Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #19

Oleh: M. Abror Rosyidin*

“Saya meyakini kebenaran dengan penuh kesungguhan, bahwa kita akan dapat memberi sumbangan dalam usaha menyusun dunia baru menyapu bersih kekuasaan Amerika/Inggris dari benua Asia oleh tenaga 1000 juta bangsa Asia,” ucapan Letnan PJM. Perdana Menteri Todjo dalam perayaan tahun Syowa ke-19 di Tokyo pada 10 Januari 2604 (1944). 

Jepang menjajah sebagian negara Asia Timur sampai Tenggara. Mulai dari China, Korea, Myanmar, Filipina, Malaka, sampai Indonesia. Doktrin yang selalu meraka gaungkan adalah Jepang Pemimpin Asia, Jepang Cahaya Asia, dan Jepang Pelindung Asia. Mereka menyebut negara-negara Timur dan Tenggara Asia dengan sebutan, Asia Timur Raya. 

Menariknya, dalam sebuah pidato saat momen pertemuan ulama seluruh Jawa Timur di Surabaya pada 25 April 1944 dan juga dimuat dalam Majalah Soeara Moeslimin Indonesia yang dikeluarkan oleh Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mendukung gerakan Jepang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada halaman 5, disebutkan bahwa Ketua Besar Masyumi itu, mengajak masyarakat Indonesia khususnya Jawa untuk ikut andil dalam usaha-usaha Jepang menciptakan “Dunia Baru”. 

“Ucapan beliau (Letnan Todjo) itu, ialah ucapan yang sebenarnya sehat dan adil. Kita pandang ucapan itu dilisankan dengan hati yang sejati. Sudah tentu akan disambut oleh rakyat Indonesia dengan berbesar hati dan memberikan janji, bahwa rakyat Indonesia dengan segenap jiwa-raga, dengan kekuatan lahir-batin yang dikaruniakan Tuhan akan memberikan sumbangan dalam membangun Asia Timur Raya untuk menciptakan Dunia Baru.”

Pernyataan Kiai Hasyim di depan para ulama itu, tentu bukan pesan kosong, beliau sejak awal menyetujui adanya organisasi-organisasi bentukan Jepang, seperti Jawa Hokokai, PETA, sampai Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Kiai Hasyim mengajak rakyat Indonesia untuk mengerahkan tenaga membantu Balatentara Dai Nippon dalam menghadapi Perang Dunia II. Kalaupun tak bisa di barisan depan, seperti dalam pasukan-pasukan bentukan Jepang tersebut, juga bisa membantu dari belakang dengan membentuk benteng-benteng pertahanan, menyalurkan bantuan kepada pasukan yang berperang, dan itu oleh Kiai Hasyim disebut sebagai amal saleh. 

Lagi beliau berkata, “Pemerintah (Nippon) tidak henti-hentinya memperkuat negeri kita dan berusaha menjadikannya pusat kemakmuran dan benteng perjuangan yang teguh, maka kita harus membantu secara sungguh-sungguh pada usaha-usaha pemerintah yang bagus-bagus,”. 

Bahkan pada pidato beliau dalam kesempatan pertemuan Masyumi yang lain yang diikuti oleh ulama se-Jawa Barat pada 30 Juli 1944, Kiai Hasyim membandingkan antara Belanda dan Jepang, bahwa Jepang sangat menghormati agama Islam, sedangkan Belanda sangat membatasi dan bahkan ingin menggerus Islam dari akarnya, yaitu generasi mudanya. 

Bahkan dalam kesempatan itu, Kiai Hasyim mendoakan agar apa yang diusakan dalam “Asia Timur Raya” diberikan pertolongan oleh Allah SWT. “Mudah-mudahan di dalam perjuangan Asia Timur Raya ini, Allah memberi pertolongan kepada kita, dan menunjukkan kita kepada jalan yang baik, serta jangan lupa kita juga harus terus memohon kepada Allah SWT supaya lekas berakhir peperangan ini dengan kemenangan di pihak kita”. 

Kiai Hasyim menerima diangkat menjadi Shumubu, jawatan Kantor Urusan Agama yang didirikan Jepang pada Mei 1942. Akibat perkembangan Shumubu dan menguat di daerah-daerah dengan mendirikan cabang-cabang (Shumuka), organisasi umat Islam yang dibentuk diakhir penjajahan Belanda, Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) dibubarkan Jepang pada 24 Oktober 1943.

Gerakan Bait al Maal yang digalakkan KH. Mas Mansur dkk melalui MIAI dianggap Jepang tanpa restu Shumubu sebagai organisasi resmi Pemerintah. Jepang tak mau ada organisasi Islam yang menyaingi Shumubu. 

Kiai Mas Mansur dkk akhirnya geram dan menuduh tokoh-tokoh, ulama-ulama dan kiai-kiai yang masuk dalam Shumubu merupakan antek-antek Jepang. Tentunya tuduhan itu juga menyasar sang ketua, KH. Hasyim Asy’ari dan pelaksana hariannya, KH. A. Wahid Hasyim yang sejatinya merupakan guru dan sahabat Kiai Mas Mansur sendiri.

Akhirnya banyak pihak menganggap Kiai Hasyim pro terhadap kebijakan Jepang, bukan pada umat. Namun, Jepang sepertinya tak mau perpecahan begitu gampang terjadi, yang itu justru membuat mereka susah, lalu didirikanlah organisasi besar lagi yang menaungi semua umat Islam dari berbagai golongan, yaitu Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang juga akhirnya diketuai oleh Hadratussyaikh.

