
Tebuireng.online— Enam siswi SMA Trensains Tebuireng, yaitu Raisa Khaira Ummah, Malica Nayla Gumilang, Aqela Nadya Shafa, Mulia Eka Wijayanti, Labiba Nishwa Nayyara Romadhani, dan Eva Khoirun Nisa’ Ramadhni berhasil meraih Gold Medal dalam ajang International Invention Competition for Young Moslem Scientists (IICYMS) 2026 yang diselenggarakan pada 7–10 Juli 2026 di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung.
Kompetisi inovasi internasional tersebut diikuti peserta dari delapan negara melalui kategori daring, sedangkan kategori luring didominasi oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Pada wawancara 18 Juli 2026 mereka menjelaskan bahwa persiapan penelitian dimulai sejak pekan kedua Mei 2026. Tim kemudian mengumpulkan naskah full paper pada 5 Juni 2026, sehingga mereka memiliki waktu sekitar satu bulan untuk menyelesaikan penelitian sekaligus mempersiapkan presentasi. Selama proses tersebut, tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah membagi waktu antara kegiatan belajar di sekolah dengan penelitian.
Sekolah memberikan dukungan berupa fasilitas laboratorium, peralatan praktikum, serta akses internet selama proses penelitian. Sementara itu, seluruh biaya pendaftaran dan akomodasi ditanggung secara mandiri oleh anggota tim. Karena sebelumnya mereka sudah mencoba di OPSI namun belum berkesempatan sehingg mengikuti ajang ini.
Baca Juga: Manfaatkan Masa Liburan, Siswa SMA Trensains Borong Prestasi Tingkat Provinsi hingga Nasional
“Kami tidak ingin terus larut dalam kekecewaan setelah gagal di OPSI. Justru itu menjadi motivasi untuk mencoba kesempatan lain,” ungkap salah satu anggota tim.
Selama mengikuti kompetisi, mereka mengaku memperoleh banyak pengalaman baru, terutama karena dapat mengikuti kegiatan secara langsung di Bandung. Selain mempresentasikan hasil penelitian, mereka juga berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah sehingga kemampuan komunikasi, khususnya dalam bahasa Inggris, semakin berkembang.
Ajang IICYMS tidak menerapkan sistem juara pertama, kedua, dan ketiga, melainkan menggunakan kategori penghargaan berupa Gold, Silver, dan Bronze. Dari sekitar 58 tim luring dan lebih dari 100 tim daring, hanya 10 tim yang berhasil memperoleh kategori Gold, termasuk tim SMA Trensains Tebuireng. Seluruh peserta memperoleh medali dan sertifikat sesuai kategori penghargaan yang diraih.
Ke depan, mereka berkomitmen untuk kembali mengikuti berbagai kompetisi penelitian pada tahun ini. Mereka juga berpesan kepada teman-teman lain agar tidak ragu mencoba berbagai kesempatan.
Baca Juga: Samangat dan Konsisten! Lulus dari SMA Trensains, Soccha Raih Bangku Kedokteran di China
“Harus berani mencoba. Awalnya kami juga hanya bermodal nekat dengan waktu persiapan yang sangat singkat. Namun berkat kerja keras dan usaha bersama, akhirnya kami bisa melewatinya dan alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan,” ujar mereka.
Dalam kompetisi tersebut, mereka mengangkat penelitian mengenai pembuatan sereal berbahan dasar sorgum dan buah bit sebagai pangan fungsional untuk membantu meningkatkan asupan zat besi pada remaja putri sehingga dapat menurunkan risiko anemia.
Ide penelitian muncul ketika Mulia Eka Wijayanti sedang makan permen gummy penambah darah. Dari hal tersebut, tim kemudian mencoba menghadirkan inovasi baru dalam bentuk sereal yang dinilai lebih praktis dan mudah dikonsumsi.
“Kami berpikir, bagaimana jika produk penambah darah dibuat dalam bentuk lain yang lebih praktis, mudah diterima, dan bisa langsung dikonsumsi, yaitu sereal,” jelas Mulia Eka.
Baca Juga: Lolos Kampus Internasional, Razfa Santri SMA Trensains Tebuireng Pilih Teknik Sipil di Uzbekistan
Proses penelitian diawali dengan mengolah biji sorgum menjadi tepung, kemudian diformulasikan bersama buah bit menjadi produk sereal. Sebagai pelengkap, tim juga membuat yogurt berbahan stroberi dan kedelai. Kandungan vitamin C pada stroberi diharapkan membantu penyerapan zat besi dari sorgum dan buah bit.
Keunikan produk tersebut terletak pada kemasannya yang menggunakan edible film berbahan pati singkong. Kemasan ini dapat larut ketika disiram air panas sehingga lebih praktis sekaligus ramah lingkungan. Seluruh proses penelitian dilakukan di bawah bimbingan Ustadzah Syahrani.
Selama penelitian berlangsung, tim sempat mengalami berbagai kendala, terutama keterbatasan penggunaan oven laboratorium karena banyak siswa lain yang juga melakukan penelitian. Selain itu, mereka harus mengulang eksperimen hingga empat kali karena tiga percobaan pertama belum memberikan hasil yang sesuai. Pada percobaan awal, misalnya, sorgum menjadi gosong akibat proses penyangraian yang terlalu lama.
Baca Juga: Buka Agenda MPLS, SMA Trensains Tebuireng Ajak 226 Siswa Baru Luruskan Niat Belajar
Menurut keterangan mereka, berbagai hambatan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka hingga akhirnya berhasil menghasilkan inovasi yang mengantarkan tim meraih Gold Medal. Saat ini, produk sereal tersebut masih sebatas untuk kepentingan penelitian dan kompetisi serta belum diproduksi secara komersial karena tim belum berfokus pada aspek bisnis maupun perhitungan keuntungan.

















