
Di antara sunyi Subuh yang selalu lebih dulu disapa Aisyah, dan riuh angin laut di Madura yang menemani Farhan, ada sebuah kisah yang tumbuh tanpa pernah benar-benar dimulai tapi terasa seperti kehilangan yang nyata saat harus diakhiri.
Aisyah adalah perempuan yang terlalu akrab dengan doa. Setiap harinya disusun rapi oleh waktu-waktu ibadah. Tahajudnya panjang, dzikirnya pelan tapi dalam, dan harapannya, selalu ia titipkan diam-diam pada Allah, bukan pada manusia belaka.
Sedangkan Farhan, ia bukan lelaki buruk. Ia hanya belum selesai dengan dirinya sendiri. Ia masih mencari arah, masih belajar tentang hidup, dan lebih dari itu. Ia belum pernah benar-benar jatuh cinta.
Mereka bertemu dalam cara yang sederhana. Perkenalan ringan yang tidak sengaja menjadi kebiasaaan dan menimbulkan kenyamanan. Dari sekadar “sudah makan?” menjadi “jangan lupa jaga diri”, lalu perlahan berubah menjadi tempat pulang dalam bentuk kata.
Aisyah tidak pernah meminta ikatan hubungan. Ia hanya menjaga niat, memastikan semuanya tetap dalam batas yang ia yakini. Tapi justru karena itu, Farhan merasa tenang di dekatnya. Terlalu tenang…. Sampai ia lupa, bahwa ketenangan tidak selalu berarti cinta.
Malam-malam mereka selalu diisi dengan obrolan panjang. Tentang hidup, tentang mimpi bahkan tentang masa depan yang seharunya belum mereka sentuh.
“Kalau nanti kamu nikah, kamu pengen punya rumah kayak gimana?” Tanya Farhan suatu malam.
Aisyah hanya tersenyum kecil, meski Farhan tidak bisa melihatnya di seberang sana.
“Sederhana aja. Yang penting berkah dan bahagia.”
“Kalau sama aku?” Farhan melontarkan itu setengah bercanda.
Aisyah diam cukup lama.
“Kalau sama kamu… semoga Allah ridha yaa,” jawabnya pelan.
Jawaban itu memang sederhana, tapi ada makna yang sangat dalam di sisinya. Dan sejak saat itu, Aisyah mulai melibatkan Farhan dalam doa-doanya. Setiap harinya, ia mengadukan nama laki-laki itu pada sang penciptanya.
Namun, semakin waktu berjalan, Farhan mulai merasa sesuatu yang mengganggu. Bukan karena Aisyah kurang baik. Justru malah sebaliknya.
Aisyah terlalu baik. Terlalu menjaga. Terlalu dekat dengan sang pencipta. Dan Farhan merasa dirinya terlalu jauh untuk berdiri di samping perempuan seperti itu.
Setiap kali Aisyah bercerita tentang tahajudnya, Farhan hanya bisa diam. Setiap kali Aisyah mengingatkan shalat, Farhan merasa kecil.
Setiap kali Aisyah berbicara tentang masa depan yang penuh keberkahan, Farhan justru diliputi rasa takut yang menggebu. Bukan takut menjalani tapi takut tidak mampu menjadi cukup.
Dan yang paling jujur dari semuanya, ia sadar, hatinya tidak tumbuh seperti yang seharunya ada. Ia nyaman. Ia peduli dan takut kehilangan. Tapi ia belum bisa jatuh cinta.
Perasaa itu datang perlahan, seperti kesadaran yang tidak bisa lagi dihindari. Sampai suatu malam, Farhan memilih untuk jujur meski ia tahu, kejujuran itu akan menghadirkan luka dan tangis kecewa dari sosok yang ia suka.
“Aisyah kita harus berhenti.”
Di seberang sana, Aisyah terdiam. Jantungnya berdegup lebih kerasa dari biasanya.
“Loh kenapa?” tanyanya singkat, tapi suaranya sudah bergetar.
