Oleh: M. Iqbal Sahawi*

Sumber: aziachmad.wordpress.com
Masjid al Markaz al Islami (Sumber: aziachmad.wordpress.com)

Di Makassar ada masjid super besar, al-Markas al Islami Jenderal Muh. Jusuf nama lengkapnya, tapi orang-orang lebih mengenalnya dengan nama Masjid al Markas. Mulai dibangun tahun 1994 dan selesai tahun 1996. Masjid ini sungguh luar biasa. Bertahan dan berkembang sebagai satu-satunya masjid di Makassar yang punya eskalator. Masjid legendaris ini juga punya sebuah menara tunggal yang tingginya mencapai 84 meter. Saking tingginya, menara Masjid al Markas sudah bisa terlihat dari tikungan Jl. Veteran depan masjid Raya yang jaraknya itu kira-kira tiga menit dengan menggunakan motor.

download (4)Sayang sekali, kegagahan masjid ini mulai ternodai dengan hadirnya pasar kaget di dalamnya yang ramai setiap bulan Ramadhan, juga oleh banyaknya anak jalanan dan peminta-minta yang berkeliaran di dalam sana. Dulunya masjid ini adalah ikon kebanggaan Kota Daeng, tempat seringkali diadakannya even-even besar Islam dan berkumpulnya ulama-ulama se-Sulawesi Selatan. Tapi sekian dulu nostalgianya, sekarang kita kembali ke topik utama, “Menjalani Ramadhan”.

Sering terdengar di mimbar-mimbar kala para muballigh berceramah, ada satu hadis yang sangat menarik, artinya kira-kira begini, “Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian. 10 hari pertamanya (awal Ramadhan) adalah rahmat (kasih sayang Allah), 10 hari berikutnya (pertengahan Ramadhan) adalah maghfirah (ampunan Allah), dan 10 hari terakhirnya (akhir Ramadhan) adalah itqun minan naar (pelepasan dari api neraka). Meski hadis di atas dianggap dhaif karena lemah sanadnya, tapi setidaknya muatan hadis atau untaian kata bijak diatas cukup menarik. Disini kurang lebih tergambar bagaimana biasanya dan seharusnya, prilaku umat muslim dalam menjalani Ramadhan. Tak terkecuali, umat muslim di Makassar.

Menyesapi kata rahmat itu sebagai kemurahan hati-Allah, dan keagungan Ramadhan, umat muslim Makassar seolah tak mau kalah bersemarak, menyerukan kegembiraan. Jalan-jalan tiba-tiba ramai di dua waktu yang tak biasanya terjadi di luar Ramadhan. Pertama, kala dini hari, umat muslim se-Makassar bersemangat ambil bagian menyemarakkan masjid, shaf-shaf di masjid untuk jamaah Shalat Subuh yang biasanya kosong melompong kini gemuk berisi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Masjid Raya Tampak LuarKedua, malam hari menjelang tengah malam. Rombongan orang-orang pulang tarawih dari seluruh pelosok kota, riuh gemuruh membahana. Masjid-masjid kenamaan seperti al Markas, Masjid Raya, Masjid H. M Asyik, dan Masjid Amirul Mu’minin atau yang lebih dikenal dengan Masjid Terapung, tiba-tiba mengalami lonjakan siginifikan di tempat parkirnya. Para tukang parkir liar dan kotak amal ikut kecipratan rejeki dari tangan-tangan dermawan umat muslim yang tengah dirundung euforia Ramadhan, Allahu Akbar.

Pantai LosariKalau belum lelah setelah Shalat Tarawih, para muslimin dan muslimat muda Makassar ramai-ramai berkumpul di tempat nongkrong andalan, Pantai Losari. Biasa juga disingkat Panlos, biasa pula disebut anjungan. Sudah ada puluhan gerobak pisang epe (jajanan khas Makassar, berupa pisang bakar diiris kecil-kecil dibalur gula merah) yang stand by sejak Maghrib. Tak ketinggalan beberapa komunitas yang ikut meramaikan suasana. Ada komunitas drone yang unjuk aksi, para pemain skateboard, orang-orang yang hobi mancing yang cuek saja duduk-duduk di pinggir anjungan, dan tak ketinggalan, entah positif, ataukah negatif, para pasangan muda-mudi yang mojok di sudut gelap sana, tepat di tengah-tengah patung para pahlawan yang memelototi mereka dalam diam.

