
Tebuireng.online— Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi Jawa Timur, Dr. Muhajir Sulthonul Aziz, S.Kom., M.I.Kom., membuka forum pelatihan dengan bertanya kepada peserta workshop terkait pengertian AI.
Dosen Darul Lughoh wa Da’wah Pasuruan itu menjelaskan, AI adalah sistem yang dirancang untuk meniru kemampuan manusia, seperti mengenali pola, belajar dari pengalaman, dan membuat keputusan, sehingga meskipun teknik ini tidak hidup atau berpikir layaknya manusia, AI mampu memproses data dalam jumlah besar untuk menyelesaikan berbagai tugas.
Baca Juga: Peran Tebuireng Menghadapi Kecerdasan Buatan
“AI adalah Program yang dikoding selayaknya manusia,” jelasnya membuka sesi workshop Hertech: Berdaya AI oleh ICT Watch (23/04) di Aula SMP Sains Tebuireng.
Berkaitan dengan definisi tersebut, ia melanjutkan bahwa AI untuk generatif konten berasal dari kata generate yang berarti membuat, sehingga penggunaannya kini semakin luas dalam berbagai bidang. Dari kondisi tersebut, ia menilai bahwa AI saat ini telah menguasai dunia, yang terlihat dari keseharian manusia.
“Di era sekarang di genggaman kita tidak bisa terlepas dari AI,” katanya.
Sebagai bukti nyata, ia kemudian bertanya mengenai aplikasi apa saja yang peserta ketahui telah menggunakan AI. Dari berbagai jawaban yang muncul, terlihat bahwa masih banyak yang belum menyadari bahwa Google Maps juga menggunakan AI.
Setelah membahas pemanfaatan AI dalam kehidupan sehari-hari, pembahasan kemudian bergeser ke aspek regulasi, yakni terkait PP Tunas atau Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, sebagai bentuk penyeimbang antara kemajuan teknologi dan perlindungan pengguna.
Dalam konteks tersebut, ia menekankan pentingnya kesiapan anak dalam menghadapi teknologi digital. “Tunggu anak siap, karena era sekarang sangat masif anak-anak kecil menggunakan aplikasi aplikasi dewasa, dewasa iku nopo? sosial media, game yang agak aneh-aneh, youtube dan sebagainya,” terangnya.

Menindaklanjuti penekanan tersebut, ia menjelaskan bahwa dalam PP Tunas, anak berusia di bawah 13 tahun dibatasi dalam penggunaan gawai, dengan jargon “Tunggu Anak Siap”.
Ia juga menjelaskan pembatasan ini bukan dimaksudkan untuk menghambat kreativitas atau pemahaman IT peserta didik, melainkan untuk menyiapkan anak agar lebih matang dalam menghadapi dunia maya.
Baca Juga: Menjaga Jati Diri Pesantren dalam Pusaran Algoritma
Hal ini kemudian ia pertegas kembali melalui pernyataan, “Bukan kita membatasi anak-anak untuk kreatif dan paham IT, tetapi kita menyiapkan agar dia lebih matang berselancar di dunia maya yang tiada batas,” tegasnya.
Setelah membahas regulasi, ia melanjutkan pada aspek teknis penggunaan AI yang tepat, dengan menjelaskan bahwa penggunaan AI sebaiknya diawali dengan memberikan preposisi, kemudian instruksi yang jelas, dan dilanjutkan dengan proses review agar hasil yang diperoleh lebih relevan.
“Tanyakan dulu terkait pemahaman ai tentang apa yang kita maksud, jika kurang sesuai dengan keinginan kita, kita harus memberikan contohnya,” jelasnya dihadapan ratusan peserta.
Selanjutnya, ia menekankan bahwa proses tidak berhenti pada hasil yang diberikan AI, diperlukan validasi untuk memastikan kebenaran informasi yang dihasilkan AI yang kita inginkan.
“Apapun hasil ai harus divalidasi, nggak perlu oleh ahli, yang terpenting divalidasi oleh yang tahu dan bisa,” pesannya.
Sejalan dengan pentingnya validasi tersebut, ia juga mengingatkan agar pengguna tidak mempercayai AI sepenuhnya, karena AI tetap memiliki potensi melakukan kesalahan.
Baca Juga: Menjembatani Tradisi dan Modernitas Pesantren
“Jangan 100 persen percaya dengan AI karna kalo percaya bisa mbleset. Gunakan AI dengan headline atau outline”.
Kemudian dalam konteks pendidikan, pembahasan mengarah pada peran guru, yang menurutnya tidak semestinya melarang peserta didik menggunakan AI, melainkan guru perlu mendampingi agar penggunaannya tepat dan memberikan manfaat.
“Jangan menjadi guru yang melarang anak memakai AI, tapi perbolehkan anak memakai ai dengan didampingi, agar kemampuan dan prestasi anak semakin meningkat,” pesannya.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa penggunaan AI tidak serta-merta melemahkan kemampuan berpikir seseorang, melainkan tetap dapat mendukung perkembangan critical thinking jika disertai dengan kemampuan memahami dan menjelaskan hasil AI tersebut..
“AI jika dipakai secara bebas, maka dapat mengganggu kritical thinking oleh karena itu anak harus ditanya, diminta menjelaskan, karena 1 hal yang tidak dimiliki AI adalah menjelaskan,” katanya.
Pewarta: Ilvi Mariana
Editor: Rara Zarary


















