Catatan Kecil Puisi

44
Ilustrasi persaudaraan (sumber: istimewa)

Menjadi Anak Pertama

Begini ya,
menjadi yang pertama
belajar berjalan tanpa contoh,
jatuh tanpa yang lebih dulu bangkit.

Semua mata menatap,
seolah aku harus tahu segalanya,
padahal aku pun sedang meraba
arah yang belum pernah ada.

Aku diminta kuat
bahkan sebelum mengerti arti rapuh,
diminta mengalah
sebelum sempat memiliki.

Katanya, ini tentang tanggung jawab,
tentang menjadi teladan,
tentang menjadi sandaran.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tapi tak ada yang bertanya,
bagaimana rasanya
menjadi anak pertama
yang diam-diam juga ingin dipeluk.


Ingin Punya Kakak

Kadang aku iri
pada mereka yang memanggil seseorang
dengan kata “kak.”

Yang bisa bersandar
tanpa harus terlihat kuat,
yang bisa mengeluh
tanpa takut mengecewakan.

Aku
yang selalu dipanggil lebih dulu,
yang harus tahu duluan,
yang harus mengerti lebih cepat.

Siapa yang kupanggil
saat aku lelah menjadi yang di depan?

Aku ingin sekali saja
menjadi yang di belakang,
mengikuti langkah,
bukan menentukan arah.

Ah, andai aku punya kakak
mungkin aku bisa belajar
bahwa tidak apa-apa
untuk tidak selalu kuat.


Keikhlasan Kakak untuk Adik

Aku belajar mengalah
bukan karena kalah,
tapi karena cintaku
lebih besar dari keinginanku.

Aku menahan ingin,
mengganti milikku dengan milikmu,
dan tersenyum
meski ada yang diam-diam hilang.

Bukan aku tak ingin bahagia,
aku hanya memilih
melihatmu tertawa lebih dulu.

Jika suatu hari kau bertanya
mengapa aku selalu memberi,
aku tak akan menjawab panjang.

Cukup kau tahu
bahwa menjadi kakak
adalah tentang ikhlas
bahkan ketika tak ada yang melihat.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary