Membaca Teladan dari Rumah Ulama: Pendidikan Keluarga yang Melahirkan Generasi Unggul

102
Buku Teladan dari Rumah Ulama karya Gus Umar Wahid (foto: rara)

Buku Teladan dari Rumah Ulama merupakan catatan reflektif Gus Umar Wahid yang merekam perjalanan pendidikan keluarga besar KH. Abdul Wahid Hasyim dan istrinya, Bu Nyai Sholihah, serta kisah hidup putra-putri mereka. Buku ini tidak hanya menghadirkan potret keluarga ulama besar, tetapi juga menyuguhkan nilai-nilai pendidikan keluarga yang relevan lintas zaman. Kehadirannya menjadi teladan bagi keluarga Muslim, bahkan keluarga pada umumnya, dalam mendidik anak agar sukses di bidang pendidikan, agama, sosial, hingga spiritual.

Membaca buku ini membuat pembaca merenung bahwa pengaruh pendidikan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter dan arah hidup anak. Sosok Bu Nyai Sholihah digambarkan sebagai ibu yang gigih, disiplin, dan total dalam menjalankan perannya sebagai pendidik utama di rumah.

Baca Juga: Puisi Teladan dari Rumah Ulama

Beliau menanamkan nilai kepatuhan, konsistensi, dan tanggung jawab kepada putra-putrinya. Dalam pandangan Bu Nyai Sholihah, prestasi akademik merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seluruh putra-putrinya dikenal cerdas, berprestasi, aktif di masyarakat, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

Pada halaman 37, Gus Umar menuliskan kisah ketika Bu Nyai Sholihah menyampaikan dawuh almarhum KH. Abdul Wahid Hasyim kepada anak-anaknya: “Bapakmu dulu itu pernah dawuh, anak lanangku onok telu. Kabeh mesti ngerti agomo. Gak kabeh dadi kyai, tapi kudu ono sing dadi kyai. Aku kepingin anakku onok sing dadi kyai, ono dadi insinyur, lan ono sing dadi dokter.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Wasiat tersebut akhirnya terwujud berkat perjuangan Bu Nyai Sholihah dan ketekunan putra-putrinya. Masing-masing anak tumbuh dan berkiprah sesuai jalan pengabdian yang berbeda, namun tetap berpijak pada nilai agama dan kemanusiaan.

Baca Juga: Tebuireng Gelar Bedah Buku Teladan dari Rumah Ulama

Putra pertama, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dikenal sebagai ulama kharismatik sekaligus Presiden ke-4 Republik Indonesia. Kiprahnya tidak hanya meninggalkan jejak besar dalam sejarah bangsa, tetapi juga dalam pemikiran Islam dan demokrasi. Ia memimpin PBNU selama tiga periode dan meneguhkan kembali khittah KH. Hasyim Asy’ari. Pemikirannya terus hidup melalui tulisan, gagasan, dan gerakan Gusdurian pasca wafatnya.

Aisyah Wahid (Ning Is) tampil sebagai sosok perempuan visioner. Ia pernah menjadi anggota DPR pada tahun 1997 dan dikenal sangat serius serta berintegritas dalam menjalankan tugasnya. Ia melakukan riset mendalam terhadap rancangan undang-undang demi memperbaiki kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada keadilan dan kemaslahatan.

Salahuddin Wahid (Gus Sholah) merupakan perwujudan amanah ayahnya sebagai seorang insinyur. Lulusan Arsitektur ITB ini kemudian mengabdikan hidupnya sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng sejak 2006 hingga wafat. Berbagai gebrakan visioner ia lakukan, mulai dari perbaikan gizi santri melalui Jasa Boga (JABO), pendirian Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT), revitalisasi Tebuireng Media Group, renovasi pondok, hingga pembangunan Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy’ari. Ia juga membuka berbagai cabang Pesantren Tebuireng, termasuk Tebuireng Sains di Jombok dan Kesamben.

Baca Juga: Gus Umar Wahid Ungkap Kisah Luar Biasa Nyai Sholihah dan Kiai Wahid Hasyim

Umar Wahid (Gus Umar) sendiri merupakan seorang dokter dan pernah menjabat sebagai direktur dua rumah sakit daerah. Sebagai alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ia berhasil merealisasikan amanah ayahnya untuk menjadi dokter. Buku ini ditulis Gus Umar pada usia 80 tahun, sehingga ia mengakui terdapat beberapa detail kisah yang mungkin terlewat, meskipun ingatan telah dikerahkan sekuat mungkin.

Lily Wahid (Ning Lily) tampil dengan karakter yang lebih berani dan aktif dibanding kakaknya. Ia banyak berkiprah di Fatayat NU, kemudian terjun ke dunia politik melalui PKB dan menjadi anggota DPR RI pada tahun 2009. Sosoknya dikenal gigih, vokal, dan konsisten memperjuangkan pendapat yang diyakininya benar.

Putra terakhir, Hasyim Wahid (Gus Iim), dikenal sangat cerdas dan memiliki daya pikir yang seimbang. Sejak kecil, kecerdasannya sudah tampak menonjol. Ia sempat menempuh pendidikan di ITB dan UI secara bersamaan, namun tidak menyelesaikannya. Ketika Gus Umar bertanya alasan berhenti kuliah, ia menjawab dengan lugas, “Ah, dosennya bodoh-bodoh,” karena sering kali dosen kalah debat dengannya. Jawaban ini menggambarkan keberanian berpikir kritis sekaligus kepercayaan diri yang tinggi.

Baca Juga: Gus Umar: Gus Sholah itu Teman sekaligus Kakak yang Menyenangkan

Secara keseluruhan, Teladan dari Rumah Ulama merupakan buku yang kaya nilai pendidikan keluarga, keteladanan orang tua, dan semangat pengabdian. Buku ini layak dibaca oleh orang tua, pendidik, dan siapa pun yang ingin memahami bagaimana keluarga dapat menjadi fondasi utama dalam melahirkan generasi unggul dan berintegritas.



IDENTITAS BUKU
Penulis                : KH. dr. Umar Wahid
Editor                  : Imam Anshori Saleh
Penerbit               : Yayasan KH Wahid Hasyim bekerjasama Lumintu Jaya  Negara
ISBN                   : 9786238764594
Jumlah Halaman   : 182 hlm
Tahun Terbit         : 2025
Peresensi             : Aulia Rachmatul Ummah
Editor                  : Rara Zarary