Sertijab Pimpinan Unit Digelar, Gus Kikin Tegaskan Tebuireng Terus Bertransformasi Menjawab Tantangan Zaman

19
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH ABdul Hakim Mahfudz saat memberi sambutan dalam kegaiatan Serah Terima Jabatan Mudir, Kepala Pondok dan Unit Pesantren Tebuireng (foto: Irsyad)

Tebuireng.online— Yayasan Hasyim Asy’ari menggelar kegiatan Serah Terima Jabatan (Sertijab) pimpinan unit pendidikan dan kepesantrenan di Aula Lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini diikuti kepala dan wakil kepala sekolah/madrasah, mudir dan wakil mudir Ma’had Aly, serta pimpinan pondok di lingkungan Pesantren Tebuireng.

Baca Juga: Tebuireng Lantik Pimpinan Baru, Gus Kikin Ajak Perkuat Organisasi dan Pengembangan Ilmu

Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, menyampaikan bahwa serah terima jabatan merupakan momentum penting untuk melanjutkan estafet kepemimpinan sekaligus memperkuat pengabdian di lingkungan Yayasan Hasyim Asy’ari yang kini menaungi sekitar 13 unit pendidikan.

“Alhamdulillah di kesempatan yang berbahagia, kita bersama-sama melaksanakan kegiatan Serah Terima Jabatan baik pada tingkatan pondok pesantren dan juga unit pendidikan sekolah yang saat ini berjumlah sekitar 13 unit,” ungkapnya.

Dalam arahannya, kiai yang akrab disapa Gus Kikin itu mengulas sejarah perkembangan sistem pendidikan di Pesantren Tebuireng. Menurutnya, sejak didirikan oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari pada 1899, Tebuireng terus melakukan transformasi pendidikan tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai pesantren.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Dahulu saat zaman Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng hanya ada sistem pengajian saja. Tetapi seiring berjalannya waktu, masuklah beberapa mode pembelajaran yang mengikuti tantangan zaman,” tuturnya.

Baca Juga: 12 Unit Pendidikan Pesantren Tebuireng Lantik Pimpinan Baru

Ia menjelaskan bahwa pada masa awal berdirinya, Pesantren Tebuireng hanya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan. Namun, perubahan kondisi sosial dan kebijakan pemerintah kolonial Belanda mendorong perlunya pengembangan kurikulum agar santri mampu menghadapi tantangan zaman.

“Dulu beliau mendirikan pondok ini tahun 1899 mengajarkan ilmu-ilmu agama saja. Karena ada perubahan kebijakan Belanda yang ingin mendirikan pemerintahan. Maka oleh karena itu ada perubahan-perubahan struktur sosial di Indonesia,” jelasnya.

Suasana forum Serah Terima Jabatan di gedung Yusuf Hasyim Tebuireng (foto: irsyad)

Gus Kikin kemudian memaparkan tahapan perkembangan kurikulum di Pesantren Tebuireng. Sebelum 1917, pembelajaran masih berfokus pada ilmu-ilmu agama. Memasuki tahun 1917 mulai ditambahkan mata pelajaran ilmu hitung dan ilmu bumi. Selanjutnya, pada 1928 kurikulum berkembang dengan memasukkan bahasa Belanda dan berbagai ilmu umum, hingga pada 1933 diterapkan sistem pendidikan klasikal melalui Nizamiyah.

“Pada tahun sebelum 1917 Pesantren Tebuireng hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama. Nah, di tahun 1917 itu kemudian ditambah ilmu perhitungan, ilmu bumi. Nah, tahun 1928 demikian juga ada ilmu-ilmu bahasa Belanda dan ilmu umum. Tahun 1933 ada Nizamiyah Klasikal, mulai ada klasikal itu di tahun 1933,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkembangan tersebut terus berlanjut setelah Indonesia merdeka. Pesantren Tebuireng kemudian mendirikan berbagai lembaga pendidikan formal mulai dari Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, SMP, SMA, SD hingga Ma’had Aly sebagai bentuk komitmen menghadirkan pendidikan yang utuh dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Alhamdulillah semuanya sudah lengkap di Pesantren Tebuireng, sehingga diharapkan alumni-alumni lulusan Pesantren Tebuireng saat terjun ke masyarakat itu bisa menjadi panutan masyarakat karena kemampuan ilmunya,” pungkasnya.