Wanita Harus Menunggu Shalat Jumat Selesai untuk Shalat Zuhur? Ini Penjelasan Fikihnya

193
ilustrasi muslimah shalat berjamaah di masjid
ilustrasi muslimah shalat berjamaah di masjid

Beredar di media social sebuah jokes, ‘Mengapa seorang wanita tida diwajibkan melaksanakan shalat jumat? Karena wanita tidak bisa diceramahi’. Kalau kamu wanita, jangan tersinggung dulu. Ungkapan tersebut tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah.

Mengenai ketidakwajiban seorang perempuan melaksanakan shalat jumat, seratus persen benar adanya. Rasulullah SAW bersabda;

«الجُمعة حقٌّ واجبٌ على كلٍّ مسلم في جماعة إلا أربعةً: عبد مملوك، أو امرأة، أو صبيّ، أو مريض»

Artinya: shalat jum’at hukumnya wajin bagi setiap muslim secara berjamaah. Kecuali; budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit

Sedangkan mengenai ‘illat (alasan) ketidakwajiban tersebut, alasan terkuatnya adalah karena adanya hadist Nabi Muhammad SAW di atas. Sedangkan di luar dari pada hadis di atas statusnya hanya sebatas hikmah. Beberapa ulama menjelaskan adanya hikmah ketidakwajiban melaksanakan shalat jumat bagi wanita, diantaranya Imam Ala’ ad-Din al-Kasani al-Hanafi dalam kitab Bada’ius as-Shonai’ fii Tartib as-Syarai’. Beliau menjelaskan,

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَلِأَنَّهَا مَشْغُولَةٌ بِخِدْمَةِ الزَّوْجِ مَمْنُوعَةٌ عَنْ الْخُرُوجِ إلَى مَحَافِلِ الرِّجَالِ لِكَوْنِ الْخُرُوجِ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ؛ وَلِهَذَا لَا جَمَاعَةَ عَلَيْهِنَّ وَلَا جُمُعَةَ عَلَيْهِنَّ أَيْضًا

‘’Adapun wanita, karena dia disibukkan dengan khidmah pada suaminya, ia tercegah untuk keluar ke tempat-tempat perkumpulan laki-laki. Karena keluarnya seorang wanita berpotensi menyebabkan fitnah. Oleh karenanya tidak ada kemajiban shalat jamaah baginya, demikian pula shalat jum’at’’

Kendati demikian, andaikan ada seorang perempuan melaksanakan shalat jumat, maka hukumnya sah, dan tidak perlu melaksanakan shalat zuhur. Hanya saja, keberadaannya tidak mengesahkan jumlah 40 orang (yang bisa mengesahkan shalat jumat). Syaikh Abu Bakar Syatho’ dalam kitab Ianah at-Thalibin berkata;

وخامسها: من لا تجب عليه، ولا تنعقد به وتصح منه، وهو الصبي المميز، والرقيق، وغير الذكر من نساء
وخناثى، والمسافر

‘’Pembagian kelima adalah orang yang tidak wajib melaksanakan shalat jumat dan tidak mengesahkannya. Akan tetapi jika ia melakukan shalat jumat maka sah. Mereka adalah: anak kecil yang sudah tamyiz, budak, perempuan dan khuntsa, serta musafir.’’

Meskipun yang lebih utama bagi wanita tersebut adalah shalat zuhur di rumahnya, apalagi dia masih muda, cantik, dan masih dianggap menarik. Dalam kitab Minhaj al-Qowim disebutkan;

و» يسن «خروج العجوز» لصلوات العيد والجماعات «ببذلة» أي في ثياب مهنتها وشغلها «بلا طيب» ويتنظفن بالماء، ويكره بالطيب والزينة كما يكره الحضور لذوات الهيئات ولو عجائز وللشابات وإن كن مبتذلات بل يصلين في بيوتهن

 ‘’disunnahkan keluarnya wanita yang sudah tua untuk melaksanakan shalat id dan jama’ah dengan menggunakan pakaian sehari-harinya tanpa menggunakan wangi-wangi. Dan membersihkan diri mereka dengan air. Dan dimakruhkan memakai wangi-wangian dan berhias. Seperti halnya dimakruhkan hadir bagi wanita yang masih menarik meskipun sudah tua, serta bagi wanita muda mesipun mereka memakai pakaian sehari-hari. Akan tetapi mereka shalat di rumahnya.’’

