Pengajian Kitab Kuning oleh KH. Habib Ahmad

Oleh: Minahul Asna*

Santri atau seorang pelajar sudah tentu dan harus memiliki ketekunan yang luar biasa. Demi mencapai cita-cita yang luhur, kiat-kiat yang sangat keras dan terus menerus ia lakukan dari mulai ikhtiar dhahir, yaitu membaca pelajaran yang akan datang (muthala’ah); mengulang pelajaran (muraja’ah), dan diskusi (musyawarah), hingga ikhtiar batin, yaitu menjaga wudlu (dawamul wudlu’), puasa sunnah, dan pengabdian kepada guru. Namun semua itu bukan yang utama. Dalam semua aspek kegiatan yang baik maupun buruk tergantung dari niatnya.

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul Alim wal Muta’allim, menjelaskan niat yang harus ada pada seorang santri saat masa pembelajaran. Hendaknya memiliki niat yang yang baik dalam mencari ilmu, yaitu :

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  • Bermaksud mendapatkan ridho Allah, semua amal seorang muslim harus disertai dengan niat untuk mendapatkan ridho dari Allah sehingga dilancarkan dalam perjalanan mencari ilmu
  • Mengamalkan ilmu, puncak dari seorang ahli ilmu adalah bukan untuk hanya mencari harta namun puncak mencari ilmu adalah mengamalkannya sehingga ilmu yang kita cari selama bertahun-tahun tidak percuma, berhenti hanya sebatas pengetahuan
  • Menghidupkan syariah Islam,
  • Menerangi hati dan mengindahkannya dan mendekatkan diri kepada Allah.

Berikutnya, Hadratussyaikh menyebutkan niat yang tidak boleh ada dalam hati seorang santri yaitu:

  1. Berniat hanya ingin mendapatkan kepentingan duniawi seperti mendapatkan kepemimpinan, pangkat, dan harta;
  2. Menyombongkan diri di hadapan orang;
  3. Agar orang lain hormat.

Dari hadits tersebut menerangkan pentingnya niat. Semua perbuatan tergantung kepada niat. Sehingga meskipun perbuatan itu baik, namun diikuti dengan niat yang jelek maka jeleklah perbuatan itu menurut Allah SWT. Jika seseorang itu berniat buruk seperti keinginan agar orang lain hormat maka yang ia dapatkan hanyalah sebatas kehormatan. Wallahu A’lam


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari