sumber ilustrasi: islam.nu.or.id

Oleh: Lailatul Hidayah*

Dalail al khairat adalah kitab tentang kumpulan shalawat yang dikarang oleh ulama dari Maroko Afrika, Abu Abdullah Muḥammad bin Sulaiman bin Abu Bakr al-Jazuli al-Simlali, sering dikenal sebagai Imam al-Jazuli atau Sheikh Jazuli.

Suatu hari, Imam al-Jazuli sedang melakukan perjalanan panjang hingga tiba waktu shalat. Di atas tanah gersang yang beliau pijak, tak ada satu pun manusia yang bisa beliau tanya tentang tempat atau sumber air yang bisa digunakan untuk berwudu.

Pandangan mata beliau berputar mencari sumber air yang bisa digunakan untuk berwudu. Pencarian beliau terhenti ketika melihat sebuah sumur yang dalam benaknya pastilah bisa digunakan untuk berwudlu. Beliau bergegas mendekati sumur tersebut sebelum waktu shalat habis.

Setelah berjalan mendekati sumur, sampailah Imam al-Jazuli pada kenyataan yang pahit, air dalam sumur tersebut ternyata dangkal dan tak ada alat yang bisa membantu untuk mengambil air dari dalam sumur.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beliau mondar-mandir mencari alat yang bisa digunakan untuk mengambil air, tapi hasilnya nihil. Biasanya di setiap sumur terdapat timba atau gayung panjang dengan katrol yang bisa digunakan untuk mengambil air, tapi sumur ini berbeda.

Sementara itu, dari atas gunung atau daratan tinggi terlihat seorang anak kecil (dikatakan juga; seorang perempuang tua –Rabi’ah al Adawiyah) yang sedang mengamati Imam al-Jazuli sejak tadi. Kemudian anak tersebut turun dengan kaki kecilnya dan mendatangi Imam al-Jazuli. Ia bertanya kepada Imam al-Jazuli, setelah mendapat jawaban yang diinginkan, ia mendekati bibir sumur dengan langkah pasti. Ia mendekatkan mulutnya ke dalam sumur dan meludah ke dalam sumur.

Imam al-Jazuli kaget sekaligus penasaran, kenapa anak kecil itu meludah ke dalam sumur? Namun rasa penasaran beliau terjawab saat tiba-tiba air dalam sumur itu naik seperti muncul sumber air baru yang deras dari bawah tanah. Sumur pun menjadi penuh dengan air sampai bisa dijangkau hanya dengan tangan kosong. Akhirnya Imam al-Jazuli bisa wudu dari sumur tersebut dan melakukan shalat tepat waktu.

Karena penasaran dengan apa yang baru saja beliau saksikan, Imam al-Jazuli bertanya kepada anak kecil itu:

“Apa yang membuatmu bisa mendapatkan derajat (kedudukan di dekat Allah) setinggi ini?”

Anak kecil itu menjawab:

لكثرة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم

“Karena banyak membaca shalawat untuk baginda Nabi Muhammad SAW.”

Mendengar jawaban anak kecil tersebut, Imam al-Jazuli berniat dengan sungguh-sungguh akan memperbanyak membaca shalawat dan mengarang kitab tentang shalawat yang kemudian diberi judul “dalail al khairat”. Sampai saat ini, kitab karya Imam al-Jazuli ini masih diamalkan oleh mayoritas umat Islam di penjuru dunia.

*Disarikan dari sambutan Ust. Arif Khuzaini pada acara harlah ke-95 NU di Masjid Pesantren Tebuireng 2.

** Mahasantri Mahad Aly Tebuireng.

SebelumnyaRefleksi Kiai atas Tafsir Wacana Agama dan Gender
BerikutnyaAgar Tidak Salah Kaprah, Baca Pemahaman Kesetaraan Gender