
Sering kali, nikmat terbesar dalam hidup baru terasa maknanya ketika ia telah tercabut dari genggaman. Di antara sekian banyak karunia yang membentang luas di bumi Nusantara, ada satu kenyamanan yang sangat mewah namun paling sering luput dari daftar syukur kita yaitu rasa aman. Kita kerap menganggap situasi yang kondusif sebagai hal yang biasa-biasa saja. Padahal, di balik ketenangan yang kita nikmati sehari-hari, ada sebuah fondasi hidup yang nilainya jauh melampaui tumpukan materi dan kemewahan duniawi.
Jika kita merenungkan dinamika ujian hidup, Al-Quran sebenarnya telah menyajikan sebuah urutan logika yang sangat presisi melalui Surah Al-Baqarah ayat 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
”Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Pada waktu launching kitab Kunuz Ar-Rohman fi Durus Al-Quran, Kiai Awis mengupas adanya rahasia diksi yang luar biasa dari ayat di atas jika kita cermati susunannya mengapa rasa takut (al-khauf) diletakkan di garda paling depan, mendahului kelaparan (al-juu’) dan hilangnya harta benda? Mengapa psikologis manusia yang diusik terlebih dahulu dalam rentetan ujian ini?
Logika ini dikupas secara mendalam oleh Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi, Lc., MA. (Kiai Awis) dalam kitab terbaru beliau, Kunuz Ar-Rohman Fi Durus Al-Quran pada Ahad, 24 Mei 2026. Beliau memberikan catatan penting (fawaid) yang sangat kontekstual bagi kehidupan modern:
تقديم الخوف يشير إلى أنّ الأمن من أعظم نعم الله تعالى، فهو أهمّ من نعمة الأكل والشرب والمال وكثرة الثمرات، فينبغي لأهل إندونيسيا الآمنة وأهل كل بلد آمن أن يشكروا الله تعالى على نعمة الأمن.
”Mendahulukan penyebutan rasa takut mengindikasikan bahwa keamanan merupakan salah satu nikmat Allah Swt. yang paling agung. Keamanan bahkan jauh lebih penting daripada nikmat makanan, minuman, harta, dan melimpahnya hasil bumi. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi masyarakat Indonesia yang aman —serta masyarakat di setiap negeri yang aman— untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. atas nikmat keamanan ini.”
Penjelasan tersebut membuka mata kita bahwa stabilitas keamanan merupakan fondasi utama dari seluruh roda kehidupan manusia. Keamanan adalah nikmat yang jauh lebih krusial daripada urusan isi perut. Sebagai analogi logis, sekaya apa pun sebuah negara, dan semelimpah apa pun cadangan pangan serta hasil buminya, semua itu akan kehilangan makna jika wilayah tersebut dikepung oleh peperangan atau konflik bersenjata.
Ketika nyawa terus-menerus terancam oleh desingan peluru, kelezatan makanan paling mewah sekalipun akan berubah hambar, dan tumpukan harta tidak akan lagi bisa dinikmati. Ketakutan memiliki kekuatan destruktif yang mampu melumpuhkan segala bentuk kebahagiaan fisik dan mental manusia.
Mari kita berkaca pada realitas kehidupan kita di Indonesia hari ini. Ketika kita masih bisa melangkahkan kaki ke pasar tradisional, menikmati kopi di kedai, atau berjalan ke warung kelontong pada pukul sembilan malam tanpa ada rasa cemas akan dirampok, dibegal, atau dicelakai, di situlah letak kemewahan yang sesungguhnya.
Kiai Awis juga memberi contoh yang lain seperti berjalan di bawah langit malam dengan perasaan tenang adalah sebuah nikmat yang sangat mahal—sesuatu yang saat ini menjadi impian yang mustahil bagi saudara-saudara kita di belahan bumi lain yang sedang dilanda kecamuk perang dan konflik berkepanjangan.
Sangat tidak etis rasanya jika kita yang hidup di negeri yang relatif damai ini masih kufur, mengeluh berlebihan, dan enggan bersyukur. Oleh karena itu, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia, serta masyarakat di setiap negeri yang aman, senantiasa merawat rasa syukur ini kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kesimpulannya jelas, logika Al-Quran telah mengajarkan kita bahwa tanpa adanya keamanan, kelimpahan pangan dan harta benda menjadi tidak bisa dinikmati dan kehilangan maknanya. Menjaga dan mensyukuri keamanan bukan sekadar tugas aparat penegak hukum atau negara, melainkan sebuah kesadaran spiritual yang harus tertanam di hati setiap warga negara. Sebab, mempertahankan rasa aman adalah cara terbaik kita untuk merawat keberlangsungan hidup dan peradaban itu sendiri.
Baca Juga: Memahami Konsep Ketuhanan dalam Ayat-ayat Al-Quran
Penulis: Mauliddinho Aditya Waluyo
Editor: Sutan


















