
Pagi itu, embun masih menempel di dedaunan halaman pesantren. Udara dingin khas pedesaan menembus sela-sela bilik kayu kamar santri. Di antara banyak santri yang mulai sibuk menyiapkan diri ke masjid untuk salat Subuh berjamaah, ada seorang santri bernama Sultan. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kulitnya legam terbakar matahari, namun wajahnya selalu tampak tenang dan bersih.
Sultan bukan santri yang menonjol dalam berbicara. Ia jarang ikut bercanda terlalu lama, jarang juga terlihat ramai di warung dekat pesantren. Hidupnya sederhana dan irit. Uangnya pas-pasan, bukan karena pelit, tapi karena memang kiriman dari orang tuanya terbatas. Ia berasal dari keluarga petani kecil di pelosok desa, dua jam perjalanan dari pesantren itu.
Setiap dua bulan sekali, ayahnya datang dengan sepeda motor tua yang suaranya keras. Datangnya selalu membawa bekal sederhana, sebungkus nasi jagung, beberapa pisang, dan uang saku seadanya.
“Maaf, Le, Bapak belum bisa ngasih banyak. Panen belum waktunya,” kata sang ayah dengan nada lirih. Sultan hanya tersenyum.
“Ndak apa-apa, Pak. Doain saja Sultan bisa terus ngaji dan jadi orang bermanfaat.”
Setiap kali ayahnya pulang, Sultan akan berdiri lama di gerbang pesantren, menatap punggung sang ayah yang semakin kecil di kejauhan. Tidak ada air mata yang jatuh, hanya rasa haru dan semangat baru yang tumbuh.
****
Hari-harinya di pesantren dijalani dengan tirakat. Ia sering berpuasa Senin-Kamis, kadang juga memilih tidak makan malam ketika merasa cukup kenyang dengan ilmu. Teman-temannya tahu Sultan jarang jajan di warung, bukan karena dilarang, tapi karena uangnya memang disimpan untuk hal-hal penting.
“Lho, Tan, kamu kok nggak beli bakso, sih? Ini enak banget,” kata Fadli, teman sekamarnya, sambil menyodorkan mangkuk.
Sultan hanya tersenyum, “Aku sudah kenyang, Dik. Tadi sore makan nasi jagung sisa kiriman Bapak.”
Fadli menatapnya iba, tapi Sultan tampak bahagia. Ia tidak pernah merasa kekurangan. Dalam pikirannya, kebahagiaan bukan soal makanan yang lezat atau pakaian baru, melainkan hati yang lapang.
****
Di pesantren itu, Sultan dikenal rajin. Seusai salat Subuh, ia tidak langsung tidur seperti santri lain. Ia duduk di serambi masjid, membaca kitab kuning tipis peninggalan kakak kelasnya yang sudah lulus. Sementara yang lain masih menguap, Sultan sudah menulis catatan kecil berisi makna kitab.
Bunyai, istri kiai, sering memperhatikan anak itu dari balik jendela ndalem. “Anak itu, Sultan, ya?” tanyanya suatu pagi kepada kiai.
“Iya, Bu. Saya juga sering lihat dia bantu bersih-bersih masjid tanpa disuruh.”
“Matanya tampak teduh sekali.”
Sejak itu, Sultan sering diminta membantu di ndalem. Kadang menyapu halaman, kadang mengantar air untuk tamu, kadang membantu kiai menyiapkan kitab. Tidak ada keluhan sedikit pun dari bibirnya.
Suatu sore, ketika kiai hendak menulis pengajian untuk kitab Ihya’ Ulumuddin, Sultan datang membawa segelas teh hangat.
“Terima kasih, Nak Sultan. Kamu rajin sekali. Tidak capek?”
Sultan tersenyum, “Capeknya kecil, Kiai. Nikmatnya besar. Bisa bantu njenengan saja sudah jadi keberkahan.”
Kiai hanya mengangguk, hatinya bergetar. Ia tahu anak itu bukan santri biasa.
****
Hari-hari berjalan. Di pesantren, setiap malam Jumat, ada pengajian umum. Setelah pengajian, para santri biasanya berkumpul di kamar masing-masing, membuka kiriman orang tua: roti, susu, atau makanan ringan. Suasana selalu ramai, tawa terdengar di mana-mana.
Namun di pojok kamar, Sultan duduk sendirian, membuka bungkusan kecil berisi beberapa potong pisang kering. Ia mengunyah perlahan, sambil mendengarkan suara riuh teman-temannya. Tidak ada iri di wajahnya, tidak juga sedih. Ia justru merasa damai.
Dalam hatinya, ia berbisik, “Ya Allah, cukupkan aku dengan apa yang aku miliki. Jadikan aku santri yang ikhlas.”