Lalu bagi mereka yang tidak berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at, tentu saja tetap berkewajiban melaksanakan shalat zuhur. Yang menjadi pertanyaan, kapan mereka diperbolehkan melaksanakan shalat zuhur tersebut? Mengingat ada semacam kesalahpahaman di masyarakat bahwa bagi orang yang tidak melaksanakan shalat jumat maka diharuskan melaksanakan shalat zuhur setelah selesainya jamaah shalat Jum’at, yakni setelah imam selesai salam pertama.

Ini adalah kekeliruan yang seolah-olah mendarang daging, saya katakan demikian karena tidak ada satupun ibarot yang mengatakan hal seperti itu. Asumsi saya, ini kesalahpahaman memahami sebuah ibarot dalam kitab Fathur ar-Rahman bi Syarhi Zuban Ibn Ruslan;

ويسن لمن أمكن زوال عذره تأخير ظهره إلى اليأس من الجمعة؛ وذلك برفع الإمام رأسه من الركوع الثاني، ولغيره كزمن وامرأة تعجيلها في الأصح، وتسن الجماعة في ظهرهم في الأصح، وإخفاؤها إن خفي عذرهم
ولو زال العذر بعد فراغه من الظهر وأمكنته الجمعة ..لم تلزمه إلا الخنثى، وغير المعذور إذا صلى الظهر قبل فوات الجمعة .. لم تصح، وفواتها بسلام الإمام منها.

‘’ Dan disunnahkan bagi orang yang dimumkinkan hilang uzurnya untuk mengakhiran shalat zuhur sampai ia putus asa dari melakukan shalat jum’at,  yakni sampai bangunnya imam dari rukuk pada  roaat kedua. Dan disunnahkan bagi selain orang yang dimuminkan hilang uzurnya seperti orang yang sakit dan perempuan untuk mempercepat shalat zuhurnya menurut qoul ashoh. Serta disunnahkan melaksanakan shalat zuhur secara berjamaah menurut qoul ashoh.  dan tdk memperlihatkan jamaahk etika uzurnya itu hilang.

Jika uzurnya hilang setelah mereka melakukan shalat zuhur dan mereka masih bisa melaksanakan shalat jumat maka tidak wajib melakukan shalat jumat jumat kecuali khuntsa. Sedangkan orang yang tidak memiliki uzur jumat jika melakukan shalat zuhur sebalum shalat jumat selesai maka shalatnya tidak sah. Selesainya shalat jumat tersebut terhitung sejak salamnya imam dr shalat jumat tersebut’’

Jadi, menurut ibarot ini, seseorang yang wajib melakukan shalat zuhur setelah selesainya pelaksanaan shalat jumat ialah seseorang yang tidak melakukan shalat jumat tanpa adanya uzur. Sedangkan wanita, tetap dianjurkan melakukan shalat zuhur di awal waktu serta berjamaah. Wallahu a’lam.

Baca Juga: Begini Hukum Wanita Mengikuti Shalat Jumat


Referensi:       

Sunan Abi Dawud

Bada’ius as-Shonai’ fii Tartib as-Syarai’

Ianah at-Thalibin

Fathur ar-Rahman bi Syarhi Zuban Ibn Ruslan

Minhaj al-Qowim


Penulis: Umu Salamah, pengajar di Pesantren Raudhatul Ulum Pati

Editor: Sutan