Oleh: Sayyidah Afifah*

Kita selalu tertarik melakukan investasi harta agar selalu berkembang dan menghasilkan. Tetapi jangan sampai lupa kita mengusahakan investasi akhirat, seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “[1]

Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Ketika seseorang meninggal dunia, amalannya terputus, kecuali dengan tiga hal, yaitu: “sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya” .

Hadis ini menjelaskan bahwasanya tiga hal tersebut, akan menjadi investasi akhirat yang menyebabkan kebaikan (pahala) akan terus menerus didapatkan seseorang meski ia telah meninggalkan dunia ini. Apabila ia telah melaksanakan sedekah jariyah –seperti berupa menyumbangkan uang untuk pembangunan masjid, memfasilitasi pendidikan– yang ia lakukan Ketika masa hidupnya, memiliki warisan ilmu yang bermanfaat –baik melalui pengajaran, atau karya tulis-, serta memiliki anak soleh yang mendoakannya[2].

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Nah, pembahasan anak saleh ini penting, sebab selain investasi akhirat berupa pahala yang terus mengalir, pun orang tua akan dimintai pertanggung jawaban atas anaknya, sebelum pertanggung jawaban atas orang tuanya. Ibnul Qayyim menjelaskan barangsiapa yang menyia-nyiakan dan tidak mendidik anak-anaknya, berarti telah melakukan hal yang buruk.[3]

Saleh yang dimaksud di sini, baik soleh ritual – yakni dengan mendidik anak menjadi insan yang beriman dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah -, maupun soleh sosial – yakni dengan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya-, dimana keduanya merupakan tugas manusia sebagai khalifah fi al-ardh. Hal ini penting dilakukan sebab, tentunya lebih sulit dari sekedar hanya menyisihkan uang.

Ikhtiar agar anak menjadi soleh, dimulai dari perilaku sehari-hari kita sebagai orang tuanya.  Sebagai contoh, ketika seseorang istikamah membaca Al-Quran, maka sifat baik tersebut akan menempel pada DNA (Deoxyribo Neucleik Acid) yaitu materi genetic. Sebuah molekul yang akan menjadi cetak biru kehidupan, di mana ketika ia nanti memiliki keturunan, karakteristik baik tersebut akan menurun kepada keturunannya.[4]

Kemudian, tak hanya dari masa muda orang tua, ikhtiar juga dilakukan dalam proses pernikahan orang tua, baru berlanjut pada diri dan kehidupan si anak di masa kecilnya. Sebelum ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, bersama guru dan teman-temannya.

Poin-poin tersebut dirangkum dalam 12 tips berikut:[5]

  1. Niat yang ikhlas dalam pernikahan. Yaitu untuk mengikuti sunnah Rasul, ibadah, ingin mempunyai anak saleh yang bisa menyebarkan agama Islam.
  2. Setelah akad nikah, sang suami memegang ubun ubun istrinya dan berdoa:

باَرَكَ اللهُ لِكُلٍّ مِنَّا فِيْ صَاحِبِهِ.اَللّهُمَّ إنِيِ ْأَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ مِنْ شَرِّ هَا وَشَرِّ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ.

  1. Pada waktu “berhubungan” keduanya selalu berdoa, dengan doa yang diajarkan oleh Nabi

بِسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَيْطَانَ، وَ جَنِّبِ الشَيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.

  1. Pada waktu mengandung selalu banyak membaca Al-Quran dan berzikir kepada Allah. Jika mampu setiap bulan mengkhatamkan satu Quran. Begitupun bagi ayahnya, ia juga perlu berdoa dan banyak membaca Al-Quran. Sebab getaran suara lantunan ayat Al-Quran akan sampai ke janin yang ada dalam rahim ibu.
  2. Ketika anak itu lahir,diazani pada telinga kanannya, agar ucapan yang pertama kali masuk adalah kalimat Tauhid, dengan harapan ia akan tumbuh dalam ketauhidan
  3. Selalu membaca surah al-Mu’awwidzatain 3 kali pagi dan sore dan diembuskan ke ubun-ubun anak agar anak terhindar dari gangguan setan.
  4. Melakukan akikah (menyembelih kambing. Jika lelaki 2 kambing. Jika perempuan 1 kambing) agar diri anak tidak tergadaikan.
  5. Memberi nama yang baik. Karena nama yang baik adalah bentuk doa dari orang tua.
  6. Sunat bagi lelaki
  7. Mengajarkan akidah Islam dasar : dari senandung (puji-pujian) tentang sifat wajib bagi Allah dan Rasul-Nya, semisal senandung (puji-pujian) : wujud qidam baqa’, dst.. dll.
  8. Diajari tata cara beribadah dengan baik, seperti shalat, apalagi setelah 7 tahun. Termasuk cara berwudhu, menutup aurat, membaca al-Fatihah serta syarat dan rukun salat lainnya.
  9. Mengajarkan etika dan tata krama Islam seperti berbuat baik ke pada kedua orang tua, fakir miskin, menghormati yang lebih tua, uluk salam kepada orang lain, menghormati tetangga, mendahulukan orang lain, tutur kata yang santun, suka memberi, tidak sombong, tawadhu (rendah hati), menolong orang lain, silaturahim, tidak berbohong, jujur, sabar, suka beribadah.

Singkatnya, keberadaan anak saleh sebagai salah satu nikmat terbesar, sekaligus investasi akhirat yang paling menguntungkan dalam kehidupan seseorang. Hal ini dilakukan dengan cara membentuk dan mendukung anak-anak, agar menjadi pribadi yang soleh. Perlu dilakukan ikhtiar sedini mungkin dengan segala kebaikan yang dapat dilakukan. Sebelum kemudian anak-anak menginjak dunia pendidikan yang lebih tinggi.


[1] HR. Muslim

[2] Imam Nawawi, Al-Minhaj

[3] Neneng Maghfiroh, Parenting dalam Islam

[4] Dr. Akhsin Sakho, Perempuan dan Al-Quran

[5] Ibid


*Alumnus PPP Khoiriyah Hasyim

SebelumnyaPercakapan Hangat Tentang Kita
Berikutnya3 Kebaikan di Balik Musibah Sakit