
Jika ada seorang wanita mengeluarkan darah selama 5 hari lalu kemudian darahnya berhenti selama 5 hari, kemudian keluar lagi darah selama 10 hari, maka bisa dipastikan wanita ini mengalami istihadhah, bercampur antara haid dan sucinya. Karena kita tahu, dalam mazhab Syafii, maksimal suci harus mencapai 15 hari, sedangkan dalam kasus tersebut suci baru tujuh hari. Lantas bagaimana cara menentukan haid dan istihadhah-nya?
Jika jawaban kalian, haidnya 15 hari dan sisanya istihadhah, maka tebakan kalian salah. Cara menghitung istihadhah semacam itu tidak dibenarkan. Tidak semata-mata bahwa maksimal haid adalah 15 hari, lalu bisa dihukumi demikian. Dalam kaedah penentuan haid pada kasus istihadhah tidak ada yang dikembalikan pada maksimal haid. Lantas?
Pertama, kita hitung terlebih dahulu darah awal dan sucinya. Jika melebihi 15 hari, maka hal ini disebut sebagai istihadhah mukammil tuhri (menyempurnakan suci). Namun jika ditotal darah awal dan sucinya kurang dari 15 hari, maka dia masuk dalam kategori tujuh mustahadhah.
Jika ia bisa membedakan warna darah, maka haidnya dikembalikan pada hari di mana darahnya kuat. Sedangkan jika dia tidak bisa membedakan warna darah, maka adakalanya dia baru pertama kali haid dan istihadhah, adalakalanya dia sudah pernah haid. Jika ia baru pertama kali haid dan istihadhah maka hukum haidnya dikembalikan pada satu hari satu malam, menurut qoul ashoh. Dan jika ia sudah penah haid, maka hukum haidnya dikembalikan pada kebiasaan haid dan sucinya. Mudahnya begitu.
فَإِنْ كَانَتْ مُبْتَدَأَةً غَيْرَ مُمَيِّزَةٍ وَهِيَ الَّتِي بَدَأَ بِهَا الدَّمُ وَعَبَرَ الْخَمْسَةَ عَشَرَ وَالدَّمُ عَلَى صِفَةٍ وَاحِدَةٍ فَفِيهَا قَوْلَانِ أَحَدُهُمَا تَحِيضُ أَقَلَّ الْحَيْضِ لِأَنَّهُ يَقِينٌ وَمَا زَادَ مَشْكُوكٌ فِيهِ فَلَا يُحْكَمُ بِكَوْنِهِ حَيْضًا وَالثَّانِي تُرَدُّ إلَى غَالِبِ عَادَةِ النِّسَاءِ وَهُوَ سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ وَهُوَ الْأَصَحُّ لِقَوْلِهِ ﷺ لِحَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ: تَحَيَّضِي فِي عِلْمِ اللَّهِ سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍ كَمَا تَحِيضُ النِّسَاءُ وَيَطْهُرْنَ مِيقَاتَ حَيْضِهِنَّ وَطُهْرِهِنَّ
Artinya, “Harta adalah sesuatu yang dapat dimanfaatkan atau berpotensi untuk dimnfaatkan. Adakalanya harta itu berupa benda berwujud atau manfaat (nilai guna).”
Jika darah awal dan suci nya sudah melebihi 15 hari, dan darah tidak putus-putus, maka darah pertama dihukumi haid, dan darah yang kedua menggenapi suci 15 hari yang masih kurang. Jika masih ada sisa darah, maka darah tersebut dihukumi haid lagi. Sebagaimana keterangan yang dinuqil dalam kitab Al-Inba’ an Masail ad-Dima’.
فلو رأت في زمن إمكان الحيض قدره ولم يعبر أكثره فله حيض وإن اختلفت الدماء، إلا أن يكون عليها بقية طهر بأن رأت دماً يوماً وليلة فأكثر لكن دون خمسة عشر، ثم نقاء دون خمسة عشر، لكن لو جمع مع الدم قبله كان المجموع خمسة عشر يوماً فأكثر، ثم دماً بحيث لو جمع مع النقاء قبله كان المجموع خمسة عشر يوماً فأقل: فالدم الأول حيض لوقوعه في زمن إمكان الحيض، والثاني دم فساد لأنه لم يتقدمه أقل الطهر بل هو يكمله. فإن استمر الدم الثاني حتى لو جمع مع النقاء قبله زاد على خمسة عشر يوماً، فالزائد عليها حيض بشروطه ما لم يعبر أكثره، وإلا فهي مستحاضة معتادة – بناءً على الأصح بأن العادة تثبت بمرة – وتعتبر هذه الاستحاضة من الزائد عليها.
Contoh: Jika ada seorang wanita mengeluarkan darah selama 10 hari lalu kemudian darahnya berhenti selama 10 hari, kemudian keluar lagi darah selama 5 hari. Maka 10 hari pertama dihukumi haid, suci sepuluh hari, dan 5 hari setelahnya dihukumi istihadhah, menyempurnakan sucinya menjadi 15 hari.
Contoh: Jika ada seorang wanita mengeluarkan darah selama 10 hari lalu kemudian darahnya berhenti selama 10 hari, kemudian keluar lagi darah selama 10 hari. Maka 10 hari pertama dihukumi haid, suci sepuluh hari, dan 5 hari setelahnya dihukumi istihadhah, menyempurnakan sucinya menjadi 15 hari, dan 5 hari setelahnya dihukumi haid kedua.
Dua kasus di atas merupakan kasus istihadah yang umum terjadi di kalangan wanita, lebih-lebih wanita yang sudah bersuami. Sehingga sangat dianjurkan menjadi pengetahuan dasar yang harus diketahui. Wallahu a’lam.
Baca Juga: Darah Haid Berhenti di Waktu Ashar, Wajibkah Qodho’ Shalat Dzuhur?
Penulis: Umu Salamah, pengajar di Pesantren Raudhatul Ulum Pati
Editor: Sutan


















