pembatasan sosial ini memang perlu dilakukan. Lantas, mengapa bisa langkah tersebut bisa penulis katakan benar?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan adanya pembatasan sosial atau menjaga jarak diri dari orang lain sejauh lebih dari 1 meter, hal itu akan memperlambat penyebaran Covid-19. Karena dalam jarak yang lebih dari 1 meter, berbagai macam patogen tidak akan dapat meninfeksi manusia. Dan dengan hal itu sudah dapat dipastikan penyebaran virus corona akan dapat dihentikan.

Tentu hal itu juga bermaksud agar masyarakat menghindari acara-acara atau kegiatan yang melibatkan banyak orang. Tentu pembauran dengan banyak orang akan mengakibatkan penyebaran virus corona semakin cepat. Oleh karena itu, langkah self quarantine atau swa-karantina – atau karantina pribadi – adalah langkah yang tepat.

Alasan lain mengapa social distancing ini menjadi langkah yang harus dilakukan tiap individu adalah hal serupa yang dulu pernah dilakukan oleh Sahabat Rasulullah Amr Bin Ash RA. Hal itu terjadi saat Umar Bin Khattab RA masih menjadi khalifah kaum muslimin.

Al kisah pada saat masa kepemimpinan Umar Bin Khattab RA terjadilah satu wabah mematikan yang disebut Tha’un. Wabah ini menyerang daerah Amwas – kota di sebelah barat Yerusalem, Palestina – dan sudah menjalar sampai Syam (Suriah).

Pada saat itu Sayyidina Umar ingin melakukan perjalanan menuju Syam. Akan tetapi, mendengar adanya wabah tha’un di Amwas, ia memikirkan kembali langkahnya untuk terus lanjut ataukah kembali ke ibu kota.

Singkat cerita, setelah melakukan perundingan dengan para sahabat yang lain, ia akhirnya memutuskan kembali ke ibu kota Madinah Al Munawwaroh. Sebetulnya ia juga mengajak Abu Ubaidah Bin Jarrah yang saat itu menjadi gubernur Syam untuk pergi meninggalkan daerah terdampak wabah tha’un. Akan tetapi Abu Ubaidah menolak karena dalam keadaan susah seperti itu ia tak mungkin meninggakan rakyatnya yang dalam kesusahan. Hingga akhirnya beberapa waktu kemudian Abu Ubaidah harus meninggal karena wabah tha’un tersebut.

🤔  Masa Karantina, Santri Khoiriyah Hasyim Nonton Bersama

Setelah sepeninggal Abu Ubaidah, Muadz Bin Jabbal menggantikannya. Namun, tak berselang lama setelah masa peralihan itu, ia dan keluarganya harus meninggal juga karena terdampak wabah mematikan itu.

Tak lama berselang, Umar Bin Khattab menetapkan Amr Bin Ash untuk menggantikan Muadz dan merampungkan masalah wabah tha’un tersebut. Sang gubernur Mesir itu terkenal sebagai orang yang cerdik. Tak butuh waktu lama untuk ia melihat keadaan yang terjadi di Amwas, ia menyerukan kepada seluruh penduduk untuk mengisolasi dirinya masing-masing.

Amr berkhotbah di depan para rakyat dan memerintahkan untuk pergi jauh hingga rakyat-rakyatnya memencar ke berbagai penjuru. Ada diantara mereka yang pergi ke gunung, bukit, dan ke daerah-daerah terpencil. Menurut Amr, jika semua orang terpisah dan terpencar maka wabah tidak akan dapat menyerang manusia.

Tidak butuh waktu yang begitu lama, akhirnya wabah tha’un itu langsung terselesaikan. Langkah Amr Bin Ash yang memerintahkan rakyatnya untuk berpencar ini kalau pada saat ini bisa disamakan dengan social distancing atau pembatasan sosial.

Memberi jarak antara diri dan orang lain memang sangat diperlukan dalam situasi wabah penyakit atau virus seperti saat ini. Jika pada masa Umar bin Khattab yang diprakarsai oleh Amr Bin Ash, rakyat harus berpencar ke tempat-tempat terpencil, saat ini hal itu perlu dilakukan hanya dengan membatasi jarak sosial kita dengan orang lain.

Pemberian ruang jarak dengan orang lain ini bisa menjadi langkah efektif untuk mengurangi penyebaran Covid-19 ini. Meski tak dapat menghentikan penyebaran secara keseluruhan, langkah ini setidaknya dapat menurunkan jumlah pasien virus Corona ke angka yang masih bisa dijangkau oleh rumah sakit. Oleh karena itu, mari jaga diri sendiri dengan pembatasan sosial. Saat ini menjaga diri sendiri bisa sangat berarti menjaga banyak orang.

*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.