Tebuireng Gelar Bedah Buku Teladan dari Rumah Ulama

114
Penulis Buku “Teladan dari Rumah Ulama” Gus Umar Wahid saat memaparkan kisah dalam bukunya (foto: zidan/tebuirengonline)

Tebuireng.online— Pesantren Tebuireng menjadi tuan rumah dalam acara Bedah Buku “Teladan dari Rumah Ulama: Catatan Gus Umar Wahid tentang Kiai Wahid, Nyai Sholihah, dan Putra-putrinya” yang digelar di lantai 3 Gedung Yusuf Hasyim pada Sabtu (22/11). Acara ini menghadirkan tiga narasumber: KH. dr. Umar Wahid selaku penulis buku, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Machfudz, dan Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib.

Turut hadir para dzurriyah KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahid Hasyim, KH. Bisri Syansuri, dan KH. Abdul Wahab Chasbullah, serta ratusan peserta dari kalangan santri, mahasiswa, hingga dosen Perguruan Tinggi Tebuireng. Acara dipandu oleh Rara Zarary, redaktur harian Tebuireng Online, yang membuat suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif.

Baca Juga: Kisah Kesuksesan Nyai Solichah dalam Mendidik Anak

KH. dr. Umar Wahid membuka sesi diskusi dengan pemaparan emosional tentang perjuangan ibunya, Nyai Sholihah, yang menjadi single parent setelah wafatnya KH. Wahid Hasyim.

“Ketika Ayah saya meninggal, Ibu baru berusia 31 tahun. Beliau menolak tawaran keluarga untuk kembali ke pesantren dan memilih bertahan di Jakarta untuk membesarkan lima anaknya seorang diri,” ungkapnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
Suasana saat berlangsungnya acara bedah buku di lantai 3 gedung Yusuf Hasyim Tebuireng Jombang

Lebih jauh, Gus Umar menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar rangkuman kisah, tetapi catatan hidup yang ia alami langsung bersama ayah dan terutama ibunya. Ia menuturkan bagaimana ketegasan, kebijaksanaan, dan kegigihan Nyai Sholihah membentuk karakter anak-anaknya.

Baca Juga: Kiai Wahid Hasyim, Sang Putra (Tanpa) Mahkota

Dengan pola pengasuhan (parenting) yang kuat, disiplin, sekaligus penuh kasih, Nyai Sholihah memastikan anak-anaknya tumbuh dengan nilai adab, kesantunan, dan integritas yang menjadi warisan keluarga besar Tebuireng. “Apa yang dilakukan Ibu tidak lepas dari pendampingan Ayah sebelumnya. Didikan Ayah tetap hidup melalui Ibu,” jelasnya.

Sesi berikutnya diisi oleh KH. Abdul Hakim Machfudz (Gus Kikin). Beliau menjelaskan bahwa kisah dan teladan keluarga Kiai Wahid dan Nyai Sholihah sepenuhnya selaras dengan ajaran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.

“Hal yang menarik dari buku ini adalah bagaimana pola pendidikan dan adab yang dijalankan keluarga Wahid Hasyim merupakan turunan langsung dari ajaran Hadratussyaikh dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim,” terang Gus Kikin.

Ia menambahkan bahwa pola keteladanan yang diwariskan keluarga tersebut bukan hanya soal kecerdasan dan prestasi, tetapi terutama tentang pembentukan karakter: disiplin dalam belajar, kesantunan dalam bertutur, penghormatan kepada ilmu, dan kesetiaan pada nilai-nilai pesantren. “Buku ini menunjukkan bahwa tradisi itu hidup dalam keseharian keluarga beliau.”

Baca Juga: Gus Umar Wahid Ungkap Kisah Luar Biasa Nyai Sholihah dan Kiai Wahid Hasyim

Dalam sesi ketiga, Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib mengenang langsung kedekatannya dengan Nyai Sholihah.

“Beliau adalah sosok ibu yang sangat perhatian. Ketika para santri membutuhkan figur ibu, Nyai Sholihah selalu hadir,” ujarnya dengan penuh haru.

Sepanjang forum, Hj. Lathifah berkali-kali menegaskan bahwa keteladanan Nyai Sholihah tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga masyarakat luas. Beliau tidak hanya mendidik anak-anaknya sendiri dengan penuh kesungguhan, tetapi juga menjadi teladan keibuan bagi siapa pun yang datang kepada beliau.

Nilai-nilai keibuan, kesederhanaan, ketegasan, dan perhatian yang diberikan Nyai Sholihah terbukti meninggalkan pengaruh besar pada banyak generasi, termasuk dirinya. “Beliau mendidik dengan hati, dengan cinta, tetapi tetap tegas. Itu yang saya ingat hingga sekarang.”

Baca Juga: Gus Kikin Beberkan Kunci Kejayaan Bani Wahid: Ini Warisan Hadratussyaikh!

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Pesantren Tebuireng, Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT), eljesaja, dan Media Group Tebuireng. Acara ini juga ditayangkan secara langsung melalui kanal YouTube Tebuireng Official sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat luas.



Pewarta: Bakhit Jauharullaudza

Editor: Rara Zarary