Raih Juara Lomba Baca Kitab ASEAN, Alumni MASS Tebuireng Unjuk Gigi di Mesir

48

Tebuireng.online- Di tengah ketatnya persaingan mahasiswa Al Azhar dari berbagai negara di Asia Tenggara, nama alumni MA Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng berhasil mencuri perhatian. Ahmad Maulana Yahya Firmansyah, alumni lulusan tahun 2025 yang kini tengah menempuh pendidikan di Kairo, Mesir, sukses mengamankan posisi Juara Harapan 2 dalam kompetisi membaca kitab tingkat ASEAN yang diselenggarakan oleh Afkar Elkaffah.

Ajang bergengsi yang digelar secara daring pada 10–17 Juli 2026 oleh wadah perkumpulan mahasiswa Al Azhar se-ASEAN ini menjadi ruang unjuk kemampuan dalam literasi dan pemahaman kitab kuning. Keberhasilan pemuda asal Tambakberas Gang 1, Desa Tambakrejo, Kabupaten Jombang tersebut sekaligus memperpanjang rekor prestasi alumni MASS Tebuireng di kancah internasional.

Kepala MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, M. Subchan, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya saat mendengar kabar raihan trofi dari alumninya di Mesir. Menurutnya, pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa fondasi ilmu dan penanaman karakter selama berada di madrasah mampu menjadi bekal kuat saat siswa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

“Kami sebagai kepala madrasah dan guru sangat bangga ketika alumni bisa mengukir prestasi di luar. Dasar keilmuan dan pembinaan di madrasah memberikan manfaat bagi mereka sekaligus membanggakan almamater,” urainya saat diwawancarai secara daring pada Ahad, 19 Juli 2026.

Ia menegaskan bahwa capaian Ahmad Maulana bukanlah sebuah kebetulan tunggal. Selama ini, banyak alumni sekolahnya yang juga sukses menorehkan tinta emas sesuai dengan keahlian bidang masing-masing. Pihak madrasah pun terus merawat komunikasi dengan para lulusannya melalui organisasi alumni IKAPETE demi pendataan serta pemberian apresiasi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Alhamdulillah, banyak alumni yang berprestasi sesuai bidang mereka masing-masing. Jalinan komunikasi dengan alumni melalui IKAPETE kami lakukan untuk pendataan sebagai bentuk inventarisasi sekaligus memberikan apresiasi. Mereka juga kami undang agar dapat menjadi motivasi bagi adik-adik kelas serta menjadi branding madrasah,” kata M. Subchan.

Lebih lanjut, M. Subchan menilai bahwa kedalaman karakter dan rasa cinta terhadap almamater menjadi modal utama yang menjaga nama baik Tebuireng di mana pun para alumni berada. Ikatan emosional tersebut sengaja dibangun sejak dini lewat proses belajar mengajar di kelas, rutinitas ekstrakurikuler, hingga kedekatan emosional antara guru dan murid.

“Yang kami tanamkan adalah rasa memiliki terhadap MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan Pesantren Tebuireng. Hal itu dibangun melalui pembelajaran di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan sehari-hari di madrasah, serta ikatan emosional antara guru dan murid selama belajar. Dengan begitu, rasa cinta dan bangga terhadap almamater akan melekat dalam hati dan menjadi karakter mereka,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa bukti nyata dari rasa memiliki ini terlihat dari banyaknya alumni yang memilih kembali untuk mengabdi di Tebuireng. Bahkan, tidak sedikit alumni MASS Tebuireng yang kini dipercaya memegang posisi kunci sebagai pimpinan di berbagai unit pendidikan serta lingkungan pondok.

“Banyak alumni MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng yang sampai saat ini tetap mengabdi di Tebuireng. Bahkan, mereka diberikan amanah sebagai pimpinan di hampir semua unit pendidikan dan pondok. Hal itu menunjukkan bahwa rasa bangga dan memiliki terhadap almamater mampu melahirkan dedikasi untuk mengabdi,” jelasnya.

Mengenang sosok Ahmad Maulana Yahya Firmansyah semasa masih duduk di bangku madrasah, M. Subchan menyebut bahwa murid-murid yang kelak berprestasi besar sering kali tidak terlihat mencolok secara kasat mata, namun mereka memiliki konsistensi yang luar biasa dalam menjaga ibadah dan etika.

“Yang paling berkesan dalam pengamatan kami, rata-rata alumni yang berprestasi ketika di Tebuireng belajar sungguh-sungguh, ibadahnya baik, taat kepada guru, dan tidak melanggar aturan. Ketika masih menjadi siswa mereka terlihat biasa, tetapi ketika sudah terjun di masyarakat mereka mampu berperan di lingkungannya. Mungkin itulah yang menjadi faktor terbesar yang bisa dikatakan sebagai barokah, termasuk pada Ahmad Maulana Yahya Firmansyah,” pungkas M. Subchan.

Baca Juga: Cetak Sejarah Baru, MA Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng Antar Dua Siswa Lolos OSN Provinsi


Pewarta: Albi

Editor: Sutan