Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu umat Islam, di mana pada bulan itu umat Islam melaksanakan ibadah yang sifatnya tahunan yakni Puasa Ramadhan. Hukum melaksanakan puasa Ramadhan wajib bagi orang yang sudah memenuhi syarat wajib melaksanakan puasa.

Puasa berasal dari masdar  الصوم dan الصيام yang menurut bahasa artinya menahan diri. Puasa menurut istilah adalah menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan niat tertentu dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.[1]

Syarat wajib puasa ada 4 yakni: Islam, baligh, berakal, dan mampu menjalankan ibadah puasa. Maka hukumnya puasa tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat kebalikan dari empat hal diatas. [2]

Selain syarat wajib seorang yang melaksanakan ibadah puasa juga harus melaksanakan kewajiban-kewajiban puasa, diantaranya :

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Niat dalam hati. Jika puasa yang dilaksanakan adalah puasa wajib dalam artian bukan puasa Sunnah atau puasa nadzar maka wajib berniat ketika malam hari, dan apabila puasa Sunnah maka tidak wajib berniat di malam hari. Contoh puasa wajib yakni puasa Ramadhan maka apabila akan berpuasa Ramadhan wajib baginya niat di malam hari.
  2. Menahan diri dari makan dan minum. Makan dan minum yang dilakukan secara sengaja meskipun hanya sedikit itu bisa membatalkan puasa. Berbeda halnya dengan seorang yang makan karena tidak sengaja (lupa) maka hal itu tidak membatalkan puasa.
  1. Menahan diri dari bersetubuh dengan sengaja. Sedangkan jima’ (bersetubuh) karena lupa hukumnya sama seperti hukumnya sama seperti makan karena lupa.
  1. Menahan diri dari menyengaja muntah. Apabila seseorang sedang dalam perjalanan ia muntah dikarenakan mabuk perjalanan maka puasanya tidak batal, karena muntahnya tidak disengaja.

Dalam madzhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan itu ada beberapa ketentuan. Pertama, Niat puasa Ramadhan wajib dilaksanakan di malam hari atau dikenal dengan istilah “Tabyit”, Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ mengatakan;

تبييت النية شرط في صوم رمضان وغيره من الصو الواجب فلا يصح صوم رمضان ولا قضاء ولا الكفارة ولا صوم فدية الحج غيرها من الصو الواجب بنية من النهار بلا خلاف

النووي، المجموع شرح المهذب، 289/6

Tabyit niat adalah syarat dari puasa Ramadhan dan puasa wajib lainnya. Tidak ada khilaf (ulama) bahwa tidak sah puasa Ramadhan, puasa qadha, puasa kafarat, puasa fidyah haji dan selainnya yang merupakan puasa-puasa wajib apabila niatnya pada waktu siang hari.”[3]

Kedua, niat puasa harus dilaksanakan setiap hari. Apabila di awal bulan ramadhan ia berniat puasa sebulan penuh, dan setiap malam hari ia tidak melakukan niat puasa lagi maka puasanya selama satu bulan tidak sah kecuali satu hari dimana pada malam harinya ia berniat untuk menjalankan ibadah puasa, Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Majmu’ Syarah Muhadzab,

تجب النية كل يوم سواء رمضان وغيره وهذا لا خلاف فيه عندنا فلو نوى في أول ليلة من رمضان صوم الشهر كله لم تصح هذه النية لغير اليوم الأول

النووي، المجموع شرح المهذب، 289/6

Wajib berniat di tiap hari, baik untuk puasa Ramadhan atau puasa lainnya, masalah ini tidak ada khilaf di antara kami (para ulama syafi’iyah). Apabila ada orang berniat di awal malam Ramadhan akan berpuasa sebulan penuh, maka niatnya ini tidak sah (berlaku) kecuali untuk hari yang pertama saja.”[4]

Namun, apabila seseorang khawatir lupa tidak membaca niat pada malam hari tertentu maka ia dianjurkan niat puasa sebulan penuh pada malam pertama bulan Ramadhan. Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatu al-Zain mengatakan:

ويسن في أول لشهر أن ينوي صوم جميعه وذلك يغني عن تجديدها في كل ليلة عند الإمام مالك فيسن ذلك عندنا لأنة ربما نسى التبييت في بعض الليالي فيقلد الإمام مالكا

نووي الجاوي، نهاية الزين، 185

Disunahkan ketika di awal bulan (Ramadhan) untuk berniat sebulan penuh. (berniat puasa sebulan penuh ini) tidak perlu lagi niat tiap harinya menurut imam Malik. Maka niat (sebulan penuh) ini disunahkan dalam madzhab kami (Syafi’i), karena mungkin saja orang itu lupa berniat di sebagian malam, maka (ketika itu) dia bertaklid kepada fatwanya imam Malik.”

Sebagai bentuk pengajaran kepada umat maka para Ulama menganjurkan membaca niat puasa bareng-bareng setelah selesai melaksanakan sholat terawih. Biasanya dalam pembacaan niat seorang Imam Sholat melafadzkan niat kemudian makmum (jama’ah sholat) menirukan bacaan niat imam. Tujuannya untuk mengantisipasi adanya lupa membaca niat. Adapun lafadz niat puasa Ramadhan sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adaa i fardhi ramadhani haadzihis sanati lillaahi ta’aala.

Artinya: “Saya niat puasa esok hari, yaitu puasa fardhu Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”[5]


[1] Fathul Qorib, Syaikh al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qosim al-Ghozi hal. 136

[2] Ibid hal. 136

[3] Majmu’Syarah Muhadzab, Imam Nawawi hal 289 Juz 6

[4] Ibid hal. 289, Juz 6

[5] Fathul Qorib Syaikh al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Qosim al-Ghozi hal. 137


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaMenyusuri Tapak Tilas Masyaikh dan Sejarah Pesantren
BerikutnyaManakiban Ternyata Bisa Menambah Kecerdasan Spiritual