Kemurahan Islam bagi Musafir (Bagian 1)

175
(Ilustrasi oleh: Najib M)

Oleh: Hilmi Abedillah*

Ada pelajaran di setiap perjalanan, begitulah menurut kebanyakan orang. Dalam Islam, perjalanan juga merupakan hal yang disyariatkan oleh Allah, misalnya pergi haji, dagang, jihad, dan bepergian lainnya yang diperbolehkan. Di dalamnya terdapat hukum-hukum yang mengaturnya, sehingga dalam perjalanan kita tetap bisa beribadah sesuai syariat. Ada beberapa rukhshoh (kemurahan) yang diberikan Allah bagi orang yang melakukan perjalanan.

Dalam kajian fikih, perjalanan ialah ‘safar’. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan disebut ‘safir’ atau ‘musafir’. Ada dua macam safar, thawil dan qashir. Safar thawil atau perjalanan jauh ialah perjalanan yang sudah dibolehkan qashar shalat karena sudah mencapai 2 marhalah/4 pos/16 farsakh/80 km. Bila belum mencapai jarak tersebut, perjalanan itu dinamakan safar qashir (perjalanan pendek). (Hasyiyah al-Jamal, V, 243)

Safar menjadi salah satu sebab kemurahan dalam ibadah. Ini disebutkan dalam kaidah fikih “al masyaqqah tajlibu at taisir, kesulitan membawa kemudahan.” Selain safar, sebab-sebab yang lain , yaitu sakit, paksaan, bodoh, kesulitan, dan kekurangan. Kemurahan ini didatangkan karena Allah menyukai kemudahan dan tidak suka mempersulit. (Idlahul Qowaidil Fiqhiyyah, 37)

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah: 185)

Kemurahan yang bisa didapat oleh musafir ketika bepergian safar thawil ialah sebagai berikut:

  1. Mengusap Muzah dalam Durasi 3 Hari

Para fuqaha berpendapat bahwa hukum memakai muzah (selop/semacam sepatu terbuat dari kulit, merupakan budaya Arab) selama sehari semalam bagi pemukim, dan tiga hari bagi musafir. Pernah diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra. bahwasanya:

جَعَلَ اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ, وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ. يَعْنِي: فِي اَلْمَسْحِ عَلَى اَلْخُفَّيْنِ

Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- membuat tiga hari beserta malamnya untuk musafir, dan sehari semalam untuk pemukim. Maksudnya dalam mengusap kedua muzah.” (HR. Muslim) (Bulughul Maram, 22)

Jadi, dalam berwudlu orang yang memakai muzah tidak perlu membasuh kedua kaki, tetapi cukup dengan mengusapnya. (al-Hawi, I, 354; al-Mughni, I, 365)

  1. Qashar Shalat

Qashar artinya memperpendek shalat yang semula empat rakaat menjadi dua rakaat. Shalat yang aslinya tidak empat rakaat seperti subuh dan maghrib, tidak bisa diqashar. Qashar shalat di dalam perjalanan diperbolehkan berdasarkan Al Quran dan hadis. Adapun permulaan qashar ialah ketika ia keluar dari baladnya (kecamatan/daerah ia tinggal). Sedangkan orang yang niat mukim lebih dari tiga hari, maka ia wajib shalat sempurna tanpa diqashar. Kecuali orang yang punya hajat tapi tidak tahu berapa lama ia akan menyelesaikan hajat tersebut, maka ia boleh qashar walau melebihi tiga hari. (al-Mughni, I, 113; II, 138; Nailul Author, I, 246)

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqashar shalat.” (QS. an-Nisa’: 101).

  Hampir Diusir, Begini Kisah H. Darto Syaifuddin Sukses Dirikan Pesantren di Papua

Namun, jika bermakmum kepada shalatnya orang mukim, maka ia tetap harus shalat sempurna, tidak boleh diqashar.

  1. Jamak antara Dua Shalat

Musafir boleh melakukan jamak antara shalat Dzuhur dan Ashar, juga maghrib dan Isya’. Tidak dengan shalat Subuh. Bisa dengan jamak taqdim, bila dilakukan di waktu pertama (Dzuhur atau Maghrib). Bisa juga dengan jamak ta’khir, bila dilakukan di waktu kedua (Ashar atau Isya’). Maka, bisa disimpulkan bahwa setiap musafir boleh melakukan jamak dan juga qashar. Ada sebuah hadis yang diriwayatkan Muadz bin Jabal:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ فَيُصَلِّيهِمَا جَمِيعًا وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ سَارَ وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلاَّهَا مَعَ الْمَغْرِبِ

Sesungguhnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- di dalam perang Tabuk, ketika berangkat sebelum condongnya matahari, mengakhirkan shalat Dzuhur sehingga beliau menggabungkannya dengan Ashar. Kemudian shalat Dzuhur dan Ashar. Ketika beliau berangkat setelah condongnya matahari, beliau shalat dzuhur dan ashar dulu baru pergi. Ketika berangkat sebelum Maghrib, beliau mengakhirkan Maghrib sehingga digabungkan dengan isya’. Saat pergi setelah Maghrib, beliau menggabungkan Isya’ beserta Maghrib.” (HR. Muslim)


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari