Tebuireng.online– Sabtu (19/09/2020), pada agenda webinar yang digelar oleh  Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Hasyim Asyari (Unhasy), Gus Ulil Abshar Abdalla berkesempatan hadir sebagai keynote speaker. Acara yang bertajuk “Tantangan Dakwah Era Kontemporer: Adu Kuat Otoritas Agama di Media Sosial” itu membicarakan metode dakwah, lebih-lebih yang ditradisikan oleh kalangan Nahdhliyyin dari dulu hingga saat ini.

Bahwa akan ada kemerosotan di kalangan mereka, jika mereka belum menjamah media sosial secara signifikan. Itulah yang sedang terjadi beberapa tahun terakhir, media sosial banyak diisi oleh kalangan-kalangan “ekstremis”. “Maka dari situ timbul pertanyaan besar. Mengapa kelompok-kelompok garis keras lebih menarik daripada kalangan moderat?” tanya Gus Ulil.

Menurut beliau, ada beberapa alasan yang membuat kelompok ekstrem lebih menarik. Yang pertama, hitam putih dan sederhana. Ideologi yang mereka bangun sangat mencolokkan “hitam putih” serta disampaikan dengan bahasa sederhana. Dan itulah yang lebih diminati oleh kalangan awam. Mereka (orang awam) tidak perlu berpikir dan susah payah baca buku atau kitab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan mereka. Mereka akan mendapat pernyataan sederhana “ini halal ini haram, ini kafir ini tidak” dengan gampang dari kelompok ekstremis ini.

Yang kedua, rendahnya barrier to entry, atau bahasa sederhananya seleksi ke-Kyai-an di kalangan ekstremis cenderung mudah dan sedikit syarat. Mereka tidak perlu belajar nahwu, ushul fikih, kaidah fikih, tafsir dan hadis secara mendalam agar bisa menjadi informan agama Islam. Berbeda halnya dengan yang ditradisikan oleh kalangan nahdhliyyin. “Mereka (kalangan nahdliyyin) baru bisa ngomong jika sudah cukup ilmu. Dan itu terkadang mereka sudah tua. Hehe,” canda Gus Ulil.

Lanjut pria kelahiran Pati ini, yang ketiga, mereka mengambil ruang bebas di media sosial yang belum diambil oleh kelompok moderat. Yang keempat, kelompok minoritas cenderung militan. Nah, rata-rata kelompok dengan jumlah sedikit, akan lebih intens melakukan pergerakan. Seolah-olah, kelompok salafi, kalau dalam bahasa Jawa pantura mereka sangat Ngēdepngēdepi, artinya mereka sangat memperlihatkan eksistensinya. Lagi-lagi mereka menonjolkan hitam putihnya, penyampaian tidak njelimet, dan sangat militan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, akan ada keadaan yang akan membuat ideologi mereka lambat laun runtuh. Ambil contoh, sebuah riset tim Rumah Kitab. Ada seorang remaja putri yang dibesarkan oleh keluarga salafi. Ternyata ia diam-diam mendengarkan musik K-Pop tanpa sepengetahuan orang tuanya. Jelas jika ketahuan pasti akan dimarahi, sebab menurut kelompok salafi musik adalah hal yang haram, apalagi K-Pop.

Dari situ, secara perlahan ideologi mereka akan terbentur oleh keadaan sekitar mereka. “Saya kira mereka akan kehabisan bensin untuk membesarkan kelompoknya, atau dalam bahasa inggris disebut exhausted. Berbeda dengan kelompok nahdliyyin yang dinilai lebih moderat,” tutup Gus Ulil.


Pewarta: Yuniar