Darah Haid Putus-Nyambung: Kapan Kita Dianggap Suci Menurut Fikih?

42

Pernahkah kita mengalami darah haid kita putus nyambung? Dan kita kira bahwa ketika tidak keluar darah, maka sudah benar-benar suci, lalu kita melakukan kewajiban-kewajiban selayaknya wanita suci, seperti shalat dan puasa. Ternyata, darahnya keluar lagi, sedangkan darah tersebut masih dalam ruang lingkup lima belas hari sehingga masih dikategorikan sebagai darah haid. Tidak sedikit wanita yang mengalami dilema seperti kasus di atas.

Banyak yang bertanya tentang status suci di tengah-tengah darah, atau bahkan sah tidaknya ibadah yang dia lakukan di waktu suci tersebut. Lalu bagaimana jawaban fiqih?

Makna Suci dalam Fikih Haid

Sebelum menjawab persoalan di atas, ada hal mendasar yang perlu dipahami yaitu definisi dari suci. Dalam khazanah ilmu mahidl, dikenal dua istilah: naqo’ dan fatroh. Naqo’ adalah bersihnya kemaluan dari darah, sekiranya ditempelkan kapas ke dalam kemaluan tersebut, sudah tidak ada warna darah, entah itu hitam, merah, pirang, atau kuning/ keruh menurut pendapat yang kuat. Sedangkan fatroh adalah keadaan di mana darah berhenti mengalir, namun masih menyisakan warna darah jika ditempelkan kapas ke dalam kemaluan. Ketika seorang wanita mengalami fatroh, maka ia masih dihukumi haid secara mutlak. Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Inba’ halaman 14.

الفترة هي: الحالة التي ينقطع فيها جريان الدم ويبقى لون وأثر بحيث لو أدخلت في فرجها قطنة يخرج عليها أثر الدم من حمرة أو صفرة أو كدرة، فهي في هذه الحالة حائض قولاً واحداً، طال ذلك أم قصر. والنقاء هو: أن يصير فرجها بحيث لو أدخلت القطنة فيه لخرجت بيضاء

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Al-Fatrah (masa jeda/terputusnya darah) adalah keadaan ketika aliran darah berhenti tetapi masih tersisa warna dan bekasnya, sehingga jika dimasukkan kapas ke dalam kemaluan (farji), kapas tersebut akan keluar membawa bekas darah, baik berupa warna merah, kuning, atau keruh. Maka dalam keadaan ini, perempuan tersebut dianggap sedang haid menurut pendapat yang disepakati (tanpa perbedaan), baik masa jeda tersebut panjang maupun pendek. Adapun an-Naqa’ (kesucian) adalah: keadaan kemaluannya menjadi sedemikian rupa sehingga jika kapas dimasukkan ke dalamnya, kapas tersebut akan keluar dalam keadaan putih (bersih, tidak ada bekas darah sama sekali).

Kapan Seseorang Dikatakan Suci Dari Haid?

Tanda bahwa seorang wanita sudah benar-benar suci dari haidnya adalah berhentinya darah maupun lendir kuning atau keruh, baik diiringi dengan munculnya cairan putih bersih ataupun tidak.  Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anhu disebutkan;

 كنَّ نساءٌ يبعثنَ إلى عائشةَ بالدَّرجةِ فيها الكُرسُفَ فيه الصُّفرةُ فتقولُ لا تعجلنَ حتّى ترينَ القصَّةَ البيضاءَ

Beberapa wanita datang menemui sayyidah Aisyah dengan membawa durjah (sesuatu yang digunakan oleh wanita untuk mengetahui masih ada atau tidaknya sisa-sisa darah haid) yang di dalamnya terdapat kapas dengan cairan berwarna kekuningan (shufrah), maka ‘Aisyah berkata: Janganlah kalian tergesa-gesa (untuk bersuci) hingga kalian melihat al-qashshatul baidha.”

Status Suci Di Sela-Sela Darah Hai

Jika seorang wanita mengeluarkan darah selama 5 hari, lalu darahnya benar-benar berhenti selama 2 hari, lalu keluar darah lagi selama 3 hari. Oleh karena keluarnya darah tersebut masih di dalam ruang lingkup lima belas hari, maka hari-hari di mana dia keluar darah dihukumi haid secara mutlak. 

