Rupanya Kita Sudah Merdeka, Bu

gambar: www.google.com

Oleh: Rara Zarary*

Perempuan yang kusebut ibu itu, menatap lelah pojok gubuk kami yang baru saja digusur.

Aku mengelus dada. Aku melatih bibirku tersenyum. Aku melangkah menuju tempat ibuku duduk. Tidak ada percakapan, kecuali pandangan kosong tanpa kedipan.

Ibu ingin bicara, tanpa tahu dari mana. Aku ingin mengajaknya tertawa, tak ingin peduli pada pedih yang harusnya tak pernah lagi dirasa.

Sedang tetangga sebelah, kain hingga kertas merah putih berkibar, mengayun tanpa peduli tanya, “ada apa ini?”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Semua manusia sibuk. Ke sana ke mari. Ada yang membawa tumpeng, jus, buah, hingga kertas-kertas kosong.

Hanya gapura kampungku yang memberi tahu lewat huruf-huruf, yang kubaca pun masih terbata-bata.

Bu,
SELAMAT ULANG TAHUN KE-74 REPUBLIK INDONESIA
Kedua lapis bibirku bergetar. Air mata hangat mendekam. “Rupanya Kita Sudah Merdeka, Bu.”
Suara parauku memecah ketulian ibu.

*Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep Madura.

🤔  Tragedi Bendera