10 hari pertama Ramadhan, Makassar dan penghuninya seperti sebuah organ tunggal raksasa yang masih pusing memilih-milih nada dasar. Semua tuts terlihat menarik dan menggairahkan. Namun memasuki 10 hari pertengahan, pergerakan orang-orang mulai kelihatan alurnya. Gejolak Makassar mulai teratur, meski belum juga mengendur. Seperti mahluk raksasa yang mulai memahami denah huniannya, Makassar mulai berselaras dengan harmoni Ramadhan. Daeng, panggilan untuk laki-laki Makasar, dan Andi, panggilan untuk perempuan Makassar, mulai tahu ingin kemana dan harus lewat mana. Mengantar kita ke bagian ke-dua Ramadhan. Maghfirah. Bagian Ramadhan yang menggambarkan ampunan Allah.

Ngabuburit di sekitar Masjid terapung, Amirul Mukminin di Kawasan Pantai Losari Makassar.
Ngabuburit di sekitar Masjid terapung, Amirul Mukminin di Kawasan Pantai Losari Makassar.

10 hari pertama Ramadhan mungkin masih banyak orang kantoran yang sahur di rumah, lalu kesibukan kantor mulai kembali memadat, jadilah sahur berantakan kalau mau dikerjakan sendirian. Para Daeng atau Andi yang baru menjamah arena kerja sering mengalami ini, tapi mereka tak khawatir. Masjid-masjid di Makassar bisa jadi solusi. Bagi yang tinggal di Samata, ada masjid Cheng-Ho dekat perempatan kampus II UIN Alauddin yang menyediakan sahur gratis. Di daerah Veteran, ada Masjid Raya yang siap menerima para tamu Allah yang ingin sahur tapi susah menyediakan sendiri. Di daerah Rappokalling dan urip Sumaharjo, masjid Al-Markas yang legendaris siap menampung. Di Pettarani, tinggal pilih, ada Masjid H.M Asyik dan Masjid Telkom. Di daerah Ratulangi dan Sudirman, ada Masjid Nurul Muttahidah IMMIM dekat hotel Horison.

Mudah ditemukan makanan takjil khas Makassar dijajakan di berbagai tempat pusat takjil
Mudah ditemukan makanan takjil khas Makassar dijajakan di berbagai tempat pusat takjil

Yang lebih keren-nya lagi, setiap masjid ini juga mengadakn kajian agama setelah Shalat Subuh. Paslah dengan tema kita, “Ampunan Allah”. Setelah mengisi perut, lalu mengisi otak dan hati dengan ilmu dan hikmah. Kalau semua Daeng dan Andi ke tempat-tempat ini, sahur lalu mengaji, bukannya konfoi tak jelas dan perang busur, tak menunggu lama lagi menuju Makassar sebagai Kota Dunia, slogan pemerintah yang sering digaung-gaungkan pak Walikota.

Buka puasa di Masjid Raya Makassar, setiap hari takmir masjid menyediakan 1000 porsi untuk buka puasa dan sahur para tamu Allah.
Buka puasa di Masjid Raya Makassar, setiap hari takmir masjid menyediakan 1000 porsi untuk buka puasa dan sahur para tamu Allah.

Bagaimana dengan Ngabuburit dan Buka? Lirik saja masjid-masjid tadi. Sahur saja disiapkan, apalagi untuk buka. Sebagai sedikit perbandingan, kalau ada yang ragu bagaimana kekuatan masjid-masjid di atas, coba lihat fakta aktual tanggal 8 juni 2016. Protokoler mengumumkan di mimbar, “Alhamdulillah maghrib tadi, waktu panitia masjid melaksanakan buka puasa bersama, kurang lebih ada 1000 jamaah yang dilayani.” Seribu jamaah. Insya Allah, kalau ada yang mau datang, masjid-masjid ini siap.

Kalau yang mau suasananya tidak terlalu religius, lebih santai dan lain-lain, bisa ke Pantai Losari lagi. Tarawih di Makassar, ada juga yang bukan di masjid. Ada di jalan hertasning. Ada juga lantai dua Warkop Bundu, tempat yang biasanya jadi aula buat pernikahan atau hajatan akbar lainnya, disulap selama 30 hari jadi tempat shalat tarawih, lengkap dengan mimbar untuk para muballigh. Bisa juga ngabuburit di depan kantor telkom dekat Masjid Nurul Iman Telkom, aneka jajanan terhampar disana. Di masjidnya IMMIM yang tadi disebutkan juga tersaji aneka jajanan khas Ramadhan. Begitulah, 10 hari kedua di Makassar, sangat ramai. Majelis-majelis ilmu, juga kut ramai. Namun, tempat-tempat nongkrong, juga ikut ramai.

