
Arus informasi yang semakin deras dan bisingnya hiruk pikuk media sosial, profesi jurnalis seolah berada di dua dunia yang kontras, antara keharusan bersikap kritis dan kewajiban menjaga etika. Dunia Jurnalisme kini bukan lagi hanya milik redaksi besar saja, tetapi siapapun yang dapat menulis di media online bisa saja mengkalaim bahwa dirinya sebagai ‘penyampai kebenaran’. Tantangan besar itu mucul, bagaimana menjadi jurnalis yang berani dalam menggali fakta yang aktual tanpa kehilangan rasa tanggung jawab dan tetap beretika.
Seorang jurnalis diharuskan mampu membaca realitas dengan tajam, memunculkan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak adil, menghadirkan suara bagi mereka yang tidak di dengar karena Kritisme adalah Ruh Jurnalisme. Sehingga tidak hanya menjadi lorong kekuasaan atau sekedar menyalin pernyataan dari narasumber. Dalam konteks ini, jurnalis sejati adalah mereka yang berdiri tegak memastikan bahwa kebenaran tidak dikubur oleh narasi-narasi yang menyesatkan.
Baca Juga: Refleksi Seorang Jurnalis
Seperti yang tertulis dalam Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers bahwa etika jurnalistik menekankan empat hal utama yakni keakuratan, keberimbangan, tidak beritikad buruk dan menghormati privasi. Dalam UU Pers No. 40 Tahun 1999 menegaskan bahwa kebebasan pers tidak lepas dari tanggung jawan soial. Ini berarti bahwa seorang jurnalis harus mampu menimbang dampak dari setiap kata yang ia tulis sebagai informasi yang akan di terima oleh masyarakat melalui media massa. Apakah tulisannya mencerahkan publik? Atau malah menggiring opini dan stigma negatif? Atau justru memicu kebencian dan disinformasi?
Berikut beberapa tips agar seorang jurnalis bisa tetap kritis tanpa kehilangan etika:
- Mampu memisahkan fakta dan opini
Fakta adalah dasar dari kepercayaan publik, sedangkan opini adalah interpretasi. Seorang jurnalis mampu membedakan mana informasi yang aktual dan mana yang hanya pendapat pribadi agar pembaca tidak kehilangan arah dan media juga tidak kehilangan integritas dalam memberikan infromasi. disinilah profesionalitas jurnalis diuji apakah mampu menulis dengan netral tanpa interpretasi pribadi.
- Kuasai data dan konteks sosial
Karena dunia saat ini banyak beredar informasi hoaks maka seorang jurnalis harus kuat dalam riset dan verifikasi. Tanpa adanya kemampuan menganalisis data yang baik maka seorang jurnalis bisa terjebak pada narasi yang salah. Selain adanya data, konteks sosial juga penting untuk di pelajari. Karena ketika kritikan tidak memahami budaya dan etika, sejarah dan dinamika masyarakat maka bisa berujung kesalahpahaman. Data dan kontesk sosial ini lah yang menjadi fondasi utama yang menentukan apakah informasi ini berkualitas atau tidak
Baca Juga: Jurnalisme Instan dan Menurunnya Minat Baca
- Gunakanlah bahasa yang beradab dan edukatif
Senjata utama bagi jurnalis adalah gaya bahasa. Maka dari itu penggunaan bahasa harus diarahkann untuk mendidik dan memilih diksi yang tajam namun tetap santun, dan tidak menghina pihak manapun. Bahasa juga bukan hanya sarana menyampaikan informasi tetapi juga jembatan membentuk persepsi publik. Adanya pemilihan kata yang digunakan dapat menentukan apakh berita itu akan mencerdasakan atau justru menyesatkan dan tidak bermanfaat apalagi malah memprovokasi masyarakat. Hal ini lah yang akan menunjukkan sisi kepribadian dari seorang jurnalis.
- Refleksi diri; kritis pada diri sendiri
Seorang jurnalis yang kritis terhadap diriya maka akan selalu bersikap terbuka terhadap umpan balik dari redaktur, pembaca, atau bahkan pihak yang dikritiknya sebab dapat memahami bahwa tujuan dari jurnalisme adalah mencari kebenaran bukan hanya memperdebatkan ego semata. Maka jurnalis seperti ini yang akan terus belajar, memerbanyak wawasaan, memperbarui pengetahuan dan menyempurnakan empatimya ketika beerhadapan dengan isu-isu sosial.
Baca Juga: Suka Duka Berprofesi Jurnalis
Menjadi jurnalis yang kritis namun tetap beretika bukanlah pekerjaan yang mudah. Selalu berhubungan dengan kecerdasaan intelektual, kedewasaan moral, dan kesabaran apalagi ditengah derasnya arus media sosial yang seringkali hanya mengejar popularitas semata dan sensasi. Kritik tanpa etika adalah kekeliruan yang berujung kekacauan. Tetapi etika tanpa kritik adalah kepalsuan yang dibungkam. Maka keseimvangan antara keduanya adalah pilihan jalan tengah yang tepat. Dengan terwujudnya jurnalis yang profesional dalam menjalankan tugasnya maka jurnalis bukan hanya sang pemburu berita tetapi juga dengan etika mampu menjaga nurani bangsa.
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary


