Fadli yang melihatnya kadang merasa tidak enak. Pernah suatu kali ia menyelipkan makanan ke arah Sultan.
“Ini buat kamu, Tan. Dari kiriman ibu. Banyak banget, kok.”
Sultan menolak halus, “Terima kasih, Fad. Tapi kamu makan saja. Aku sudah cukup. Insya Allah berkah.”
Sikapnya itu membuat teman-temannya kagum. Ia menjadi contoh tanpa perlu banyak bicara.
Sultan juga dikenal tekun beribadah. Setiap waktu salat, ia selalu datang paling awal. Ketika adzan berkumandang, langkahnya ringan menuju masjid. Malam-malamnya diisi dengan membaca Al-Qur’an di bawah lampu redup. Suara bacaannya pelan, tapi jelas dan khusyuk.
Suatu malam, Bunyai mendapati Sultan tertidur di serambi ndalem, kepalanya bersandar di tumpukan kitab. Ia baru selesai membantu memindahkan galon air.
“Kasihan, anak ini,” gumam Bunyai sambil menyelimuti tubuhnya dengan sarung.
Kiai yang mendengar cerita itu hanya tersenyum. “Orang seperti Sultan, kelak hidupnya akan dijaga Allah. Kesungguhannya itu tirakat yang tidak semua orang sanggup jalani.”
****
Waktu berjalan cepat. Musim liburan tiba. Satu per satu santri dijemput keluarganya. Suara tawa dan pelukan memenuhi halaman pesantren. Namun Sultan hanya berdiri di bawah pohon mangga, memandangi jalanan sepi.
Ia tahu, ayahnya tidak bisa datang hari itu. “Bapak lagi nanam padi,” begitu pesan singkat yang dikirim lewat tetangga. Sultan tidak kecewa. Ia memilih tinggal di pesantren, menjaga kebersihan masjid selama liburan.
Suatu sore, kiai memanggilnya ke ndalem.
“Nak Sultan, kamu tidak pulang?”
“Belum, Kiai. Bapak masih di sawah. Saya jaga pesantren saja, biar nggak sepi.”
Kiai tersenyum bangga. “Mulai besok, bantu saya di ndalem, ya. Ada banyak kitab yang harus saya sortir.”
“Iya, Kiai. Dengan senang hati.”
Sejak hari itu, Sultan menjadi santri kepercayaan. Ia diberi amanah mengurus beberapa urusan pesantren. Dari mengatur jadwal kebersihan, menjaga tamu, hingga menyalin catatan pengajian kiai.
****
Beberapa tahun kemudian, Sultan tumbuh menjadi santri yang matang. Kiai sering memintanya mengisi pengajian kecil untuk santri baru. Ketika ia berbicara, suaranya lembut namun tegas.
“Saya dulu juga seperti kalian,” katanya suatu malam di hadapan para santri. “Kadang lapar, kadang ingin pulang. Tapi saya belajar satu hal di pesantren ini, bahwa orang yang sabar dan ikhlas, insya Allah akan diangkat derajatnya.”
Para santri mendengarkan dengan mata berbinar. Mereka tahu, nasihat itu bukan sekadar kata, tapi lahir dari pengalaman hidup yang tulus.
Kiai yang mendengarkan dari jauh hanya tersenyum haru. Ia tahu, tirakat yang dijalani Sultan selama bertahun-tahun bukan sia-sia.
Suatu pagi, kabar datang dari desa: ayah Sultan sakit. Ia izin pulang untuk menengok. Ketika pamit kepada kiai, sang kiai berkata lembut,
“Nak Sultan, jangan khawatir. Allah bersama orang-orang yang berbakti. Doamu selama ini akan jadi penolong.”
Sultan menunduk hormat. “Terima kasih, Kiai. Semua kebaikan yang saya lakukan, saya pelajari dari njenengan.”
Beberapa hari kemudian, Sultan kembali ke pesantren. Wajahnya tetap teduh. Ayahnya sudah membaik, dan kini sering menitipkan pesan untuk kiai. Sejak itu, Sultan makin tekun, makin rendah hati.
Hidupnya tetap sederhana, tapi hati dan jiwanya luas seperti langit di atas pesantren. Ia tidak pernah iri, tidak pernah mengeluh. Ia hanya terus berjalan, beribadah, dan berbakti.
Dan setiap kali subuh tiba, di antara suara ngaji yang menggema di langgar kecil itu, ada suara lembut Sultan membaca doa,
“Ya Allah, jadikan aku santri yang berguna bagi ilmu, guru, dan sesama.” Karena ia tahu, tirakat, kesederhanaan, dan keikhlasan adalah jalan menuju kemuliaan sejati.
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary


















