Cara Meraih Pahala dari Hal yang Mubah

10

Oleh: KH. Djunaidi Hidayat*

Islam memberikan ruang yang luar biasa luas bagi penganutnya agar setiap detik dalam hidupnya dapat berbuah pahala. Tentu saja, kuncinya adalah mengilmui segala perbuatan kita.

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Melalui khutbah ini mari kita mantapkan komitmen dan kesungguhan kita dalam menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah. Kita jalankan segala hal yang diperintah oleh Allah (المَأْمُوْرَاتُ). Baik perintah-Nya berupa (الوَاجِبَاتُ) yakni hal-hal yang memang harus kita lakukan. Maupun perintah yang bersifat (المَنْدُوْبَات) yakni yang perkara-perkara dianjurkan untuk mengerjakannya.

Baca Juga: Trik Sedekah Tanpa Melakukan Apa Pun

Serta kita tinggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah (المَنْهْيَات). Baik larangan yang memang harus ditinggalkan, maupun hal-hal yang sebaiknya ditinggalkan, yakni al-makruhat (dimakruhkan). Hal tersebut menjadi modal bagi kita untuk mendapatkan kehidupan yang hakiki di dunia dan akhirat.

InsyaAllah, jika kita melakukannya, maka memperoleh kebahagiaan dalam dunia dan akhirat, seperti yang dijanjikan oleh Allah. Komitmen dan kesungguhan kita dalam menjaga keimanan adalah indikasi dan pertanda bahwa kita akan bisa mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya, baik dalam kehidupan dunia ini termasuk nanti dalam kehidupan akhirat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Manusia diberikan risalah dan syariat oleh Allah, sehingga setiap jengkal aktivitas dalam kehidupan ini harus dipastikan selaras dengan aturan tersebut. Syariat hadir sebagai pedoman atau norma yang memberikan guidance (petunjuk) untuk mengarahkan manusia kepada perbuatan baik di dunia, yang pada akhirnya akan membuahkan kebahagiaan di akhirat kelak.

Baca Juga: Adab dan Rahasia Terkabulnya Doa

Dalam konsep yang dirumuskan oleh para ulama, perbuatan manusia dapat dikategorikan menjadi dua hal:

Pertama, perbuatan yang diperintahkan oleh agama (masyru’iyyah): Perbuatan ini diperintahkan dan diatur secara ketat oleh agama, sehingga bernilai ibadah secara langsung (ibadah mahdah).

Kedua, perbuatan yang bersifat kebiasaan (‘adiyah): Di luar ranah ibadah ritual, manusia memiliki aktivitas sehari-hari yang didasari oleh fungsi akal pikiran. Dengan bekal akal dan ilmu tersebut, manusia bebas memilih tindakan yang ia kehendaki untuk memenuhi kebutuhan, ambisi, maupun keinginan dalam hidupnya.

Wilayah ‘adiyah ini sangat luas dan tidak terbatas. Dalam perkara ‘adiyah, Allah menerapkan prinsip taqlil al-taqnin (meminimalkan regulasi/sedikit aturan) karena manusia sudah dibekali akal untuk menentukan pilihan terbaiknya.

Meskipun demikian, dalam konsep Islam, perkara ‘adiyah ini bisa bertransformasi menjadi ladang ibadah. Sebagai contoh, kita bebas memilih makanan sesuai selera. Aturan agama hanya menetapkan sebagian kecil makanan yang haram untuk dikonsumsi, dan jumlahnya tidak banyak. Begitu pula dengan kewajiban salat lima waktu; di luar waktu-waktu singkat tersebut, kita diberikan kebebasan penuh untuk melakukan hal-hal yang diperbolehkan.

Baca Juga: Alasan Bulan Muharram Jadi Bulan Duka

Dalam konsep fikih disebutkan sebuah kaidah: al-mubahat ibadatun bi al-niyyah (perkara yang mubah dapat bernilai ibadah jika disertai dengan niat). Sesuatu yang bernilai ibadah tentu akan mendatangkan pahala. Maka, bagi seorang mukmin, seluruh aktivitas yang dilakukan—baik ibadah mahdah maupun bukan—bisa bernilai ibadah di sisi Allah melalui penerapan keilmuan yang benar.

Islam memberikan ruang yang luar biasa luas bagi penganutnya agar setiap detik dalam hidupnya dapat berbuah pahala. Tentu saja, kuncinya adalah mengilmui segala perbuatan kita. Jika dalam salat, zakat, dan puasa niat berkedudukan sebagai rukun, maka ketika Anda menjadi petani, pejabat, buruh, atau profesi apa pun, aktivitas tersebut akan menjelma menjadi ibadah jika disertai niat yang lurus. Sebab, dalam konsep agama, niat adalah pembeda utama antara ibadah (ibadah) dan kebiasaan (‘adah).

Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan lahir dan batin kepada kita untuk selalu menjadikan apa pun yang kita lakukan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Baca Juga: Waspada, Ini Adalah Ciri Ulama Bani Israel yang Gemar Menjilat

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Pengasuh Pondok Pesantren Al-Aqobah Jombang


Pentranskip: Yuniar Indra Yahya