Menjaga Jati Diri Pesantren dalam Pusaran Algoritma

66
Sebuah ilustrasi santri saat menggunakan media digital (sumber: ai/ra)

Penguatan komunikasi publik pesantren di era digital tidak bisa dilepaskan dari sistem nilai khas yang selama ini menjadi fondasi kehidupan pesantren. Tanpa pijakan nilai tersebut, kehadiran pesantren di ruang digital berisiko kehilangan jati diri dan sekadar mengikuti arus informasi yang serba cepat, viral, dan sering kali dangkal. Gagasan ini mengemuka dalam pemaparan Dr. H. M. Wafiyul Ahdi, S.H., M.Pd.I berjudul “Syiar Value System Pesantren di Dunia Digital” pada kegiatan Halaqah Santri Digital Jawa Timur 2025, yang diselenggarakan pada 12–13 Desember 2025 di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya.

Pesantren, sebagaimana dijelaskan Dr. Wafiyul Ahdi, bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, melainkan sebuah komunitas sosial dengan budaya khas. Dalam perspektif sosiologis, pesantren dapat dipahami sebagai sebuah subkultur; sebuah komunitas yang memiliki cara hidup, pandangan hidup, tata nilai, serta struktur kekuasaan internal yang berbeda dari masyarakat arus utama. Keunikan inilah yang selama berabad-abad menjadikan pesantren mampu bertahan, beradaptasi, sekaligus memberi warna tersendiri bagi kehidupan keislaman dan kebangsaan di Indonesia.

Baca Juga: Halaqah Santri Digital 2025 Dorong Penguatan Komunikasi Publik Pesantren di Era Digital

Pemahaman pesantren sebagai subkultur ini sejalan dengan pandangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menyebutkan bahwa terdapat tiga elemen utama pembentuk subkultur pesantren: pola kepemimpinan yang mandiri dan tidak terkooptasi negara, literatur kitab-kitab kuning sebagai referensi keilmuan utama, serta sistem nilai yang dipilih dan dipraktikkan secara konsisten. Ketiga elemen ini membentuk ekosistem pesantren yang unik, sekaligus menjadi pembeda utama antara pesantren dan institusi pendidikan lainnya.

Dalam konteks kepemimpinan, posisi kiai menempati peran sentral. Relasi kiai dan santri tidak semata hubungan struktural, melainkan relasi batin yang dibangun atas dasar kepercayaan, ketaatan, dan keyakinan terhadap keberkahan ilmu. Kiai bukan hanya figur administratif, tetapi juga pemegang otoritas moral dan spiritual yang dipandang sebagai pewaris para nabi. Dari sinilah nilai-nilai pesantren ditransmisikan, tidak hanya melalui pengajaran formal, tetapi juga melalui keteladanan hidup sehari-hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kitab-kitab klasik atau kitab kuning menjadi pilar lain yang tidak kalah penting. Tradisi intelektual pesantren yang berbasis pada kajian kitab kuning telah melahirkan kesinambungan keilmuan lintas generasi. Merawat tradisi ini bukan berarti menolak modernitas, melainkan menjaga standar keilmuan agama agar tetap memiliki kedalaman, sanad keilmuan, dan akar historis yang kuat. Dalam konteks inilah pesantren sesungguhnya memiliki modal besar untuk tampil di ruang digital dengan narasi yang otoritatif dan berimbang.

Tantangan terbesar lainnya pesantren di era digital adalah fenomena post-truth, ketika kebenaran objektif sering kali kalah oleh emosi, keyakinan pribadi, dan kepentingan algoritma. Informasi keliru menyebar dengan cepat, kepercayaan terhadap institusi resmi menurun, dan masyarakat terpolarisasi oleh narasi yang saling berhadapan. Di tengah situasi ini, pesantren tidak bisa hanya menjadi penonton, apalagi memilih menjauh dari ruang digital.

Sebaliknya, media pesantren justru memiliki peluang strategis untuk hadir sebagai penyeimbang informasi. Dengan berbekal sistem nilai pesantren, media santri dapat berperan dalam membangun kontra-narasi, meluruskan informasi yang keliru, sekaligus mendakwahkan nilai-nilai Islam yang moderat, beradab, dan berakar pada tradisi. Kehadiran pesantren di ruang digital bukan semata soal eksistensi, tetapi bagian dari tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas ruang publik.

Baca Juga: 8 Tips Membuat Konten Digital bagi Santri

Lebih jauh, era algoritma dan kecerdasan buatan (AI) menuntut kesadaran baru. Konten yang diproduksi hari ini akan menjadi rujukan data di masa depan, termasuk bagi sistem kecerdasan buatan. Artinya, narasi pesantren yang hadir di ruang digital hari ini berpotensi membentuk cara pandang generasi mendatang tentang Islam, pesantren, dan santri. Kesalahan framing dan kehilangan nilai akan berdampak jauh melampaui konteks kekinian.

Praktik baik banyak dicontohkan oleh pesantren-pesantren kini, seperti Pesantren Tebuireng yang sudah memanfaatkan konvergensi media dalam menyiarkan dakwah pesantren, begitu pula dengan Tambakberas TV, media santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, menjadi contoh konkret bagaimana pesantren dapat beradaptasi secara kreatif tanpa tercerabut dari nilai. Dengan pengelolaan yang profesional, pembagian tugas yang jelas, serta konsistensi produksi konten, media santri mampu tumbuh dari keterbatasan menjadi kanal dakwah dan informasi yang kredibel, bahkan berprestasi di tingkat nasional.

Pada titik inilah, syiar pesantren di dunia digital menemukan relevansinya. Branding, komunikasi publik, dan produksi konten pesantren harus menjadikan sistem nilai pesantren sebagai framework utama. Bukan sekadar mengejar viralitas, tetapi membangun makna. Bukan hanya hadir di ruang digital, tetapi memberi arah. Dengan cara inilah pesantren dapat tetap relevan di era digital, tanpa kehilangan akar tradisi, otoritas keilmuan, dan kedalaman nilai yang menjadi ruh keberadaannya.



Penulis: Munawara, M.I.Kom

Editor: Rara Zarary