Taawih di Masjid Raya Makassar, (sumber: makassar.merdeka.com)
Taawih di Masjid Raya Makassar, (sumber: makassar.merdeka.com)

Bagi yang taat pada konsep ampunan Allah, tarawihnya belum bolong, bisa jadi pindah-pindah, 20 hari 20 masjid. Dari Masjid Muhammad Cheng-Ho I di Samata yang berbatasan dengan Goa, sampai Masjid Muhammad Cheng-Ho II di Tanjung Bunga dekat batas Pantai Makassar. Tujuannya tentu saja untuk menjaga semangat tetap menyala. Bahkan uniknya, untuk mengaji pun bisa di mana saja. Bisa di kost atau di rumah, sampai di Monumen Mandala, dekat Balai Tentara jalan Sudirman, terus-terus sampai Masjid Kampus UNHAS. Pokoknya ujung pukul ujung, kata orang Makassar. Tujuannya tetap, menjaga bara Ramadhan tetap menyala.

Meski sudah memudar, suasana pesta Ramadhan di Makassar pada 10 hari kedua, masih samar terasa. Lalu memasuki hari ke-20 Ramadhan, terasa betul gairah beribadah itu mulai menghilang, shaf-shaf mulai menipis nan longgar. Penjual ta’jil satu-satu menggulung tendanya, pulang. Mengantar kita pada sepuluh hari terakhir, Ramadhan sebagai pelepasan dari api neraka.

Coto Makassar, salah satu makanan khas Makassar yang pas untuk menemani buka puasa (Sumber: masakanlezat.com)
Coto Makassar, salah satu makanan khas Makassar yang pas untuk menemani buka puasa (Sumber: masakanlezat.com)

Bagi yang merasa sudah siap melepas kepergian Ramadhan, bisa mulai merayakan dengan wisata kuliner. Di sepanjang Jl. Pettarani, terhampar aneka jajanan ringan dan berat. Ada makanan-makanan terkenal seperti Coto Makassar, Palu Basa, dan Sop Saudara. Ada juga jajanan ringan unik yang besar di Makassar, misalnya Pisang Goreng Nugget. Ada Chocolicius, buat penggila coklat. Bakso Mas Prie, buat yang suka bakso. Ada Konro Iga Bakar, buat pecinta selera nusantara yang penasaran. Ini semua masih di Jl. Pettarani. Yang lain silahkan google sendiri. Jalangkote Lasinrang, Coto Gagak, Palu Basa Serigala, dan lain-lain.

Bagi yang masih dahaga akan ibadah dan suasana magis Ramadhan, bolehlah tarawih di masjid-masjid kecil seperti yang ada di daerah minasa-upa. Disana terasa sekali hadirnya suasana khusyuk nan eksklusif, hawa Ramadhan yang perlahan beranjak pergi. Atau di pecinaan depan kantor walikota dekat Jl. Slamet Riyadi, ada masjid tua disana, suasananya magis sekali. Masjid as Sa’id namanya, berdiri sejak 1906 masehi, dan satu-satunya masjid yang jamaahnya cuma laki-laki di Makassar. Ada juga beberapa masjid yang menerima tamu Allah yang mau ber i’tikaf, salah satunya Masjid Raya. Ramadhan nantinya betul-betul akan pergi. Para muslimin dan muslimat mulai ber-mudik-an. Lalu Lebaran.

Lebaran. Sebelumnya, ada sentuhan terakhir dari sebuah bulan yang setara dengan 1000 bulan, lalatul qadar.  Saat menjelang lebaran, jalan-jalan besar seperti Jl. Pettarani, Jl. Urip Sumaharjo, Jl. Perintis Kemerdekaan, dan Jl. Cenderawasih sudah disterilkan sejak dini hari. Ada sebagian jalan yang ditutup karena ruasnya akan dipakai Shalat Ied. Ada lapangan yang sudah dikondisikan. Pilihlah dimana mau melaksanakan Shalat Ied. Bisa juga di masjid-masjid besar nan megah yang Makassar punya, termasuk Masjid al Markaz atau Masjid Raya.

Di hari-hari seperti ini kita bisa lihat lagi aksi umat-umat terpilih manusia Makassar, para ulama. Salah satu yang peling tersohor, ada Andre Gurutta (Sanjungan tertinggi untuk seorang guru di SulSel) KH. Sanusi Baco. Khutbah beliau ringan namun padat berisi. Selalu ditunggu dan tak jemu-jemu di pendengaran. Memang, yang ikhlas berbagi akan selalu mengena di hati. Semoga rezeki kita berkah, semoga ilmu kita hikmah, semoga penguasa kita amanah. Salama’ to pada salama (Bahasa Makassar: Semoga kau dan aku selalu dalam keselamatan)


*Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

SebelumnyaTuhan yang Jauh
BerikutnyaPentingnya Bermadzhab dalam Pandangan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari