
Tebuireng.online- Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) MWCNU Diwek menggelar acara bedah buku berjudul “Nyantri, Kapanpun Dimanapun Tetap Santri”, karya M. Rudi Cahyono, S.Sos., M.I.Kom., pada Sabtu, 19 Oktober 2025 di SMK Plus Khoiriyah Hasyim Diwek.
Acara yang dihadiri sekitar 50 undangan dari berbagai pesantren dan sekolah tingkat SLTA se-Kecamatan Diwek ini menjadi ajang refleksi nilai-nilai kepesantrenan di tengah arus modernisasi pendidikan. Selain penulis buku, hadir pula narasumber dan pembanding dari kalangan akademisi dan praktisi, antara lain Mukani, M.Pd.I., dari PWNU Jawa Timur dan Muhammad Fauzan, S.Pd.I.
Hari Prasetya, ketua panitia acara, menjelaskan bahwa, “Media-media online yang sering memberitakan kegiatan LTN, seperti Suluk.id, kebetulan dikelola oleh Pak Rudi, penulis buku ini. Beliau juga dosen di Universitas Islam Tribakti Lirboyo dan asisten dosen di UIN Tulungagung. Ketika bukunya rilis, kami merasa ini momen yang tepat untuk diangkat dalam HSN tahun ini,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemilihan lokasi di SMK Khoiriyah Hasyim karena tempat tersebut telah memiliki fasilitas lengkap, mendukung kegiatan literasi digital, dan sering bekerja sama dalam pembuatan konten podcast maupun siaran langsung.
Dalam sambutannya, Feri Afandi selaku Kepala SMK Khoiriyah Hasyim, menyatakan pentingnya peningkatan literasi di Indonesia. “Literasi kita masih cukup rendah. Kegiatan seperti ini menjadi upaya nyata dalam mendorong minat baca dan tulis, serta literasi digital di kalangan pelajar,” ujarnya.
Sementara itu, Ridwan, sekretaris MWCNU Diwek yang mewakili ketua, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HSN di wilayahnya. “Setelah ini, akan ada Kirab Santri pada 22 Oktober yang dimulai dari kantor MWCNU Diwek dan berakhir di Tebuireng. Kemudian, pengajian umum akan digelar pada 24 Oktober di Dusun Gendong, Desa Watugaluh,” terangnya.
Pembacaan doa disampaikan oleh Ustadz Royhan Sugondo yang juga merupakan Syuriyah MWCNU Sumobito. Ustaz Royhan sempat menyampaikan bahwa acara ini menjadi inspirasi tersendiri bagi dirinya dalam memperkuat semangat dakwah dan literasi Islam.
Diskusi bedah buku berlangsung selama hampir satu jam. Penulis, M. Rudi Cahyono yang masih berusia 27 tahun, memaparkan gagasannya tentang bagaimana nilai-nilai kepesantrenan tidak lekang oleh waktu dan tempat. Dua pembanding yang hadir memberikan pandangan yang memperkaya diskusi, sehingga suasana forum menjadi hidup dan interaktif.
LTN MWCNU Diwek melalui kegiatan ini berharap nilai-nilai pesantren tetap relevan dan dikenal luas oleh generasi muda. “Kami berprinsip membangun generasi yang mencintai literasi. Saat ini, LTN NU Diwek telah aktif bekerja sama dengan 5–10 media online untuk terus menyuarakan nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan,” tutup Hari Prasetya.
Pewarta: Albi
Editor: Muh. Sutan


















