Oleh: Qurratul Adawiyah*

Sering kita dengar tiada gading yang tak retak, pepatah yang masyhur terdengar di masyarakat, seperti halnya gading, tidak ada manusia yang tidak mengalami sakit semuanya in sya Allah pernah merasakan sakit. Akan tetapi di sini bukanlah sakit yang menjadi masalah besar bagi kita namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi hamba yang baik ketika sakit. Karena sakit itu merupakan hal yang pasti, sedangkan cara melakukan yang terbaik ketika sakit itu kembali kepada pilihan kita. Banyak keistimewaan yang didapatkan ketika seseorang sedang sakit salah satunya kita bisa mendapatkan banyak pahala, begitupun sebaliknya sakit bisa menyebabkan sumbernya banyak dosa, sebagaimana sabda Rasulullah:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ»

Dari Rasulullah SAW. bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak ridha, maka Allahpun tidak akan ridha kepadanya.” (HR. At-Turmudzi, 2396)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Allah SWT menjadikan sebab ujian bagi manusia atas dasar kecintaanya kepada hambaNya. Oleh karena itu, seorang hamba akan mendapatkan derajat yang lebih tinggi ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut. Sebaliknya ketika ia tidak bersabar ia akan mendapatkan balasan serupa dengan perbuatannya.

Terdapat dua sikap manusia ketika mendapatkan musibah, ada yang memahami musibah dengan baik sehingga ia ridha dengan segala ujian yang diberikan Allah dengan berkeyakinan bahwa ujian itu sebuah sumber pahala baginya sehingga sama sekali tidak merasa terzalimi dan dihina oleh Allah, maka saat itulah Allah akan memberikan keridhaannya dan pahala yang besar sebab rasa husnudzan-nya kepada Allah yang luar biasa.

Sebaliknya, ada orang yang menyikapi musibah dengan menganggap sebagai sebuah kezaliman, ketidakpahaman ataupun ketidakmengertian Allah terhadap orang itu serta menganggap ketidakadilan Allah kepadanya seperti halnya sakit. Sehingga ia marah dan tidak sabar terhadap ujian yang dialaminya selalu su’udzan terhadap ketentuan Allah yang menyebabkan Allah murka kepadanya.

Maka berbahagilah ketika diberikan ujian oleh Allah berupa sakit. Karena terdapat banyak kemuliaan dibalik sakit yang dialami yang mungkin sebagian orang sedikit menyadari akan hal itu di antaranya yaitu:

Menghapus dosa

Betapa senangnya ketika seseorang mendapatkan ujian sakit namun disisi lain ia mendapatkan jaminan ampunan dosa dari Allah. Dan setiap hamba pun pasti berharap yang sama akan penghapusan dosa-dosanya yang melalui rasa sakit itu. Sebagaimana sabda nabi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ، قَالَ: وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ عَلَى مَرِيضٍ يَعُودُهُ قَالَ: «لاَ بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» فَقَالَ لَهُ: «لاَ بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ» قَالَ: قُلْتُ: طَهُورٌ؟ كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، أَوْ تَثُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزِيرُهُ القُبُورَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَعَمْ إِذًا».

Rasulullah Saw pernah masuk menjenguk seorang A’raby (Arab Badui), beliau bersabda,” Tidak mengapa, (sakitmu ini sebagai) pembersih dosa insyaalah.” Aku (Ibnu Abbas) berkata,” Pembersih dosa? Sekali-sekali tidak, bahkan ini adalah demam yang ,mendidih atau bergejolak pada seorang yang sudah tua renta, yang akan mengantarkannya kepada kubur.” Nabi Saw bersabda, kalau demikian, benar (ia adalah penghapus dosa).” (H.R Bukhari, No: 3616)

Sakit Membawa Muhasabah

Dalam kondisi sakit seseorang biasanya akan lebih dekat kepada Allah dengan banyak harapan yang ia lontarkan lewat doa sehingga sakit menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri  dengan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan melakukan perbaikan untuk lebih baik ke depannya.

Berbuah Kebaikan dan Hikmah

Meskipun sangat jelas dan tampak tidak nyaman kondisi saat sakit, akan tetapi Allah menghendaki kebaikan-kebaikan lain yang Allah siapkan untuk orang tersebut sejauh mana ia bertahan bersabar dan melewati rasa sakit itu sebelum merasakan nikmat-nikmat yang Allah berikan setelahnya. Sebab, segala sesuatu yang terjadi pada manusia pasti semuanya tidak lepas dari hikmah yang akan dipetik setelahnya. Sebagaimana yang sering kita dengar sabda nabi bahwa barang siapa dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya,maka dia (diuji) dengan suatu musibah.

Maka tak jarang kita temui ketika orang yang sedang sakit merasa lebih bahagia dari orang sehat karena tak jarang orang-orang yang saat kita sakit perhatian lebih kita dapat dari orang disekitar kita. Selain itu banyak hal baik yang kita dapatkan saat sakit yaitu belajar makna kesabaran dan keikhlasan yang lebih.

Berbahagialah ketika sedang sakit, karena anugerah akan didapat, namun jangan pernah mengeluh dan berduka ketika Allah memberikan ujian melainkan terimalah semuanya dengan ikhlas dan sabar serta yakinlah bahwa apa yang terjadi merupakan kehendak Allah yang terbaik untuk hambanya.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaAnak Investasi Dunia Akhirat, Baca 12 Tips Mempersiapkannya
Berikutnya3 Hari Sebelum Wafat, Azyumardi Azra Refleksikan 100 Tahun NU