Tebuireng.online- Webinar “Tantangan Dakwah Era Kontemporer: Adu Kuat Otoritas Agama di Media Sosial” diadakan Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) melalui via zoom pada Sabtu (19/09/20). Salah satu pematerinya adalah Wahyu Ilaihi, PhD Candidate Tilburg University, Belanda.

“NU itu lebih kuat kalau dilihat dari perspektif KPI atau di dakwahnya. Otoritas NU itu lebih kuat kalau dilihat dari empat rukun KPI. Pertama, dari sisi da’inya. Orang-orang NU itu sebenarnya memiliki sumber daya atau aset dari sudah tidak diragukan lagi dari kalangan kiai, ulama, yang sudah bergerak lebih lama untuk di umat,” ungkap Wahyu Ilaihi.

Ia berpendapat, di sisi audience, NU itu terbesar di dunia untuk saat ini, di Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2019 itu kita memiliki sekitar 49,5 persen dari jumlah total penduduk kita yaitu sekitar 108jt dari 260jt penduduk Indonesia, sementara Muhammadiyah itu 4,3% dan kelompok lain seperti salafi, wahabi, dan lain sebagainya itu hanya tercover sekitar 1,8 – 2,5 % dari total itu.

Kita juga memiliki kitab-kitab klasik, kitab kuning yang tidak diragukan lagi otoritasnya, masih berlaku hingga sekarang. Hal ini terbukti seperti pengajian Ihya’ oleh Gus Ulil masih diterima walaupun menggunakan kitab klasik yang umurnya sudah ribuan tahun.

Kemudian dilihat dari sisi channelnya, ia menjelaskan, NU juga sangat dominan sekali sebenarnya dari sisi apapun. Dari NU online pun sudah merintis ke tiga besar yang dijadikan otoritas untuk membacakan referensi kaum Indonesia dalam mencari keilmuan tentang keagamaan itu sudah masuk tiga besar, kemudian kita sudah punya TV 9 tadi yang sudah 64 channel, dan youtube channel itu yang sudah luar biasa sekali.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kalau saya lihat dari Gus Ulil sebenarnya menarik sekali, karena Gus Ulil ini ketika ngaji Ihya ini berbeda dengan pengajian-pengajian yang lain. Seperti halnya Bu Wulliwati bilang, semua kelompok itu tertampung di Ihya’, walaupun Ihya’ merupakan akar tapi semua kelompok itu bisa masuk dan menikmatinya. Saya pernah mewancarai salah satu seorang, saya tidak sebut namanya, beliau ini orang Jakarta, dia itu aktif mengikuti mengaji Ihya’, dan sampai mengikuti kopdar ihya di PBNU, dia seorang kristiani. Itu adalah luar biasa. Bahwasannya itu terbukti ilmu ini juga bisa menerima kelompok-kelompok lain,” ungkapnya.


Pewarta: Qonaatun/Dian Bagus