
Tebuireng.online— KH. dr. Umar Wahid menjadi pusat perhatian dalam bedah buku “Teladan dari Rumah Ulama” yang digelar di Pesantren Tebuireng pada Sabtu (22/11). Dalam forum yang dihadiri ratusan peserta itu, putra Kiai Wahid Hasyim tersebut mengungkap kisah mendalam tentang keteladanan ayahnya serta perjuangan ibunya, Nyai Sholihah, yang jarang terungkap ke publik.
Dalam pemaparannya, KH. dr. Umar Wahid mengisahkan perjalanan hidup ayahnya, KH. Wahid Hasyim, serta perjuangan luar biasa ibunya, Nyai Sholihah, yang harus memikul tanggung jawab besar setelah sang suami wafat.
Gus Umar membuka cerita dengan menggambarkan sosok ibunya yang ditinggal wafat suaminya pada usia 31 tahun. “Ibu melihat musibah sebagai takdir dan tantangan dari Allah. Beliau menolak tawaran keluarga untuk mengasuh kami, dan tetap memilih tinggal di Jakarta demi mendidik anak-anaknya sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Tebuireng Gelar Bedah Buku Teladan dari Rumah Ulama
Perjuangan Nyai Sholihah tidak berhenti di situ. Untuk menghidupi keluarga, ia berdagang beras dari Karawang ke Jakarta sebelum kemudian aktif di Muslimat NU. Ketekunannya mengantarkan beliau dipercaya memegang amanah sebagai anggota legislatif, baik di DPRD DKI maupun DPR RI.
“Ibu itu tegas tapi lembut,” kenang Gus Umar. Ketegasan itu ia gunakan untuk menanamkan nilai-nilai penting kepada putra-putrinya: memahami agama, berjuang untuk kemaslahatan, bertanggung jawab atas perbuatan, serta aktif berorganisasi, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Meski dikenal tegas, Nyai Sholihah tetap menjadi sosok ibu penuh kasih sayang, terutama ketika mendampingi anak-anaknya saat sakit. Kepribadiannya yang kuat turut membentuk karakter putra-putrinya. Dalam paparannya, Gus Umar juga menggambarkan karakter saudara-saudaranya: Lily yang aktif berorganisasi dengan sikap tegas, serta Gus Iim yang dikenal berpengaruh meski bekerja “di balik layar”. Banyak tokoh merasa menjadi murid Gus Iim, sebuah bukti kuatnya pengaruh moral yang diwariskan dari sang ibu.
Di sisi lain, Gus Umar juga menguraikan pengaruh besar ayahnya, KH. Wahid Hasyim. Ia menjelaskan bagaimana ibunya mendidik anak-anak sebagai bentuk amanah dari sang suami. “Nyai Sholihah memandang Kiai Wahid bukan hanya sebagai suami, tetapi sebagai kiai. Beliau bersikap layaknya santri kepada kiainya. Kiai Wahid adalah pemimpin baginya,” tutur Gus Umar.
Baca Juga: Nyai Solichah Wahid: Tokoh di Balik Kesuksesan Gus Dur dan Gus Sholah (Bagian 4-Habis)
Ia kemudian mengisahkan capaian ayahnya di usia muda. Pada usia 31 tahun, KH. Wahid Hasyim menjadi salah satu dari sembilan tokoh perumus Pembukaan UUD 1945. Setahun berselang, ia diangkat sebagai menteri, dan pada usia 37 tahun memimpin Tanfidziyah PBNU. Reputasinya juga mengemuka ketika menggantikan KH. Hasyim Asy’ari sebagai Ketua MIAI, sebuah bukti kepercayaan besar terhadap kapasitas kepemimpinannya.
Gus Umar juga menyinggung pandangan progresif Nyai Sholihah dalam kesetaraan gender. Dalam pembagian warisan, ia mengusulkan agar seluruh harta dibagi rata kepada enam anak dan dirinya, tanpa membedakan jenis kelamin. Sikap ini menunjukkan pandangan maju yang jarang muncul pada masa itu.
Menutup sesi bedah buku, Gus Umar menegaskan dua warisan terbesar yang diberikan orang tuanya kepada anak-anak: nama baik “Wahid” dan pendidikan hingga perguruan tinggi. Dua warisan yang menurutnya menjadi modal moral sekaligus tanggung jawab untuk terus menjaga reputasi dan amanah keluarga ulama besar.
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary


