Dan hari-hari dimana darahnya berhenti, ia wajib melakukan kewajiban-kewajiban sebagaimana orang yang suci tanpa ada perkhilafan pendapat. Maka begitu darahnya berhenti, ia wajib mandi janabah, sholat, puasa, dan boleh bagi suaminya untuk menyetubuhinya.

Yang menjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama adalah status suci di sela-sela haid tersebut. Apakah dikategorikan suci, atau haid?

Dalam permasalahan ini, terdapat dua konsep:

Menurut qoul sahb (adzhar) waktu di mana darah berhenti dikategorikan sebagai haid. Ini adalah pendapat yang adzhar. Sebagaimana keterangan dalam kitab Al-Ibanah wal Ifadhoh halaman 23.

اذا رأت الحائضُ يوماً دماً ويوماً نقاءً، أو ساعةً دماً وساعةً نقاءً، وهكذا، فلا خلاف في المذهب أن أيام الدم حيض، ولا خلاف أنها إذا رأت النقاء يجب عليها أن تغتسل وتصلي وتصوم، ويجوز للزوج وطؤها؛ لأن الظاهر بقاء الطهر وعدم معاودة الدم. واختلفوا في النقاء الذي يكون بين دمي الحيض، والطهر: أنه حيض بالشروط التالية

Menurut qoul Laqt, waktu di mana darah berhenti dikategorikan sebagai suci. Qoul ini berpijak, jika darah menunjukkan bahwa seorang wanita mengalami haid, maka naqo’ sudah sepantasnya mengindikasikan seorang wanita tersebut suci. Sebagaimana keterangan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj juz 1 halaman 350:

 والثاني: أنه طهر؛ لأنه إذا دلَّ الدم على الحيض وجب أن يدلَّ النقاء على الطهر، ويُسمَّى هذا: قول اللقط

Konsekuensi Khilaf

Jika bertendensi pada qoul sahb, maka sholat, puasa, dan ibadah yang lain yang dilakukan seorang wanita di masa suci tersebut dianggap tidak sah, dan wajib baginya mengqodho’ puasa wajib yang dilakukan di masa itu. Namun jika ia terlanjur berhubungan badan dengan suaminya, ia tidak berdosa.

Sedangkan jika bertendensi pada qoul laqt, maka sholat, puasa, dan ibadah yang lain yang dilakukan seorang wanita di masa suci tersebut dianggap sah, dan tidak wajib baginya mengqodho’ puasa wajib yang dilakukan di masa itu.

Namun ulama sepakat bahwa suci disela-sela darah haid tidak dianggap dalam kasus selesainya iddah seseorang. Sebagaimana keterangan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj juz 1 halaman 350;

 وعلى القولين في الصلاة والصوم ونحوهما، فلا يُجعل النقاء طهراً في انقضاء العدة

Apakah Qoul Laqt Boleh Digunakan Sebagai Rujukan?

Jika status qoul sahb adalah adzhar, maka status qoul laqt adalah zohir (pembanding qoul adzhar). Qoul adzhar merujuk pada pendapat-pendapat Imam Syafii yang perkhilafannya dianggap kuat karena kekuatan dalil masing-masing. Qoul zohir ini bisa digunakan sebagai tendensi sebagaimana keterangan dalam kitab Kanzu ar-Raghibin

Maka, jika mengikuti qoul laqt, dihukumi sah puasa dan sholatnya wanita, yang dilakukan di masa-masa darahnya berhenti. Namun untuk keabsahan puasa, disyaratkan darah tidak keluar lagi dalam rentan waktu terbitnya fajar sampai maghrib. Wallahu a’lam.


Refrensi:

Al-Ibanah wa Al-Ifadhoh,

Sayyid Abdur Rahman Ibn Abdillah As-Saqqof Al-Inba’

Mu’adz Ibn Fadhil Kanzu ar-Roghibin

Jalalluddin Muhammad al-Mahally Nihayah al-Muhtaj

Syihabuddin Al-Ramly


Penulis: Umu Salamah, Alumni PP Al-Anwar Sarang

Editor: Sutan