Tebuireng.online– International Committee of the Red Cross (ICRC) yang merupakan organisasi kemanusiaan internasional, bersama pengurus PMI Jawa Timur dan PMI Jombang mengunjungi Pesantren Tebuireng pada Rabu (25/8/20).

Kedatangan para tamu disambut langsung oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) Pengasuh Pesantren Tebuireng, ditemani KH. Abdul Ghofar, dan beberapa pengurus Pesantren di ndalem Kasepuhan Tebuireng.

Selain untuk silaturahmi, pihak ICRC juga berbincang-bincang santai mengenai penanganan covid-19 yang dilakukan Pesantren Tebuireng.

“Kami telah menyiapkan ruangan karantina kepada para santri yang hendak akan kembali ke pesantren,” ungkap KH. Abdul Ghofar selaku sekretaris Yayasan Pesantren Tebuireng.

Beliau juga menungkap bahwa seluruh santri yang hendak kembali ke Pesantren akan menjalani masa-masa karantina selama 14 hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Santri akan menjalani masa karantina. Setelah melewati masa-masa karantina, santri akan menjalani rapid tes, untuk mengetahui kondisi santri tersebut,” tambahnya.

Gus Kikin juga menegaskan bahwa semua ini dilakukan oleh Pesantren Tebuireng sebagai bentuk ikhtiar melawan covid-19 ini.

“Doa terbaik selalu kita panjatkan, dengan disertai ikhtiar yang baik pula, untuk menghadapi masa-masa sulit ini,” ungkapnya.

Dalam hal ini, Mr. Alexandre Faite memberikan apresiasi baik terhadap Pesantren Tebuireng yang telah menerapkan protokol kesehatan untuk santri dan lingkungan pesantren.

“Protokol yang diterapkan oleh Pesantren Tebuireng saya rasa sudah sangat cukup baik dan ketat. Sehingga dapat menghindari penularan. Kepadanya (Pesantren Tebuireng.red) kami ucapakan selamat, kami sangat bangga akan upaya yang ditempuh oleh Pesantren Tebuireng,” ungkapnya.

Selain bersilaturahmi, pihak ICRC juga memberikan beberapa bantuan berupa alat kebersihan dan juga alat kesehatan untuk digunakan oleh seluruh masyarakat pondok pesantren.

Pewarta: Dimas Setyawan

SebelumnyaKH. Hasyim Asy’ari dan Elegansi dalam Berdakwah
BerikutnyaStrategi Jitu KH. Hasyim Asy’ari, Sampai Dituduh Pro-Jepang