Akhirnya Kiai Mas Mansur dan beberapa penggerak MIAI masuk dan menerima Masyumi. Bahkan dalam sebuah kesempatan Kiai Mas Mansur mengatakan, “Meskipun komentar saya tentang kelahiran Masyumi sangat singkat. Saya sangat berharap bahwa semua pemeluk Islam di Jawa sepenuh-penuhnya memahami penjelasan ini… (dan) menerima organisasi kita yang baru dengan gembira…. Saya mengimbau semua orang Islam untuk membantu pemerintah dalam semua usaha-usahanya.”

Selain Masyumi dan Shumubu, Kiai Hasyim terlihat seakan membela Jepang pada sisi di mana beliau sangat dekat dengan petinggi Jepang, termasuk intensitas pertemuan beliau dengan tiga utusan Jepang untuk umat Islam, yaitu Abdul Hamid Ono, Muhammad Shaleh Suzuki, dan Abdul Mun’im Inada. 

Apa yang dilakukan oleh Kiai Hasyim sejalan dengan apa yang dilakukan oleh beberapa tokoh pergerakan lain saat itu, seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Supriyadi. Tiga nama awal adalah pimpinan organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat), sedangkan Supriyadi menjadi komandan peleton (Shodanco) PETA, walau akhirnya ia memberontak pada Jepang pada Februari 1945. 

Namun, gerakan-gerakan tokoh-tokoh itu ditentang oleh tokoh-tokoh lain, seperti Sutan Syahrir. Ia menyebut, Kiai Hasyim, Soekarno, Supriyadi, dll, sebagai “anjing-anjing” Jepang. Ungkapan kasar ini memang wajar, tapi sebanarnya ia sedang salah sangka terhadap apa yang diusahakan oleh mereka.

Mereka sebenarnya ingin memanfaatkan propaganda Jepang yang ingin menarik simpati rakyat Indonesia, sebagai kendaraan menuju kemerdekaan.  Kiai Hasyim tidak bertujuan untuk aji mumpung, merebut pengaruh dan hati Jepang untuk kepentingan pribadi.

Belajar dari pengalaman saat beliau dipenjara dan disiksa oleh Jepang saat awal pendudukannya, Kiai Hasyim tahu betul kekejaman Jepang dan tipologi Jepang yang sangat takut dengan gerakan umat Islam di Indonesia.

Gertakan Kiai Wahid Hasyim dan kiai-santri saat berdemo membela Kiai Hasyim disadari betul bahwa Jepang sebenarnya sangat takut dengan gerakan-gerakan rakyat.  Sebenarnya sederhana saja sih, kalau memang Kiai Hasyim ingin memanfaatkan Jepang untuk kepentingan pribadi, tentu saja, tawaran menjadi presiden itu sangat menggiurkan.

Tentu, jika yang dipikirkan oleh beliau adalah kekuasaan, jabatan, nama besar sebagai pimpinan negara, memilih menerima tawaran Jepang itu, menjadi sangat logis. Tapi, buktinya tidak dilakukan oleh beliau, malah merekomendasikan Soekarno dan Hatta, dua sosok nasionalis untuk menjadi presiden dan wakil presiden. 

Kalau saja, Kiai Hasyim dan tokoh-tokoh di atas, tidak memanfaatkan politik Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan, kita mungkin tidak akan pernah punya tentara nasional yang kemudian hari pasca kemerdekaan berjasa melawan Sekutu yang ingin menguasai Indonesia lagi.

Kedua, bisa jadi pertentangan antara nasionalis dan golongan Islamis sangat kuat, sehingga dasar negara tidak segera disepakati.

Ketiga, Indonesia lambat merdeka, karena jika saja Indonesia frontal terhadap Jepang, tidak akan dibiarkan dengan mudah kemerdekaan itu dicapai.

Keempat, cita-cita persatuan umat yang dapat secara tegas menerima Indonesia sebagai tanah air mereka tidak tercapai, tanpa Masyumi, Shumubu, dll.

Kelima, tidak ada embrio-embrio organisasi-organisasi yang mewadahi perjuangan para pejuang kita, seperti PETA, PUTERA, Jawa Hokokai, dll. 

Lalu ada stigma bahwa kemerdekaan itu adalah hadiah dari Jepang? Apakah ungkapan ini benar? Tentu saja tidak. Tidak sama sekali bisa dibenarkan. Seakan-seakan saja begitu. Justru, perjuangan diplomatik, negosiasi, dan tentunya militer yang digunakan oleh Indonesia dalam melawan Jepang lah yang berkontribusi besar dalam memerdekaan bangsa ini.

Maka kita harus dapat memahami secara utuh, alasan Kiai Hasyim menerima berbagai jabatan, posisi yang strategis, sampai memberikan pidato-pidato dukungan terhadap Asia Timur Raya, sebagai salah satu cara dalam memuluskan jalan menuju Indonesia yang merdeka.

Lebih jauh lagi, disadari atau tidak, diakui atau tidak, cara itu sangat jitu, strategik, taktis, dan jeli, bisa melihat peluang dan arah perjuangan ke depan. Itulah kiai kita, KH. Hasyim Asy’ari. 

Sumber: 

1. Buku “Menjaga Warisan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari karya KH. Salahuddin Wahud, terbitan Pustaka Tebuireng tahun 2020.

2. Ceramah Gus Sholah dalam acara Rapat Pimpinan Nasional Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Jumat (23/02/2019) di Semarang. 

*Penulis adalah Tim Pusat Kajian Pemikiran KH. M. Hasyim Asy’ari. Saat ini sedang belajar di Pascasarjana Unhasy Tebuireng.

SebelumnyaPihak ICRC Serahkan Bantuan Kesehatan untuk Pesantren Tebuireng
BerikutnyaSekilas Biografi Imam Al-Ghazali