Oleh: Nur Indah*

Sama halnya dengan tawassul, tradisi manakiban merupakan tradisi secara turun menurun yang dilakukan oleh umat Islam umumnya, terutama umat Islam di Jawa. Makna dari kata “manakib” sendiri merupakan karya sastra yang berisi tentang cerita keramat para wali. Salah satu manakib yang terkenal dalam masyarakat Jawa adalah Manakib Syaikh Abdul Qadir Jailani. Manakib Syaikh Abdul Qadir Jailani bercerita tentang kehidupan pribadi Syaikh Abdul Qadir Jailani dari kecil hingga meninggal disertai dengan cerita keramat-keramat tokoh tersebut.

Dalam pembacaan manaqib ini biasanya salah seorang memimpin bacaan yang terdapat dalam kitab manaqib. Sementara yang lainnya dengan khusu’ mendengarkan secara aktif dengan memuji Allah dengan kalimat-kalimat yang terdapat dalam Asmaul Husna. Bagi yang mengerti bacaannya dapat menyelami lebih dalam maksud dan pelajaran-pelajaran dari isi kitab tersebut. Sebab di dalamnya berisi perikehidupan, kebiasaan dan kelebihan-kelebihan dari wali Allah. Bagi yang tidak mengerti akan diterangkan oleh gurunya.

Setiap orang mempunyai harapan untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupannya. Dalam rangka mencapai hal tersebut, kecerdasan intelektual dipercaya sebagai jalannya. Butuh keselarasan antara kecerdasan spiritual dengan kecerdasan intelektual dalam meningkatkan pola pikir seseorang. Kecerdasan spiritual tidak selalu berkaitan dengan agama, dan bahkan mereka berbeda. Karena Danah Zohar menemukan bahwa sebagian orang menganggap bahwa SQ (Kecerdasan Spritual) mungkin menemukan cara pengungkapan melalui agama formal, tetapi beragama tidak menjamin SQ tinggi.[1]

SQ atau kecerdasan spiritual adalah sarana yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada ciptaanNya agar mereka bisa lebih mudah berhubungan denganNya. Sesuai dengan keterangan di atas, manaqib adalah salah satu dari banyak upaya untuk meningkatkan kecerdasan spiritual dengan cara mendekatkan hubungan dengan Sang Pencipta, mencoba mendalami isi perintah-Nya dan meneladani utusan serta kekasihnya melalui tokoh Islam yang sudah sangat terkenal yakni Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy. Sebagaimana sirah atau perjalanan hidup beliau yang tertuang dalam Manaqib An-Nur Al-Burhaniy karya Abu Luthf Al-Hakim Mushlih bin Abdur Rahman Al-Maraqiy.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Manaqib tentang Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy cukup banyak, antara lain sebagai berikut :

 1) Bahjat Al-Asrar, yang ditulis oleh Asu-Syattanawi (w. 713 H/1313 M), merupakan biografi tertua dan terbaik tentang Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy yang penuh dengan kisah keajaiban sang wali dan menjadi rujukan penulis berikutnya.

2) Khulashah Al-Mufakhir, yang ditulis oleh Al-Yafi’i (w. 768 H/1367 M) sebagai apologinya tentang Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, memuat 200 kisah legenda tentang keshalehan tokohnya dan sekitar 40 kisah mistik lainnya. Naskah ini di dalam bahasa Jawa dikenal sebagai hikayah Abdul Qodir Al-Jailaniy yang hanya memuat 100 kisah, termasuk dalam 79 tembang.

 3) Khalaid Al-Jawahir karya Al-Tadifi, penyusunannya bersifat historis yang dimulai dari pembahasan kehidupan, keturunan dan lingkungan wali dan kisah ilustratif.

4) Natijah At-Tahqiq oleh Abdullah Muhammad Ad-Dilai (w. 1136 H/1724 M) memuat deskripsi kehidupan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy dan ucapannya yang menunjukkan kebesaran sang wali. 5) An-Nur Al-Burhani fi Tarjamah Al-Lujjaini Ad-Dani fi Manaqib Sayyid Abdul Qodir Al-Jilani oleh Abu Luthf Al-Hakim 29 Mushlih bin Abdurrahman Al-Maraqi, memuat legenda dan kisah ajaib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy.

6) Lubab Al-Ma’ani fi Tarjamah Ad-Dani fi Manaqib Sayyidi Asy-Syekh Abdul Qodir oleh Abu Muhammad Shalih Mustamir Al-Hajian Al-Juwani memuat kisah kehidupan dan kekeramatan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy.[2]

Sejarah timbulnya manaqib di Indonesia erat sekali kaitannya dengan sejarah tersebarnya ajaran tasawuf di Indonesia. Sebab ajaran-ajaran tasawuf inilah timbul berbagai macam amalan dalam Islam, seperti thoriqoh yang kemudian berkembang menjadi amalan yang lain seperti halnya manaqib.

Tujuan lain dari manaqib adalah untuk mencintai dan menghormati keluarga dan keturunan Nabi SAW, mencintai para orang sholeh dan auliya’, mencari berkah dan syafa’at dari Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy, bertawassul dengan Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy dan melaksanakan nadzar karena Allah semata dan bukan karena maksiat. Dengan tujuan seperti yang telah disebutkan di atas, manaqib memiliki manfaat tersendiri bagi pembacanya dan salah satunya adalah meningkatkan daya pola pikir seseorang dengan mendekatkan diri kepada para kekasih – kekasih Allah SWT.


[1] Danah Zohah dan Ian Marshall, SQ: Kecerdasan Spiritual (Bandung: Mizan Media Utama, 2001), hal. 8.

[2] J. Suyuti Pulungan, “Manakib,” Ensiklopedi Islam, Vol. 4, ed. Nina Armando, et. Al. (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2005), hal. 264.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaNiat Puasa Ramadhan Satu Bulan Penuh, Bolehkah?
BerikutnyaWisuda Purnasiswa Yayasan Khoiriyah Hasyim