Farhan menatap layar ponselnya lama. Kata-kata terasa berat diucapkan, seolah apa pun yang ia pilih akan tetap menyakitkan dari berbagai sisinya.
“Kamu terlalu baik Aisyah, dan aku gak bisa jadi laki-laki yang pantas untuk kamu.”
Air mata Aisyah jatuh tanpa aba-aba. “Itu bukan alasan mas Farhan,” bisiknya.
“Jujur aku belum cinta, Aisyah,” lanjut Farhan, akhirnya jujur sepenuhnya.
“Aku memang nyaman dan suka sama kamu. Aku tenang. Tapi aku gak pernah sampai di titik aku benar-benar jatuh cinta.”
Ada yang runtuh dalam diri Aisyah. Ia merasakan hatinya pecah tanpa suara, tanpa peringatan.
Selama ini, ia menjaga. Ia menahan. Ia berusaha agar semuanya tetap dalam Ridha Allah. Tapi ternyata, semua itu tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi yang tertinggal.
“Terus… selama ini aku apa bagi kamu?” tanyanya lirih dengan air mata yang mengalir deras.
“Kamu rumah yang baik, tapi bukan tempat aku pulang selamanya.”
Kalimat itu memang sederhana, tapi cukup untuk menghancurkan seluruh harapan yang pernah Aisyah rajut dalam ribuan doa dan harapnya tiap detiknya.
Malam itu, Aisyah kembali pada satu-satunya tempat yang tidak pernah menolak dan meninggalkannya, sujudnya.
Ia menangis lama. Sangat lama.
“Ya Allah, aku sudah menjaga semuanya. Aku tidak melanggar batas-batasmu. Dan aku tidak meminta yang berlebihan. Tapi kenapa aku tetap sakit?”
Air matanya jatuh ke sajadah, membasahi doa-doa yang dulu ia panjatan dengan penuh harap. Perlahan, di antara tangisnya, Aisyah mulai mengerti. Bahwa tidak semua yang kita jaga sepenuhnya akan menjadi milik kita.
Bahwa tidak semua yang terasa baik akan berakhir indah. Bahwa cinta tidak bisa dipaksa tumbuh, bahkan dengan doa yang banyak sekalipun.
Hari-hari setelah itu terasa sangat kosong. Tidak ada lagi Farhan dalam rutinitasnya. Tidak ada lagi nama yang ia tunggu notifnya muncul di layar ponselnya. Yang tersisa hanya kenangan dan luka yang harus ia peluk sendiri.
Namun, Aisyah tidak membenci. Ia hanya belajar merelakan. Di tepi senja yang samar, ia berbisik pelan pada hatinya sendiri,
“Kalau aku terlalu baik untuknya. Semoga suatu hari, Allah pertemukan aku dengan seseorang yang selalu merasa cukup, bukan merasa terlalu berlebihan.”
Di antara jarak panjang antara Sumatra dan Madura, kisah itu akhirnya benar-benar selesai. Bukan karena salah satu menyerah, tapi karena satu hati tidak penah benar-benar jatuh cinta. Dan Aisyah akhirnya memahami, terkadang, yang pergi bukan karena kita kurang.
Tapi karena terlalu tulus untuk seseorang yang belum siap mencintai kita secara dalam. Di depan balkon kamarnya, dengan buku hitam dan pena pemberian dari Farhan ia pun mulai merangkai kata.
“Ternyata benar, yang bukan untukmu adalah yang paling membuatmu jatuh cinta. Dan selalu ada sesorang yang harus direlakan di setiap perjalanan hidup kita, meskipun kita sangat ingin seseorang itu menemani kita sampai akhir perjalanan hidup kita.”
Dan air mata pun kembali menetes. Di akhir barisan buku itu Aisyah kembali menulis, “ketidakmungkinan kita masih menjadi diskusi favoritku dengan Tuhan. Entah bagaimana pada akhirnya, semoga kita senantiasa diberi kelapangan hati untk dapat menerima sagala takdir yang tidak sesuai dengan ekspektasi.”
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary


















